SEASON OF THE WITCH (2011)

Tidak ada komentar

Nicolas Cage seperti sedang kejar setoran akhir-akhir ini. Film yang dirilis Januari 2011 ini adalah film kelima Cage dalam 3 tahun terakhir (itu masih belum menghitung "G-Force" dan "Astro Boy" dimana dia jadi pengisi suara). Bahkan untuk tahun 2011 ini selain "Season of the Witch" rencananya Cage masih akan merilis 3 film lagi yang salah satunya, "Drive Angry" sudah rilis dan menjadi Box Office Bomb karena merugi sangat besar padahal dirilis dalam format 3D.  Apa ini pertanda orang sudah mulai bosan dengannya? Kekurangan Cage sebenarnya adalah dia kurang memilah-milah film mana yang seharusnya dia mainkan dan mana yang tidak. Dia seperti terlihat menerima semua tawaran main. Film-filmnya seperti "Knowing", "Kick Ass" atau "Bad Lieutenant: Port of Call New Orleans" memang bagus, bahkan aktingnya di "Bad Lieutenant" termasuk sangat baik. Tapi filmnya yang kurang macam "The Sorcerer's Apprentice" dan "Bangkok Dangerous" juga banyak. Pertanyaannya masuk golongan manakah "Season of the Witch" ini?

Behmen (Nicolas Cage) dan Felson (Ron Perlman) adalah 2 ksatria perang salib yang namanya dikenal luas karena ketangguhan mereka dalam berperang. Mereka setia mengabdi pada Tuhan  melalui peperangan sampai suatu hari mereka berdua menyadari bahwa peperangan itu juga merenggut nyawa orang-orang tak berodsa termasuk wanita dan anak-anak. Hal itulah yang membuat mereka pergi meninggalkan pasukannya dan berhenti melayani gereja. Keduanya akhirnya sampai di sebuah kota yang sedang terkena sebuah wabah penyakit aneh yang ternyata menyerang hampir semua dataran Eropa. Dikota itulah terdapat seorang wanita yang dianggap sebagai penyihir yang menyebarkan wabah itu (Claire Foy).


Saat itulah Behmen dan Felson dimintai bantuan oleh pihak gereja untuk membawa gadis yang dituduh sebagai penyihir itu ke sebuah biara yang letaknya makan waktu 6 hari perjalanan dan menempuh medan yang berbahaya. Untuk itu, mereka memnita bantuan Hagamar (Stephen Graham) seorang pedagang yang sering melewati medan itu. Dalam perjalanan ikut juga Pendeta Debelzaq (Stephen Campbell Moore), Eckhardt (Ulrich Thomsen) seorang ksatria yang keluarganya beru meninggal karena wabah, dan Kay (Robert Sheehan) anak muda yang berkeinginan menjadi ksatria.Dalam perjalanan itu mereka tidak hanya menghadapi medan yang berat tapi juga perselisihan internal dimana kebenaran bahwa gadis itu adalah penyihir atau bukan masihlah misterius.

Anggapan saya bahwa Nic Cage sedang kejar setoran sepertinya tepat. Terlihat sekali dari akting yang dia mainkan. Aktingnya sebagai ksatria disini nyaris tidak ada bedanya dibandingkan dengan saat menjadi penyihir ataupun ilmuwan. Aktor lain juga sama saja, meskipun Ron Perlman cukup menghibur aktingnya, tapi akibat dialog yang terlalu cheesy dan kurang menggambarkan jaman pertengahan seghingga feel yang harusnya ada kurang terbangun. Untung kostum yang ada bisa dibilang sesuai dan bagus sehingga tidak terlalu dalam jatuhnya film ini. Sedangkan untuk Claire Foy sang gadis penyihir dia memang tidak mendapat kesempatan berakting banyak. Tapi tugasnya untuk menjadi gadis misterius berhasil dijalankan dengan baik. Muka polos dan terkadang terlihat licik mampu dia perlihatkan.

Kekurangan lain ada pada adegan aksi yang porsinya terasa minim. Untungnya tetap ada beberapa adegan yang bisa membuat saya terpaku pada layar. Plot yang ada juga terasa predictable. Siapa saja yang akan berhasil survive sudah sangat tertebak. Hal itu diperburuk dengan efek visual yang terasa ala kadarnya. Padahal dengan bujet sekitar $40 juta seharusnya film ini punya efek yang lebih baik khususnya untuk sang iblis. Film ini terasa tidak jauh beda dengan "Solomon Kane" yang bujetnya lebih kecil. Bahkan sosok iblis disana lebih seram karena ukurannya yang lebih besar. Sedangkan disini sang iblis digambarkan tidak terlalu mengerikan.


OVERALL: Kekurangan memang terjadi dimana-mana. Tapi film ini tidaklah seburuk yang dibilang banyak orang bagi saya. Masih terdapat adegan-adegan menghibur disini.

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar