CATATAN HARIAN SI BOY (2011)

2 komentar

Sebelum ini tercatat sudah 2 tokoh legenda film Indonesia yang dibuatkan film lagi setelah sekian lama absen. Yang pertama adalah Nagabonar dalam "Nagabonar Jadi 2" yang secara kualitas sangat pantas dibanggakan dimana Deddy Mizwar kembali menjadi Nagabonar. Sedangkan yang satu adalah Kabayan lewat "Kabayan Jadi Milyuner" dimana Kabayan tidak lagi diperankan oleh Didi Petet melainkan Jamie Aditya dan sayangnya film ini berkualitas kacrut. Kali ini satu lagi legenda film dikembalikan ke layar lebar, yaitu Boy. Saya sendiri bukan orang yang hidup di jaman Si Boy meraih jaman keemasan. Saat "Catatan Si Boy" memasuki film kelima saya bahkan belum lahir. Tapi saya tetap mengenal namanya yang melegenda karena dianggap sebagai perlambang anak muda idaman saat itu. Saya sendiri sempat menyaksikan 1 atau 2 filmnya walaupun secara cerita sudah agak lupa. Dan setelah 20 tahun absen, sutradra Putrama Tuta membuat film yang bisa dibilang regenerasi dan bukan remake atau reboot dari "Catatan Si Boy".

Film sudah dibuka dengan sebuah adegan balap mobil yang cukup seru dan tidak norak layaknya adegan kebut-kebutan mobil di mayoritas film lokal. Balapan tersebut melibatkan Satrio (Ario Bayu) yang sudah sering keluar masuk penjara akibat balapan tersebut, dan malam itu lagi-lagi dia tertangkap polisi. Disana Satrio bisa langusng bebas karena teman-temannya menebusnya (lagi). Satrio memang punya sahabat-sahabat baik macam Andi (Abimana), Nina (Poppy Sovia) dan Herry (Albert Halim). Mereka semua termasuk Satrio bekerja di bengkel mobil milik Nina. Di kantor polisi itu juga Satrio bertemu dengan gadis bernama Natasha (Carissa Puteri) yang baru pulang dari London.

Natasha baru saja mengalami nasib sial bersama pacarnya, Nico (Paul Foster). Di tengah jalan mobil yang mereka naiki dicegat beberapa orang tidak dikenal yang lalu memukuli Nico dan membawa lari mobil beserta tas dan segala barang Natasha didalamnya. Disaat Nico sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi, akhirnya Satrio dan teman-temannya mengantarkan Natasha pulang. Mulai saat itulah Satrio mulai tertarik pada Natasha. Ketertarikan itulah yang membawanya untuk membantu Natasha mencari seorang bernama Boy yang dahulu adalah merupakan kekasih ibunda Natasha, Nuke yang sekarang sedang koma di rumah sakit. Selama keadaan koma, Nuke selalu memegang buku harian milik Boy. Hal itulah yang membuat Natasha yakin dengan membawa Boy kepada sang ibu ada kemungkinan keadaannya membaik. Satrio juga mendapat tantangan dari Nico yang tidak terima kekasihnya dia dekati. Bahkan konflik itu sampai menjalar kepada persahabatan Satrio.
Jujur saja plot dan cerita film ini masuk kategori yang lumayan standar. Tidak kacangan tapi cukup mudah ditebak. Tapi arahan dari Putrama Tuta dan akting yang bagus dari para pemainnya membuat "Catatan Harian Si Boy" ini jauh dari kesan klise dan membosankan. Film ini bisa dikatakan adalah gambaran sempurna kehidupan anak muda khususnya anak muda Jakarta jaman sekarang. Walaupun begitu, bagi saya yang bukan termasuk golongan tersebut dan kehidupan saya tidak 100% terwakili oleh film ini tetap saja masih ada beberapa unsur yang memang menggambarkan kehidupan anak muda secara umumnya. Hal itulah yang membuat film ini boleh dikatakan berhasil melanjutkan semangat film-film "Catatan Si Boy" yang dulu.

Karakter-karakter dalam film ini juga sangatlah menarik dan jika diperhatikan, komposisi dan karakterisasi mereka kurang lebih sama dengan tokoh-tokoh dalam film "Catatan Si Boy" yang dulu. Satrio sebagai tokoh utama tentu menjadi perlambang seorang Boy yang merupakan sosok pria yang bisa dibilang idaman setiap wanita. Yang saya ingat dari beberapa film CSB yang sempat saya tonton, Boy adalah sosok yang nyaris sempurna. Jika diibaratkan superhero, Boy adalah Superman. Tampan, kaya, cerdas, baik hati dan tentunya rajin Solat. Satrio juga kurang lebih sama, tapi dia tampak lebih membumi. Dia orang kaya tapi tidak mau menikmati kekayaan yang hasil korupsi tersebut. Satrio juga rajin Solat tapi di film ini itu tidak diumbar sebanyak si Boy dulu. Hal yang tepat untuk dilakukan. Bukannya saya menganggap sosok karakter yang Soalt itu tidak gaul tapi untuk merebut hati anak muda jaman sekarang sepertinya tidak tepat lagi menggambarkan hal tersebut dengan sangat gamblang kalau tidak mau dicap film religi.

Ada dua tokoh yang saya sangat sukaidi film ini, yaitu Andi dan Herry. Sosok Herry yang diperankan Albert Halim adalah spesial bagi saya, karena biasanya melihat sosok seorang banci di film rasanya sangat annoying dan membuat saya ingin menghajar tokoh tersebut. Tapi seorang Herry mampu mengangkat martabat (halah!) seorang cowok gemulai di layar lebar. Dia bukanlah sosok yang menyebalkan, tapi lucu, menghibur dan setiap kemunculannya sanggup menyajikan kelucuan yang tidak garing. Tapi tokoh terbaik di film ini jelas seorang Andi. gayanya yang sok cool, super pede dan lontaran celetukan lucu dan seringkali kotor sangat-sangat menghibur. Diperankan oleh Abimana  (dulu dikenal dengan nama Robertino) sosok Andi sangat-sangat menghibur dengan celetukan konyol dan tingkah polahnya yang juga lucu walaupun dibalik itu semua dia terkadang mengatakan hal yang tepat dengan caranya sendiri.

Jika diibaratkan lomba lari, film ini adalah saat dimana Boy menyerahkan tongkat estafet kepada Satrio. Dan setelah ini giliran Satrio dan teman-temannya yang melanjutkan perjuangan Boy dan mewakili generasi muda saat ini. Sekarang tinggal bagaimana seorang Putrama Tuta membuat lanjutan perjalanan Satri dan teman-temannya (kalau ada) tanpa membawa embel-embel Boy karena sekarang sudah waktunya Boy dan rekan-rekannya beristirahat dan menyaksikan regenerasi ini berlanjut. Tapi jika dilihat dari film ini saya yakin tanpa embel-embel nama Boy sekalipun, Putrama Tuta masih akan mampu membawa perjalanan anak-anak muda ini dengan arah yang baik kedepannya nanti.


OVERALL: Cerita film ini memang standar, tapi "Catatan Harian Si Boy" adalah sebuah hiburan yang sangatlah keren dan menarik. Dan jangan lupajuga scoring yang sangat mewakilik keseluruhan film


RATING:

2 komentar :

  1. Wah, malah saya kurang suka dengan film ini. Dengan pilihan fokus masalah dalam cerita di film ini, menurut saya film ini kok terkesan salah judul ya.. Terus bnyak bagian2 dari film ini yg saya rasa janggal. :(

    Terlepas dari semua itu, saya suka film ini dengan naskahnya. Banyak dialog2 yg menurut saya itu sangat memorable sekali. Lucu sekaligus dalem gimana gitu. hehe.

    BalasHapus
  2. film nya bagus nih, gue suka banget. gw kira filmnya gitu aja ternyata memukau banget. apalagi Poppy Sovia yang buat gw bersinar banget disini, gw sma sekali ga merasa kebosenan.

    Apalagi 30 menit terakir, keren abis.

    BalasHapus