JERMAL (2009)

Tidak ada komentar
Film ini menceritakan tentang kehidupan yang terjadi di Jermal. Bagi yang belum tahu, Jermal adalah sebuah tempat untuk menjaring ikan yang dibuat dari kayu-kayu dan berada di tengah laut. Di Jermal juga banyak terdapat anak-anak dibawah umur yang dipekerjakan. Film yang disutradarai oleh Ravi Bharwani, Rayya Makarim dan Utawa Tresno ini juga mengisahkan tentang kehidupan orang yang hidup dan sehari-harinya berada di Jermal. Tapi tidak hanya itu, film ini juga mengisahkan hubungan antara ayah dan anak yang terpisah lama dan kurang harmonis.

Jaya (Iqbal Manurung) yang ibunya baru saja meninggal pergi menuju jermal untuk menemui sang ayah, Johar (Didi Petet) yang sudah 12 tahun tidak pernah pulang karena sedang bersembunyi atas tindakan kriminal yang dulu pernah dia lakukan. Tapi sesampainya disana Jaya malah mendapati hal-hal yang tidak menyenangkan. Sang ayah merasa tidak mau mengakuinya dan hubungan mereka sangatlah canggung bahkan cenderung kearah permusuhan. Selain itu Jaya juga mendapat perlakuan yang tidak pantas alis di-bully oleh anak-anak yang tinggal di jermal. Tapi lama kelamaan Jaya mulai bisa beradaptasi dan berusaha mengetahui masa lalu apa yang disembunyikan sang ayah. Johar sendiri mulai mencoba menerima keberadaan Jaya walaupun itu tidak mudah baginya dan Jaya.
Jermal terasa sebagai sebuah film yang spesial. Film yang masuk kategori bagus di Indonesia sudah banyak, tapi film dengan gaya penceritaan yang unik dan berbeda layaknya film ini sangatlah jarang. Nuansa kesepian para karakter benar-benar tersampaikan lewat penyampaian film ini yang terasa begitu sunyi. iringan musik yang minimalis serta dialog yang lebih minim lagi serta temponya yang memang lambat jadi faktor utamanya. Apalagi film ini hanya ber-setting di sebuah jermal yang berada di tengah lautan, dengan kata lain hanya satu lokasi sempit itu sajalah yang akan kita saksikan di film ini selain hamparan lautan.

Nuansa film-film eropa atau film-film festival sangat saya rasakan disini dimana gestur-gestur kecil sampai besar dari tokoh-tokohnya sampai gambar-gambar tertentu yang berbicara dibandingkan dialog dari para tokohnya. Keunikan yang positif tersebut makin diperbagus dengan akting yang baik dari Didi Petet dan Iqbal Manurung. Untuk Iqbal sungguh mengejutkan bocah ini mampu menampilkan akting alami. Tidak ada kesan berlebihan atau kurang ekspresif, semuanya pas dan menimbulkan kesan penderitaan tersendiri yang dia rasakan.

Untuk Didi Petet memang sudah tidak perlu diragukan dimana aktor senior ini bisa menyatu dengan baik walaupun saya agak terganggu dengan bagaimana cara dia menghisap rokoknya yang agak terlihat maksa. Entah itu kebiasaan atau memang faktor dia bukan perokok saya tidak tahu. Selain mereka berdua barisan aktor pendukung lain juga tampil tidak kalah baik. Satu hal lagi yang unik bahwa di film ini semua pemainnya adalah laki-laki. Satu-satunya wanita yang muncul adalah sosok ibu Jaya yang itupun muncul hanya lewat fotonya saja.

OVERALL: Sebuah film lokal yang mempunyai rasa layaknya film-film Eropa dan sekelas festival internasional yang sunyi tapi sungguh menghanyutkan. Satu lagi film Indonesia yang sangat patut untuk dibanggakan!

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar