EVERYTHING MUST GO (2011)

Tidak ada komentar
Berbeda deangan komedian lain macam Jim Carrey, Ben Stiller, atau Adam Sandler, sebelum ini saya belum pernah melihat seorang Will Ferrell bermain dalam film yang lebih kental unsur drama dibandingkan komedinya. Bukannya Ferrell belum pernah melakukannya, hanya saja saya belum menonton film yang menampilkan kemampuan Ferrell dalam berakting drama seperti yang dia lakukan dalam "Stranger Than Fiction". Maka menonton film yang disutradarai oleh Dan Rush ini adalah pengalaman pertama saya menyaksikan akting drama seorang Will Ferrell yang pernah sangat mengcewakan saya lewat "Land of the Lost".

Nick Halsey (Will Ferrell) adalah pria yang tidak bisa lepas dari alkohol. Kebiasaan buruk itu juga yang membawa Nick kedalam salah satu faset terburuk dan tersulit dalam hidupnya dimana suatu hari dia mendapati dirinya dipecat dari perusahaan tempat dia bekerja. Sepulang dari kantor dia malah mendapati sang istri sudah meninggalkan dirinya dan mengganti semua kunci rumah sehingga Nick tidak bisa masuk. Yang lebih parah semua barang-barang dan perabot milik Nick ikut dibuang dan berserakan di halaman rumah. Nick yang mau tidak mau harus tinggal di halaman rumahnya walaupun hukum disana melarang hal tersebut juga kebingungan memikirkan apa yang harus ia lakukan terhadap barang-barangnya.

Tapi Nick masih punya beberapa orang yang bersedia membantunya seperti Frank (Michael Pena) sahabatnya yang juga seorang aparat kepolisian yang membuat Nick tidak ditahan walaupun tinggal di halaman rumahnya sendiri, lalu ada Kenny (Christopher Jordan Wallace) bocah berkulit hitam yang selalu bermain dengan sepedanya didepan rumah Nick, dan terakhir ada Samantha (Rebecca Hall) tetangga barunya yang sedang hamil dan ditinggal sang suami bekerja diluar kota.
Jalan cerita "Everything Must Go" secara keseluruhan tidaklah spesial, apalagi jika ditinjau dari bagaimana konflik tersebut mendapatkan penyelesaiannya. Tapi sutradara Dan Rush mampu menggiring kita melewati beberapa momen-momen menarik yang jauh dari kesan klise. Sangat unik melihat seorang Nick beraktivitas sehari-hari di halaman rumahnya sendiri dengan perabot lengkap, termasuk kursi santai dan kulkas minuman. Hal itu sudah menjadi komedi tersendiri dalam film ini. Komedi yang ditawarkan memang bukan komedi yang mampu membuat kita tertawa terbahak-bahak dan mungkin hanya berujung pada senyuman lebar, tapi dibalik senyuman yang dapat dihasilkan itu terdapat juga perasaan terkesan akan apa yang ditampilkan dalam film ini.

Nick walaupun dimainkan dengan baik oleh Will Ferrell (sungguh dia harus lebih banyak main di film drama) tetap saja bukanlah tokoh utama yang bisa menarik simpati penonton. Bahkan terkadang dia nyaris saja terjerumus menjadi tokoh yang menyebalkan akibat perbuatannya. Dia berkata untuk berjuang dalam hidup tapi dia sama sekali tidak berjuang untuk hidupnya yang lebih baik. Untungnlah ada tokoh Kenny yang sangat mengundang aura positif dan ditampilkan dengan sangat baik oleh Christopher Jordan Wallace dan Samantha yang juga diperankan secara apik oleh Rebecca Hall. Keduanya menjadi penyegar disaat sosok Nick nyaris menjadi sosok yang tidak disukai.

Ending film ini termasuk dalam kategori "Love it/Hate it". Bagi sebagian orang yang menganggap ending tersebut adalah konklusi yang menggambarkan pendewasaan dalam diri Nick mungkin akan puas, tetapi bagi penonton seperti saya yang menganggap Nick memang menjadi dewasa tapi perbuatannya menanggapi hubungannya dengan sang istri di akhir film adalah bukan mengalah tapi menyerah akan kurang menyukai endingnya. Walaupun agak sedikit kurang sreg dengan konklusi yang ditawarkan, "Everything Must Go" tetaplah sebuah film yang berkesan bagi saya dimana drama mengenai perjuangan hidup ini berjalan dengan sangat menarik.

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar