SPY KIDS: ALL THE TIME IN THE WORLD (2011)

2 komentar
Robert Rodriguez itu bagaikan sutradara yang punya dua sisi kepribadian. Satu sisinya adalah sisi gelap yang sering menghasilkan film-film gila yang cenderung mengarah ke eksploitasi seperti Machete, Sin City atau Planet Terror dan saya menyukai sisi tersebut. Sedangkan sisi yang satu adalah seorang sutradara yang gemar menghasilkan film-film anak yang terkadang terasa konyol. Memang ada film pertama Spy Kids yang terasa fresh dan menghibur, tapi film kedua dan ketiganya makin membosankan. Bahkan ada juga Shorts yang kurang menghibur sampai debut Taylor Lautner lewat The Advnetures of Sharkboy and Lavagirl. Sisi kedua ini kurang saya suka. Setelah tahun lalu menggebrak kembali lewat Machete, tahun ini Rodriguez memilih kembali ke sisi terangnya dengan melanjutkan franchise Spy Kids yang seharusnya sudah game over di seri ketiga.

Kini kisahnya beralih ke Marissa (Jessica Alba) yang merupakan agen rahasia terbaik yang sekarang dimiliki OSS. Tapi sayangnya dia memilih pensiun setelah melahirkan bayi. Marissa ingin meluangkan waktunya untuk sang bayi dan suaminya, Wilbur (Joe McHale) dan kedua anak tirinya Rebecca (Rowan Blanchard) dan Cecil (Mason Cook). Tapi usahanya tersebut lebih susah daripada menjadi seorang agen rahasia. Rebecca sangat membencinya dan tidak bisa menerima keberadaan sang ibu tiri. Sedangkan suaminya sibuk dengan pekerjaannya dalam reality show yang ironisnya merupakan acara untuk memburu mata-mata berjudul "Spy Hunter". Tapi selang setahun penjahat yang dulu dia ringkus, Tick-Tock (Jeremy Piven) berhasil kabur dan kini dia bersama seorang penjahat misterius bernama Timekeeper berusaha untuk mencuri waktu yang ada dan membuat dunia kiamat. Hal itu membuat Marissa dipanggil kembali dan kali ini kedua anak tirinya secara tidak sengaja ikut terseret dalam kasus tersebut.

Mengusung embel-embel 4D dengan menggunakan aroma-scope yang dapat membuat kita bisa mencium berbagai aroma yang muncul dalam filmnya dengan cara menggosokkan dan mengibaskan sebuah kartu aroma, hal tersebut terliaht tidak efektif. Bioskop tempat saya menonton memang tidak menyediakan kartu tersebut, tapi jika dilihat dari frekuensi kemunculan nomor (penanda kartu digosok) yang jarang muncul dan kemunculannya hanya untuk beberapa aroma saja saya merasa kalaupun ada hal itu tidak terlalu berpengaruh besar dan mungkin akan mengganggu. Sedangkan untuk embel-embel lainnya apalagi kalau bukan 3D juga tidak terlalu terasa walaupun usaha untuk membuat efek benda keluar dari layar sudah sangat terasa tapi hasilnya hampir tidak sama sekali.
Tidak hanya 3 dimensinya, berbagai efek visual yang dipakai Robert Rodriguez dalam film ini juga terasa begitu cheesy. Bujet film ini memang tidak terlalu besar tapi saya sama sekali tidak menyangka efek yang muncul akan seburuk ini. Berbagai efek seperti saat adegan pertarungan di udara, efek di sebuah menara jam dan masih banyak lagi terasa begitu murahan. Kalau efek murahan ini muncul di film-film B-movie karya Rodriguez macam Machete saya masih bisa mentolerir bahkan bisa jadi hiburan tersendiri, tapi untuk film macam Spy Kids hal tersebut jelas tidak termaafkan. Bahkan untuk sekedar efek mengendarai mobil saja film ini tidak terlihat bagus.
Dari tadi saya hanya mengkritisi efek-efeknya saja bagaimana dengan ceritanya? Tentu saja tidak jauh beda. Ceritanya sama konyolnya dengan efek yang ada, Bahkan anak-anak pun saya rasa tidak akan terhibur dan nyatanya memang tidak, Karena terlihat anak-anak yang jumlahnya cukup banyak disaat saya menonton tidak ada yang tertawa karena humornya, tidak ada yang bersorak karena terpukau oleh adegan aksinya yang sama sekali tidak menegangkan, atau tidak juga terkagum dengan efek 3D-nya yang kosong, tidakseperti saat saya menonton Puss in Boots dimana anak-anak bersorak karena kagum akan efek 3D-nya. 

Bagaimana dengan jajaran pemainnya? Jessica Alba jelas tidak menunjukkan akting yang bagus tapi untungnya dia masih cantik dan badannya masih seksi. Rowan Blanchard dan Mason Cook sebagai duo mata-mata yang baru nyatanya tidak memberikan nuansa yang baru dan tidak sanggup memberikan penyegaran terhadap franchise yang terbukti sudah lelah dan seharusnya sudah game over 8 tahun yang lalu ini. Kemunculan kembali Alexa Vega dan Daryl Sabara juga tidak berdampak apapun kecuali sedikit nostalgia yang hanya lewat saja. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan kesan bahwa mereka pernah jadi agen terbaik OSS. Setidaknya untuk Alexa Vega dia sudah terlihat tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Tapi untuk masalah cantik dan seksi jelas dia kalah pamor dibandingkan Jessica Alba sehingga kemunculannya tidak terlalu berasa. Cameo Danny Trejo juga ada dan sayangnya hanya sebatas itu. Mungkin tokohnya bisa membuat film ini lebih menarik mengingat kini namanya sudah lebih terangkat.

Spy Kids: All the Time in the World sayangnya punya semuanya yang dibutuhkan untuk jadi film yang jelek. Cerita yang buruk, efek yang kurang memadahi, akting yang tidak memuaskan, dan ceritanya juga masih berusaha sok pintar khususnya di akhir walaupun dari awal semua sudah tahu kalau film ini konyol. Tolong Robert Rodriguez,. kembali dan teruslah saja dalam sisi gelapmu sebagai "Evil Rodriguez" karena setidaknya dalam sisi tersebut kau tidak pernah membuat film yang mengecewakan, apalagi jelek seperti film ini.

RATING:

2 komentar :

  1. wah,kasian amet dpt 1/5.... tp emang kurang sih.

    BalasHapus
  2. Haha gimana lagi emang benci banget sama hasilnya padahal termasuk suka sama karya"nya Robert Rodriguez

    BalasHapus