12 ANGRY MEN (1957)

5 komentar
Apakah menarik menonton 12 orang berdebat selama lebih dari 90 menit dalam satu ruangan? Jawabannya adalah sangat menarik! Dikisahkan dalam sebuah persidangan argumen terkahir telah dibacakan dan hakim meminta 12 orang juri untuk berdiskusi mengenai keputusan final apakah tersangka bersalah atau tidak. Kasusnya sendiri adalah mengenai remaja 18 tahun yang dituduh membunuh ayahnya sendiri dengan cara menusukkan pisau ke dada sang ayah. Apabila dinyatakan bersalah maka dia akan dihukum mati. Untuk menentukannya maka kedua belas juri tersebut semuanya harus sepakat dengan satu suara. Jika ada satu juri saja yang berbeda suara maka diskusi harus terus dilanjutkan hingga mencapai satu kesepakatan.

Kedua belas juri itu memasuki ruangan dengan suasana santai meskipun ruangan tersebut sangatlah panas. Mereka sepertinya sudah tidak kebingungan lagi menentukan keputusan. Kemudian diskusi dibuka dengan dipimpin oleh juri #1 (Martin Balsam) yang meminta sebelas juri lainnya melakukan vote dengan cara mengangkat tangan apabila mereka setuju remaja itu bersalah. Dari segala bukti dan kesaksian yang ada memang tersangka sangat diberatkan dan nampaknya tidak perlu berpikir keras guna memutuskan bahwa dia bersalah. Tapi apa yang terjadi adalah hanya 11 juri yang mengangkat tangan. Juri #8 (Henry Fonda) berbeda pendapat. Tapi dia sendiri tidak mengatakan bahwa remaja itu tidak bersalah, tapi menurutnya alangkah baiknya jika diskusi yang menyangkut nyawa orang lain tidak hanya berjalan 5 menit saja. Juri #8 ingin membicarakannya lebih jauh lagi. Lagi pula dia masih mempunyai keraguan atau reasonable doubt yang membuatnya tidak berani memutuskan tersangka bersalah. Sebuah pernyataan yang membuat 11 juri lainnya geram karena mengatakan hal itu akan buang-buang waktu karena tersangka sudah jelas bersalah. Tapi apa yang terjadi berikutnya adalah sebuah diskusi luar biasa yang berjalan diluar dugaan.

Ini adalah film tentang courtroom terbaik yang pernah saya tonton. Dengan media hitam-putih yang mungkin membuat penonton jaman sekarang anti, 12 Angry Men menyajikan sebuah perbedatan dan silat lidah yang luar biasa seru untuk disaksikan. Saya sendiri seolah diajak untuk menjadi juri ketiga belas selama menonton film ini. Awalnya mendengar berbagai kesaksian dan bukti yang ada saya jelas sepakat untuk mengatakan bahwa tersangka bersalah. Tapi kemudian pernyataan-pernyataan dari juri #8 makin membuat saya memiliki keraguan. Dan seiring berjalannya diskusi reasonable doubt makin menguat. Lalu terbersit pada pikiran saya terkadang keputusan seperti ini tidak dilandasi oleh pemikiran mendalam dan dengan perasaan tapi lebih kepada mengikuti emosi. Mendengar seorang bocah menusuk ayahnya sendiri dan menyangkalnya dengan alasan yang terdengar mengada-ada saya jelas setuju jika dia dihukum setimpal. Apalagi dia memiliki catatan kriminal yang tidak sedikit. Tapi sekali lagi ternyata jika lebih dipikirkan secara mendalam lagi tidak seharusnya sebuah keputusan yang penting diambil dengan cara pikir seperti itu.
Debut dari sutradara Sidney Lumet ini bukanlah kisah yang berorientasi di hasil tapi lebih kepada proses. Sejak menit-menit awal saya sudah amat yakin bahwa kedua belas juri ini nantinya akan sepakat bahwa tersangka tidak bersalah. Bahkan kemudian saat saya membuka halaman wikipedia film ini disitu jelas dituliskan urutan juri dari yang pertama mengatakan si bocah tidak bersalah sampai yang terakhir. Tapi sekali lagi ini adalah mengenai proses, mengenai diskuisnya yang penuh dengan kejutan, twist dan pembangungan tensi yang sangat efektif. Tensi film ini bukanlah dari action dan semacamnya tapi dari dialog antar tokoh dan benturan moral yang terjadi. Apakah tersangka sebenarnya bersalah atau tidak bagi saya tidak penting karena yang terpenting dari film ini adalah bagaimana keputusan itu diambil dengan jalan yang tepat. Karena selagi masih ada keraguan yang beralasan dalam hati juri maka tidak bisa mereka memutuskan bocah itu bersalah. Apalagi memutuskan karena adanya hal-hal personal yang turut campur dalam pengambilan keputusan.

Film ini penuh dengan hal-hal yang memorable entah itu adegannya, karakternya bahkan sampai dialog dan teori-teori yang disampaikan juga sangat banyak yang memorable. Kedua belas karakternya punya porsi yang cukup seimbang. Memang ada dua atau tiga tokoh yang punya porsi lebih tapi itu adalah sebuah kewajaran bahwa harus ada tokoh yang lebih ditonjolkan. Tapi secara keseluruhan lihatlah kedua belas juri tersebut yang masing-masing berkesempatan mengungkapkan argumennya dan setidaknya punya satu atau dua scene milik mereka sendiri-sendiri. Mereka layaknya sebuah bom waktu yang dipasang berurutan dan akan meledak satu-persatu bahkan terkadang meledak secara bersamaan. Dialognya juga sangat menempel di ingatan khususnya yang berkaitan dengan teori-teori ataupun sanggahan mengenai fakta-fakta kasus tersebut. Sedangkan untuk adegan saya rasa tidak berlebihan jika saya berkata hampir 5 menit sekali selalu ada adegan menarik yang akan selalu teringat dan membuat saya kagum akan film ini. Benar-benar film yang tidak berlebihan dikatakan sempurna. Tidak ada yang tersia-siakan dalam film ini. Siapa bilang butuh adegan action dan ledakan atau pembunuh brutal dan hantu untuk membuat ketegangan? Hanya dengan 12 orang yang berdebat saja ketegangan yang intens berhasil dibangun dalam film ini.

5 komentar :

Comment Page:
Fariz Razi mengatakan...

Setuju!! Film ini emang keren paraaaah! Bikin tegang cuman lewat diskusi haha

Akmal Fahrurizal mengatakan...

Film ini jadi awal ketertarikan saya untuk nonton film2 klasik lainnya. Setuju dapet rating sempurna. :)

Hilman Manchunian mengatakan...

Menimbulkan ketegangan dalam film tak harus melalui adegan2 ledakan gaje ala michael bay atau kesadisan kampungan dan garing.... Hanya dgn berdebat sprti tensi penonton bisa naik. Bravo!!!

Sani Muhammad mengatakan...

Best Movie ever bagi saya

Lyman Property mengatakan...

kaya film the man from earth