OPERA JAWA (2006)

1 komentar
Ini adalah kedua kalinya saya menonton karya Garin Nugroho setelah  Under the Tree sebelumnya telah menjadi perkenalan yang menyenangkan dengan karya sutradara yang satu ini. Saat itu reaksi saya adalah kagum. Kagum bagaimana sineas Indonesia mampu untuk membuat film yang tidak hanya berkualitas bagus tapi juga dirangkum dengan unik dimana banyak sekuen-sekuen tarian ataupun adegan penuh metafora didalamnya. Yap, film lokal yang berkualitas baik memang banyak tapi yang menyajikan kisahnya dengan penuh inovasi masihlah jarang. Tapi dua tahun sebelumnya Garin sudah membuat sebuah film yang bisa dibilang lebih nyeni daripada Under the Tree. Jika dalam Under the Tree masih ada alur "normal" layaknya drama pada umumnya, dalam film yang punya judul internasional Requiem from Java ini keseluruhan kisahnya murni menggunakan perpaduan antara tari dan tembang-tembang Jawa. Metafora-metafora juga jauh lebih banyak dan kental menghiasi sepanjang film.

Kisah dalam Opera Jawa mengambil dasar dari cerita "Ramayana" khususnya pada bagian penculikan Sinta oleh Rahwana. Ceritanya adalah mengenai kehidupan sepasang suami istri, Setio (Martinus Miroto) dan Siti (Artika Sari Devi). Sebelum menikah keduanya adalah penari yang mementaskan "Ramayana" sebagai Rama dan Sinta. Setelah menikah, keduanya berhenti menari dan menggantungkan hidup pada usaha pembuatan tembikar yang ditekuni Setio. Namun bisnis tersebut tidak berjalan lancar. Bukan hanya bisnis Setio, tapi bisnis para pengusaha dan pedagang kecil di kampung tersebut juga terancam karena adanya ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Ludiro (Eko Supriyanto) yang merupakan tukang jagal sapi yang sukses adalah salah satu diantara si kaya yang semena-mena. Kesulitan keuangan membuat hubungan Setio dan Siti merenggang. Setio yang harus lebih sering bekerja meninggalkan Siti membuat istrinya tersebut "haus" akan belaian seorang lelaki. Sampai Ludiro datang dan berhasrat merebut Siti dari suaminya. Disinilah kesetiaan Siti terhadap Setio mulai diuji. Disatu sisi dia mencintai dan ingin setia pada sang suami tapi disisi lain hasratnya akan Ludiro makin sulit dibendung.
Menikmati Opera Jawa sekaligus berusaha mengerti segala isi didalamnya bukanlah perkara yang mudah. Terpesona oleh bagaimana sebuah setting dan pemakaian properti yang ditambah berbagai macam instalasi media seni rupa memang adalah hal yang akan dengan mudah dirasakan oleh penontonnya. Begitu juga kekaguman akan bagaimana tari dan tembang Jawa mampu berpadu dalam media film. Tapi bagaimana meresapi intisari kisahnya adalah cerita lain. Saya sendiri merasakan bahwa butuh konsentrasi berlebih dan berpikir cukup keras untuk bisa memahami rangkaian adegan demi adegan penuh metafora yang ditampilkan Garin. Kita sudah diberi dasar bahwa kisah ini mengambil basis dari Ramayana, tapi yang dilakukan Garin adalah melakukan adaptasi lepas sehingga jelas banyak perbedaan cerita dan pesan-pesannya juga berbeda. Tema cinta,kesetiaan dan hasrat seksual terpampang jelas di permukaan. Bagaimana adegan Ludiro coba merayu Siti dengan ratusan lilin yang berujung pada usaha pelampiasan seksualnya. Lalu bagaimana usaha Siti melawan hasratnya berselingkuh. Sampai saat Setio dibakar api cemburu kala Ludiro menghadiahkan bentangan kain merah pada Siti yang berujung pada amukan Setio yang membakar kain itu lalu dilanjutkan pada kesedihan dan amarah luar biasa Ludiro sampai-sampai ingin kembali ke rahim ibunya. Benar-benar rangkaian-rangkaian adegan indah.
Selain itu masih muncul juga hal-hal lain disini seperti saat ada adegan saat Setio coba "membentuk" sang istri dengan tanah liat layaknya kerajinan tembikar yang biasa ia buat. Bisa jadi itu adalah sebuah metafora tentang bagaimana seorang wanita dalam hal ini istri "dibentuk" sesuai dengan keinginan sang suami dan kadangkala menjadi pelampiasan hasratnya saja. Hal-hal tersebut adalah sorotan dan makna-makna metafor yang masih berada di seputar kisah cinta segitiga Setio-Siti-Ludiro yang meninggalkan kesan kelam, tragis sekaligus begitu "seksi". Tapi sekali lagi Opera Jawa masih menyimpan banyak makna-makna lain didalamnya khususnya mengenai gambaran-gambaran sosial masyarakat Jawa saat ini. Ketimpangan sosial jelas jadi yang paling terasa. Saat rakyat kecil hidupnya makin tidak jelas arah dan nasibnya, sang penguasa lalim dalam hal ini seorang tukang jagal menyedot harta-harta dan penghasilan si miskin. Masih ada lagi potret mengenai kaum menengah kebawah dalam sebuah obrolan di warung kopi yang begitu terasa suasana keakraban dan kerakyatannya yang sederhana. Seolah saya sedikit berkaca pada suasana obrolan tersebut. 

Kesemuanya itu sekali lagi ditampilkan dalam balutan tarian dan tembang-tembang Jawa. Nyaris tidak ada dialog dalam film ini, bahkan untuk dialog major bisa saya katakan sama sekali tidak ada. Cukup sulit memahami maknanya, tapi sedikit gerakan-gerakan tarian bisa membantu. Jika itu masih susah, lirik tembang Jawa yang terdengar cukup bisa memberikan gambaran mengenai apa yang dimaksudkan dalam sebuah adegan. Tapi saya rasa Garin Nugroho terasa terlalu nyeni dalam film ini. Kata terlalu nyeni toh bagi saya masih boleh dikritisi, karena mengkritisi sebuah film sebagai film yang terlalu klise juga boleh saja. Terlalu nyeni tapi masih bisa diserap maknananya meskipun mungkin tidak 100% berhasil terserap makna per adegan tapi paling tidak poin utamanya bisa masuk pada penonton. Faktor abstraksi yang muncul juga seringkali membuat adegan per adegannya seolah berbeda segmen dan tidak berhubungan. Sedikit mengganggu tapi biarlah, toh penyajiannya luar biasa indah. Tidak saya sangka syutingnya hanya 14 hari. Padahal dengan koreografi tari dan segala macam set rumit nan indah itu, saya sempat berfikir film ini makan waktu lama dalam pembuatannya. Kredit lebih patut diberikan pada Artika Sari Devi yang sebelum produksi film ini belum pernah sekalipun berkecimpung dalam tari tapi ternyata akting dan tarian yang dia sajikan disini bagi saya melebur dengan amat baik. Begitu pula keseluruhan film ini yang mampu menyatukan berbagai bentuk seni dalam sebuah media film yang hebat.

RATING:

1 komentar :