AN AFFAIR TO REMEMBER (1957)

2 komentar
Film ini adalah remake yang memakai teknik scene-to-scene alias membuat ulang sama persis tiap adegan dari film tahun 1939 berjudul Love Affair. Versi 1939 tersebut adalah film yang mendapat lima nominasi Oscar termasuk Best Picture. Sedangkan versi 1957-nya mendapat empat nominasi Oscar, tapi mayoritas berasal dari nominasi minor seperti Best Costume serta ada nominasi untuk Best Original Song dan Best Original Score dimana film ini memang terbantu oleh lagu "An Affair to Remember (Our Love Affair)" yang mantap itu. Sedangkan sisa satu nominasi lagi adalah untuk Best Cinematography. Apakah ini berarti An Affair to Remember kalah kualitas dari pendahulunya dan hanya menang untuk aspek teknisnya? Film ini sering juga disebut-sebut sebagai salah satu film paling romantis sepanjang masa. Tapi ada satu masalah mendasar bagi saya untuk film-film romansa klasik. Kisah cinta memang selalu abadi dan tak pernah lekang oleh waktu, tapi bagaimana kisah cinta itu dituturkan sangat rawan untuk terasa ketinggalan jaman. Apakah film ini sama?

Kisahnya adalah mengenai pertemuan Nickie Ferrante (Cary Grant), seorang pelukis amatiran sekaligus seorang playboy dengan Terry McKay (Deborah kerr) yang merupakan mantan penyanyi klub. Mereka berdua bertemu diatas sebuah kapal yang menuju New York dan mulai makin dekat satu sama lain setelah sering secara tidak sengaja bertemu dan makin intens berinteraksi. Jelas saja perasaan cinta diantara keduanya mulai tumbuh. Sekilas tidak ada yang salah dengan perasaan itu, tapi menjadi sebuah dilema dikarenakan mereka berdua sama-sama sudah bertunangan dan akan sama-sama bertemu dengan calon pengantin mereka sesampainya di New York nanti. Bagaimanakah mereka menanggapi perasaan tersebut? Apakah mereka akan memilih meninggalkan pasangan masing-masing atau melupakan cinta antara mereka dan hanya menganggapnya sebagai kenangan beberapa hari yang manis?
Diawal sempat terasa lambat dan banyak diisi oleh dialog-dialog cheesy, secara perlahan An Affair to Remember mulai semakin menarik seiring berjalannya durasi. Seperti yang saya kan.takan tadi, kisah cinta yang ditampilkan tidak akan pernah usang, tapi cara penyampaiannya itulah yang sering terasa usang untuk film-film klasik macam ini. Banyak dialog-dialog yang seringkali terlalu cheesy dan sedikit menggelikan. Model akting yang ditampilkan para pemainnya juga masih amat terasa khas akting-akting jama dulu yang begitu teaterikal dan seringkali kurang cocok jika dilihat melalui media film. Tapi toh momen tersebut tidak terlalu sering terjadi. Satu jam pertama film ini adalah momen yang manis sekaligus lucu. Menyenangkan untuk disaksikan kisah perselingkuhan yang terjadi diatas kapal tersebut. Mungkin tidak pernah sampai tingkat romantis yang memuncak, tapi jelas sangat menyenangkan ditonton dengan beberapa kali selipan komedi yang efektif dan cukup menggelitik. Bahkan ada juga beberapa momen yang cukup mengharukan seperti saat kunjungan kerumah nenek Nickie.

Tapi perasaan menyenangkan tersebut hanya bertahan hingga perjalanan diatas kapal berakhir. Seiring dengan berakhirnya perjalanan tersebut, kesenangan yang saya alami dalam menonton film ini juga perlahan mulai memudar. Durasinya terlalu panjang, seharusnya setelah perjalanan diatas kapal berakhir, film ini hanya perlu melanjutkan sekitar 30 menit durasinya untuk konklusi dan penceritaan kehidupan Nickie dan Terry pasca perjalanan tersebut. Tapi yang terjadi film justru berjalan hingga nyaris dua jam dan ceritanya mulai berjalan terlalu jauh dan terkesan dipanjang-panjangkan. Hal itu membuat perasaan dan kehangatan cerita yang sudah terbangun selama satu jam pertama mulai menghilang. Saya mulai tidak tertarik lagi akan kelanjutan kisah cinta Nickie-Terry saat kisahnya mulai berjalan terlalu luas. Saya makin dikecewakan saat mulai banyak sisipan musikal disaat kisahnya bergulir saat hari Natal. Sangat terasa bahwa paruh pertama dan kedua bagaikan dua film yang berbeda. Suasananya berbeda, esensinya juga berbeda. Saya tidak lagi merasakan dilema perselingkuhan yang seharusnya jadi sorotan utama disini.

Sebuah lagu berjudul "An Affair to Remember (Our Love Affair)" buatan Harry Warren adalah sebuah lagu yang begitu romantis dan enak didengar. Bahkan meski lagunya mengalun tiga kali dengan tiga versi berbeda sepanjang film saya tidak pernah bosan mendengarkan dan menyimak kegalauan dalam liriknya. Sungguh disayangkan film ini harus terlalu memanjang-manjangkan kisahnya. Padahal paruh pertama adalah sebuah suguhan yang romantis dan menyenangkan, tapi akibat paruh keduanya film ini jatuh menjadi film yang kurang memuaskan.


2 komentar :

  1. Hmm, gue sih emang gak suka sama film ini, boring. Gimana pendapat lo/anda/bro (I don't know what I should call you-_-) tentang film classical hollywood lain? Gue sih kurang suka, soalnya jalan ceritanya sering klise dan aktingnya sering lebay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe panggil apa aja oke
      Film klasik sih saya suka, cuman kebanyakan film klasik yang genrenya romance emang klise di masa itu dan personally kurang suka sama romance di jaman itu
      Masalah akting sih mungkin karena mayoritas aktor di jaman itu banyak banget yg berasal dari aktor panggung (teater) yang jelas punya metode akting yg beda karena kebutuhannya juga beda (mungkin sih hehe)

      Hapus