THE DICTATOR (2012)

4 komentar
Sacha Baron Cohen adalah salah satu aktor watak terbaik yang ada sekarang. Lihat saja bagaimana ia mampu menciptakan karakter-karakter unik nan memorable dalam film-film komedinya. Mulai dari pria bergaya rapper bernama Ali G, seorang fashionista gay bernama Bruno dan tentunya reporter Kazakhstan bernama Borat. Karakter-karakter itu sendiri diciptakan Sacha Baron Cohen sebagai bentuk sindiran atas berbagai pihak, bisa dibilang sebuah karakter satir. Selain jago dalam memainkan karakter ciptaannya sendiri, Sacha Baron Cohen juga piawai dalam memainkan tokoh lain seperti saat ia menajdi Inspektur Gustav di Hugo atau saat dia bermain di Sweeney Todd. Bahkan di tahun 2014 nanti rencananya ia akan bermain dalam biopic Freddie Mercury dan berperan sebagai Mercury sendiri. Tapi sebelumnya di 2012 ini Sacha Baron Cohen kembali merilis film dengan karakter ciptaannya sendiri. The Dictator yang kembali disutradarai oleh Larry Charles ini terinspirasi pada buku Zabibah and the King yang ditulis diktator Irak Sadam Hussein. Sedangkan Sacha Baron Cohen disini memerankan General Aladeen, seorang diktator dar sebuah negara fiktif di Afrika Utara bernama Wadiya. General Aladeen sendiri adalah karakter yang dibuat oleh Baron Cohen berdasarkan sosok Muammar Gaddafi.

The Dictator mengisahkan tentang kediktatoran General Aladeen yang sering bertindak kejam terhadap orang lain. Tapi kekejaman tersebut bukan dikarenakan Aladeen adalah pria berdarah dingin namun lebih karena kebodohan. Aladeen pernah mengeksekusi banyak orang dengan alasan konyol termasuk saat ia mengeksekusi ilmuwan nuklir miliknya, Nadal (Jason Mantzoukas) hanya karena senjata nuklir yang dibuat Nadal bagi Aladeen mempunyai ujung yang bulat dan tidak tajam seperti yang diinginkan Aladeen. Baginya roket dengan ujung bulat tidak mengerikan dan terlihat bagaikan sebuah dildo raksasa. Kediktatoran dan pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Aladeen sendiri mendapat kecaman dari banyak pihak khususnya Amerika Serikat. Hal itu membuat negara luar mengancam akan menyerang Wadiya jika Aladeen tidak bersedia menghentikan kediktatorannya. Akhirnya untuk membahas perihal tersebut Aladeen berkunjung ke New York. Tapi sesampainya disana saat malam hari Aladeen diculik. Bukannya dibunuh, Aladeen justru harus kehilangan jenggot kesayangan yang juga menjadi ciri khasnya. Tanpa jenggot dan pakaian kebesarannya, tidak ada yang mengenali Aladeen. Untungnya di tengah kekacauan Aladeen dibantu oleh Zoey (Anna Faris) yang ironisnya merupakan demonstran anti-Aladeen.
The Dictator jelas punya humor-humor yang sangat ofensif dan beberapa juga jorok. Seperti biasa humor ala Sacha Baron Cohen ini pastinya akan menyulut kontroversi. Kali ini yang disindir adalah tentang bagaimana Amerika menyikapi konflik yang sering terjadi di negara Timur Tengah hingga tentang bagaimana mereka memandang terrorisme yang begitu melekat pada orang-orang Timur Tengah. Yang jelas bagi penonton yang kurang bisa menerima humor ofensif yang penuh nuansa rasisme dan kejorokan maka The Dictator akan menjadi 83 menit penuh dengan momen-momen menyebalkan yang jauh dari kesan lucu. Bagi saya sendiri paruh awal film ini terasa garing dan gagal dalam menghantarkan komedinya. Sejak awal memang tanpa basa-basi film ini langsung mengeluarkan segala amunisinya untuk mengocok perut penonton. Tapi sayangnya semua itu gagal terlihat menarik karena momen-momen awal saat kita diajak berkenalan pada kekejaman sekaligus kebodohan Aladeen terasa biasa saja. Di bagian awal ini momen yang bisa membuat saya sedikit tertawa paling hanyalah adegan pengubahan beberapa kata Wadiya menjadi "Aladeen", sedangkan sisanya terasa datar.
Untungnya setelah berjalan beberapa saat film ini mulai menemukan sentuhannya. Beberapa momen mulai terlihat lucu meski tidak semuanya berhasil. Saat itu adalah momen dimana The Dictator tidak hanya menampilkan komedi jorok dan kasar ditambah rasisme tanggung seperti diawal film, tapi secara total mengeluarkan semuanya. Rasisme yang di bagian awal masih terasa "ringan" mulai makin ofensif. Tapi anhenya makin ofensif dan kasar rasisme yang muncul dalam humornya justru makin terasa lucu film ini. Semua itu berkat penempatannya yang cerdas dalam naskah. Tidak selamanya humor kasar dan rasis terdengar menjijikkan, karena komedi adalah masalah timing, dan jika penempatannya pas maka humor serasis apapun bisa terdengar cerdas, karena mau tidak mau rasanya kita harus mengakui jenis humor dan lelucon yang paling sering membuat kita tertawa adalah lelucon berbau rasis atau yang memasukkan unsur stereotype suatu golongan. Saya yakin banyak yang menjadikan lelucon mengenai orang kulit hitam sebagai guilty pleasure. Pastinya juga banyak yang doyan mentertawakan stereotype Korut sebagai negeri yang tidak memiliki kebebasan dan masih banyak lagi humor seperti itu yang beredar diantara kita. Dalam The Dictator berbagai golongan tidak lepas dari sindiran mulai dari kulit hitam, orang Amerika, Yahudi dan masih banyak lagi. Beberapa cameo seperti dari Megan Fox dan Edward Norton juga menarik dan lucu.

Tentu saja saya tidak mengharapkan sebuah kisah yang cerdas, tapi cerita yang disajikan dalam The Dictator terlalu bodoh di beberapa bagian. Jika kita melihat Borat ataupun Bruno cerita yang ada didalamnya adalah humor itu sendiri dan kedua aspek tersebut menyatu dengan baik, sehingga meski penuh kebodohan, ceritanya tidak pernah sekalipun terasa bodoh bahkan terbilang cerdas. Sedangkan dalam The Dictator saya tidak merasakan humor dan ceritanya sebagai satu kesatuan yang sempurna. Disatu sisi saya merasakan humornya yang bodoh dan kasar mulai terasa menarik di pertengahan. Tapi saat itu juga ceritanya terasa janggal. Kemudian akibat cerita dan humornya yang menyatu, kebodohan yang terjadi pada ceritanya makin sulit ditolerir. Beberapa perbuatan yang dilakukan karakternya terkadang terasa terlalu bodoh. Saya tidak terlalu mempermasalahkan kebodohan dalam humornya tapi lebih kepada beberapa tindakan tokohnya yang mempengaruhi jalan cerita. Selain itu karakter Aladeen juga mengalami perubahan karakterisasi yang agak mengganggu saat di pertengahan ia mulai menjadi baik dengan begitu cepat. Hal itu membuat ceritanya di beberapa bagian sempat terasa layaknya film komedi yang lain walaupun pada akhirnya humor dan cerita ala Baron Cohen dan penampilan gemilangnya sebagai Aladeen mampu membuat perbedaan. Sangat disayangkan kebodohan yang ada dalam ceritanya tidak secerdas kebodohan dalam leluconnya, padahal The Dictator berpotensi besar menjadi komedi ofensif yang cerdas layaknya Borat. Justru beberapa materi promo yang disebar film ini jauh lebih lucu dan cerdas.


4 komentar :

Comment Page:
Akmal Fahrurizal mengatakan...

Kalo di Bandingkan dengan Borat film ini masih jauh standarnya. Tapi nonton film tak selamanya harus pake logika, apalagi film2 komedi tipe seperti ini, yang kita perlukan cuma menertawakannya saja, di situlah kenikmatannya. IMO. :D

". . karena mau tidak mau rasanya kita harus mengakui jenis humor dan lelucon yang paling sering membuat kita tertawa adalah lelucon berbau rasis atau yang memasukkan unsur stereotype suatu golongan."

Setuju banget! :D

Rasyidharry mengatakan...

Bener tuh emang kayaknya saya yg terlalu serius pas lagi nonton ini :D

Muklis Latif mengatakan...

agama hidup dan mati bos jgn dibuat kolokan

Anistia Kinanti mengatakan...

hahahahahahahahahahahahaha