BEETLEJUICE (1988)

Tidak ada komentar
Setelah debut yang sukses baik secara kualitas ataupun komersil dalam Pee-wee's Big Adventure, Tim Burton mulai mendapat pengakuan di Hollywood. Pasca kesuksesan tersebut Burton mulai mendapat kiriman naskah untuk dia sutradarai, hanya saja dari banyak materi tersebut tidak ada yang membuat ia tertarik. Bagi Tim Burton naskah-naskah tersebut terkesan kurang original dan kurang dalam hal imajinasi dan kreatifitas. Sampai pada akhirnya Burton menerima naskah Beetlejuice dari Michael McDowell, dan ia merasa cocok dan setuju untuk menyutradarainya. Tiga tahun setelah debutnya, akhirnya Beetlejuice rilis dengan dibintangi oleh banyak nama besar yang sebenarnya pada saat itu belum banyak dikenal dan sedang merintis karir. Ada nama seperti Alec Baldwin, Geena Davis, Winona Ryder, Catherine O'Hara sampai Michael Keaton yang pada akhirnya akan menjadi Bruce Wayne dalam Batman versi Burton. Dalam Beetlejuice sendiri berbagai ciri khas Tim Burton mulai terasa, mulai dari karakter aneh sampai set yang kental unsur ekspresionisme-nya.

Awalnya kita akan dibawa melihat kehidupan bahagia sepasang suami istri, Adam (Alec Baldwin) dan Barbara (Geena Davis) yang sedang menikmati liburan di rumah mereka yang terletak di kampung. Malang bagi mereka, di tengah perjalanan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan yang akhirnya menewaskan keduanya. Sadar telah tewas, keduanya justru kebingungan apa yang harus mereka lakukan sebagai "hantu baru". Kondisi makin rumit saat sebuah keluarga membeli rumah mereka dan tinggal disana. Merasa terganggu dengan keberadaan keluarga baru tersebut, Adam dan Barbara mencoba mengusir mereka dari sana. Tapi apa daya, pengalaman yang masih kurang sebagai hantu membuat mereka selalu gagal dalam usaha pengusiran dan menakut-nakuti tersebut. Sampai akhirnya mereka tergoda untuk meminta jasa bantuan dari Betelgeuse (Michael Keaton) meski sebelumnya sudah diwanti-wanti untuk tidak meminta bantuannya, karena Betelgeuse sudah sering menciptakan masalah.

Sempat diawali dengan biasa saja, Beetlejuice mulai menarik saat Adam dan Barbara tewas dalam kecelakaan. Dari situ segala keunikan dalam ide ceritanya mulai dilemparkan pada penonton satu persatu. Sungguh unik melihat bagaimana pasangan ini menghadapi fakta tentang kematian mereka. Kematian yang menimpa mereka tidak dipandang sebagai sebuah hal yang menyedihkan bahkan sampai membuat karakter itu depresi seperti yang sering kita jumpai pada film yang mengisahkan tentang karakter yang harus menerima kenyataan bahwa ia sudah mati dan menjadi hantu. Saya suka dengan nuansa filmnya yang begitu positif khususnya dalam cara para tokohnya memandang kematian. Daripada terlihat sebagai hal yang mengerikan dan akhir segalanya, kematian disini bisa menjadi hal yang lucu dan bukan blackout atau akhir dari segala hal yang pantas diratapi. Para karakternya yang sudah mati masih tetap memiliki perasaan dan berusaha berjuang menghadapi kematian dan takdir mereka sebagai hantu. Beetlejuice juga terasa bagaikan anti-tesis dari film horror tentang teror hantu pada umumnya. Jika biasanya karakter yang hidup digambarkan terganggu dengan kehadiran hantu dan mencoba mengusir mereka, disini yang terjadi justru sebaliknya, para hantu yang merasa terganggu dengan kehadiran orang hidup.
Kelebihan lain film ini selain pada keunikan ceritanya juga terletak pada pengemasan komedinya. Tidak saya sangka Beetlejuice bisa selucu ini. Bukan komedi terlucu yang pernah saya tonton, tapi tetap sebuah kejutan yang menyenangkan. Pada intinya, faktor imajinasi dan kreatifitas yang baik menjadi kunci utama kesuksesan film ini. Hal itu juga berlaku pada komedinya yang cukup unik. Salah satu momen komedi favorit saya dalam film ini adalah momen tarian saat makan malam, khususnya melihat tingkah Winona Ryder. Penampilan Michael Keaton juga sangat menyenangkan untuk disaksikan. Ya, ini adalah film sebelum Tim Burton menemukan Johnny Depp untuk memerankan karakter aneh miliknya. Melihat Keaton yang notabene setahun kemudian akan menjadi Batman bermain sebagai sosok Betelgeuse yang eksentrik, konyol tapi punya unsur jahat dalam dirinya, serta tidak lupa make-up tebal ala karakter aneh Burton jelas sebuah hiburan tersendiri. Karrakternya berhasil menjadi scene stealer dan kemunculan sosok Betelgeuse dalam film ini selalu menyegarkan suasana dan selalu ditunggu.
 
Tentunya Beetlejuice akan selalu memanjakan mata penontonnya dengan visualisasi gothic yang selalu unik dan aneh ala Tim Burton. Desain karakter khususnya para hantu yang sangat unik, sampai berbagai efek yang meski sudah ketinggalan jaman jika dilihat sekarang tapi masih terasa keunikannya. Sayangnya akibat ide cerita yang nyeleneh itu jugalah Beetlejuice terasa punya banyak lubang dalam ceritanya. Adegan penutupnya juga saya tidak suka., kalau memakai bahasa gaul maka ending dari film ini terasa "geje banget". Patut disayangkan film ini ditutup dengan sangat antiklimaks, padahal Beetlejuice jelas salah satu karya terbaik Tim Burton yang menjadi bukti bahwa dia bisa tetap membuat film aneh yang bagus walaupun tanpa ada Johnny Depp didalamnya. Sebuah film yang mampu membuat kematian tidak terasa mengerikan bahkan mungkin mengajarkan bahwa kematian bukan hal yang perlu ditakuti tapi patut untuk dihadapi dan dipersiapkan.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar