THE DEEP BLUE SEA (2011)

Tidak ada komentar
Pada awalnya The Deep Blue Sea adalah sebuah naskah teater yang dimainkan pada tahun 1952 dan dibuat oleh Terence Rattigan. Hampir 60 tahun kemudian, seorang Terence "yang lain" yakni Terence Davies mengadaptasi naskah tersebut menjadi sebuah film yang juga ia sutradarai. Untuk jajaran pemain ada dua bintang besar Tom Hiddleston dan Rachel Weisz yang menjadi pemain utama. Selain mereka berdua ada nama Simon Russell Beale yang meskipun dalam dunia perfilman atau bagi orang awam namanya mungkin kurang familiar tapi sebenarnya ia adalah seorang aktor teater yang punya nama besar dan sering dianggap sebagai the greatest stage actor of his generation. Ini adalah sebuah kisah cinta yang ber-setting di London sekitar tahun 1950-an, sebuah era dimana sisa-sisa dari Perang Dunia II masih belum sepenuhnya hilang baik itu secara fisik (kerusakan bangunan dan semacamnya) sampai kepada psikis orang-orangnya. Kisahnya sendiri bukan menyoroti hal tersebut, namun nuansa pasca perang tersebut cukup punya peran disini khususnya pada karakter yang ada.

Kisahnya berjalan maju mundur, dimana kita akan diajak melihat kehidupan Hester Collyer (Rachel Weisz) yang masih muda dan menikah dengan seorang hakim pengadilan tinggi yang usianya jauh lebih tua, Sir William Collyer (Simon Russell Beale). Hester mendapatkan segalanya dari sang suami, baik itu kemewahan materi hingga rasa sayang mendalam. Namun sayangnya Hester masih merasa ada yang kurang, yakni ia tidak mendapatkan gairah seksual bersama sang suami yang tentunya mempengaruhi kebahagiannya. Namun kisahnya dengan Sir William sudah berlalu 10 bulan yang lalu, dimana sekarang Hester sudah bersama dengan Freddie Page (Tom Hiddleston) yang mampu memenuhi segala hasrat seksualnya meski itu harus membuat Hester hidup dalam kondisi keuangan yang serba pas pasan. Namun sayangnya meski bisa memberikan kepuasan dalam hal seksual, Freddie tidak mampu memberikan kasih sayang hangat dan perhatian seperti Sir William, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk minum-minum bersama temannya atau bermain golf. Pada akhirnya hal itulah yang membuat Hester memutuskan melakukan usaha bunuh diri.

Film ini berjalan dengan alur yang tidak sepenuhnya linear, dimana beberapa kali kita akan diajak melihat momen masa lalu dimana Hester masih bersama suaminya dan akhirnya bertemu dengan Freddie untuk pertama kali hingga terjadilah perselingkuhan tersebut. Kita sudah disuguhi adegan bunuh diri Hester diawal film, hingga kita akan dibawa menengok apa yang melatar belakangi keputusannya tersebut. Penggunaan alur non-linear ini sebenarnya berpotensi cukup efektif untuk membawa penontonnya memahami kisah hubungan cinta segitiga tersebut dari berbagai macam sudut pandang. Dengan melihat hubungan yang dijalani Hester dengan kedua pria dalam hidupnya tentu seharusnya bisa membuat penonton lebih mudah masuk kedalam kisah tersebut. Sebuah flashback dalam kisah cinta yang penuh kekontrasan dan perbandingan yang efektif pernah muncul dalam Blue Valentine dimana dalam film itu kita dapat dengan mudah merasakan perbandingan yang kontras dalam sebuah hubungan. Sedangkan dalam The Deep Blue Sea kita akan dibawa melihat perbadingan kedua hubungan yang dijalani Hester.
Masalahnya disini adalah segala permasalahan dan konflik batin yang terjadi dihadirkan secara tersirat. Dalam The Deep Blue Sea yang saya rasakan justru menciptakan beberapa kebingungan mengenai berbagai latar belakang yang ada dalam segala konfliknya. Jika tidak ada penampilan hebat dari Rachel Weisz yang mampu membuat saya ikut merasakan kesedihan yang begitu mendalam pada karakternya mungkin saya tidak akan terlalu merasakan keterikatan emosi yang kuat pada film ini. Beberapa penonton mungkin akan merasakan kebingungan terhadap beberapa hal seperti apa motif sebenarnya Hester bunuh diri dan beberapa hal lainnya. Tapi sekali lagi pujian tinggi patut diberikan pada Rachel Weisz. Tanpa mengesampingkan pemain lainnya (termasuk Tom Hidlestone dan Simon Russell Beale yang juga tampil bagus), Weisz yang sepanjang film memperlihatkan muka sedih sungguh berhasil membuat saya ikut merasakan kesedihan dan kemuraman selama menonton film ini. Salah satu adegan paling emosional bagi saya adalah disaat Hester mencoba membujuk Freddie untuk pulang namun yang didapat hanyalah bentakan demi bentakan dari Freddie, dan yang dilakukan oleh Hester hanyalah menangis dan terus memohon. 

The Deep Blue Sea memang adalah sebuah kisah cinta segitiga, namun pendekatan yang dilakukan tidak serta merta seperti film-film percintaan lainnya. Dalam film ini tidak ada satupun karakter yang bisa dibilang menjadi "sosok jahat". Semuanya menunjukkan sisi manusiawi seorang manusia dalam hubungan percintaan. Tidak ada seorangpun diantara ketiga tokoh utamanya yang bisa dipersalahkan, karena pada intinya adalah setiap orang memang punya kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing yang pada nantinya akan ada seseorang yang bisa menerima segala kekurangan tersebut dan akan menjadi pendamping hidup orang itu. Dalam film ini yang terlihat adalah bagaimana disaat dalam hubungan percintaan, seseorang dipenuhi rasa ketidak puasan dan penuh dengan hasrat untuk mendapatkan segalanya dalam sebuah kisah cinta. Freddie memang membutuhkan segala pemuas terhadap dirinya yang setelah perang seolah kehilangan segala ketegangan dan pemacu adrenaline dalam hidupnya, dan ia menemukan itu pada hubungan seks. Begitu pula dengan Sir William yang punya segalanya baik uang dan rasa kasih sayang, namun ironisnya hal tersebut tidak bisa membahagiakan dua wanita paling berharga dalam hidupnya, yakni sang istri dan ibunya sendiri. Sedangkan Hester sendiri adalah sosok yang saya sebutkan sebagai orang yang ingin mendapatkan semuanya secara penuh dalam kisah cintanya, yang sayangnya hanya berujung pada kegagalan dan kesedihan. Overall, The Deep Blue Sea adalah sebuah kisah cinta yang tidak mudah diikuti karena alurnya yang lambat, kisah yang tersirat dan nuansanya yang begitu kelam, namun penampilan hebat Rachel Weisz membuat melodrama yang satu ini terasa begitu kuat.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar