DIARY OF A WIMPY KID: DOG DAYS (2012)

Tidak ada komentar
Saya sangat menyukai seri buku Diary of a Wimpy Kid yang dikemas dengan begitu unik dan lucu. Namun apa yang saya temui di film pertamanya adalah sebuah sajian yang sama sekali tidak lucu. Sosok Greg yang di buku meskipun sok tahu tetap bisa terasa lucu dan simpatik, di filmnya berubah menjadi salah satu protagonis paling menyebalkan sepanjang sejarah perfilman. Untung dalam film keduanya kekurangan tersebut berhasil diperbaiki. Greg menjadi tidak semenyebalkan film pertama meski masih belum selucu versi bukunya. Meskipun tidak pernah menyamai kualitas di bukunya, adaptasi film Diary of a Wimpy Kid nyatanya cukup laris di pasaran. Kedua film pertamanya berhasil meraup laba diatas $100 juta yang artinya franchise film ini masih akan berlanjut. Film ketiganya yang bertajuk Dog Days mengambil pendekatan yang cukup berbeda dari dua film pertamanya. Jika sebelumnya satu film berdasar dari satu buku, maka dalam Dog Days, dua buku langsung diadaptasi, yaitu The Last Straw dan Dog Days.

Kali ini Greg Heffley (Zachary Gordon) tengah berusaha menikmati liburan musim panas. Liburan musim panas yang ideal bagi Greg adalah bisa bermain game selama seharian penuh. Namun pandangan ayahnya (Steve Zahn) sangat berbeda. Bagi sang ayah, liburan musim panas yang ideal bagi anaknya adalah beraktivitas diluar rumah seperti berolah raga atau camping. Sedangkan sang ibu (Rachael Harris) malah beranggapan bahwa kegiatan harian dalam liburan musim panas sebaiknya dihabiskan dengan membaca buku dan mendiskusikannya bersama. Tentu saja ini bukanlah liburan musim panas yang diinginkan oleh Greg. Untungnya nasib baik masih berpihak pada Greg disaat Rowley (Robert Capron) mengundangnya untuk ikut datang ke country club, sebuah klub eksklusif dimana Rowley dan keluarganya adalah anggota disana. Diluar dugaan, Holly Hills (Peyton List), gadis yang selama ini disukai oleh Greg juga merupakan anggota dan mengajar tenis untuk anak-anak disana. Dari sinilah Greg berusaha menggunakan musim panas ini sebaik-baiknya untuk bisa mendapatkan Holly, meskipun tentunya banyak kebodohan yang ia lakukan. Disisi lain ia juga harus berusaha membuat ayahnya terkesan supaya ia tidak dimasukkan ke Spag Union, sebuah sekolah militer.

Tidak ada perubahan berarti dari film ketiganya ini jika dibandingkan seri-seri sebelumnya. Secara kualitas jelas masih jauh dibawah bukunya. Komedi konyol yang seringkali gagal memancing tawa, konflik dalam kehidupan Greg yang jika dalam bukunya penuh nuansa satir yang lucu namun dalam filmnya lebih banyak berisi kekonyolan yang tidak selalu berhasil untuk menjadi lucu. Bahkan film ketiga ini punya kualitas yang berada dibawah Rodrick Rules (film keduanya). Sebenarnya Dog Days bukanlah sajian yang buruk, namun sangat disayangkan film ini tampil begitu dangkal mengingat ada sangat banyak konten kehidupan anak-anak menjelang remaja bersama keluarganya yang ada dalam kisahnya. Dalam bukunya ada hal-hal lucu tentang masa remaja awal seperti Greg yang jijik saat harus melihat pria dewasa telanjang yang baginya itu adalah pemandangan yang menyeramkan. Dalam filmnya adegan tersebut diperlihatkan namun hanya sekedar numpang lewat untuk selipan komedi dangkal yang tidak terlalu mengena. 
Beberapa hal lain juga turut diangkat dalam Dog Days, seperti anak-anak yang lebih memilih menghabiskan waktunya seharian untuk bermain game daripada harus bersosialisasi dan bermain diluar, bagaimana orang tua berusaha membentuk anaknya untuk menjadi seperti apa yang ia inginkan tanpa mempedulikan kemauan sang anak, persahabatan, dan tentu saja cinta monyet. Semua hal-hal tersebut bisa kita cerna dengan mudah, dan siapapun bisa menikmati itu. Tapi pertanyaannya apakah penyajian dalam Dog Days cukup kuat sehingga isu-isu tersebut bisa mengena bagi penontonnya? Berbeda dengan bukunya yang meski tampil lucu dan konyol tapi masih bisa memberikan beberapa pesan, filmnya murni tampil sebagai sajian konyol belaka. Tapi toh pada dasarnya sutradara David Bowers memang sengaja membuat film ini sebagai film yang lebih menonjolkan kekonyolan daripada repot-repot menonjolkan pesan dan isu didalamnya. Hal inilah yang sering membuat saya kebosanan saat menonton, apalagi komedinya sering miss dan tidak lucu.
Akting para pemainnya adalah salah satu keunggulan film ini. Zachary Gordon makin menyatu dengan perannya sebagai Greg. Dia tidak lagi menyebalkan dan sok tahu seperti di film pertama. Greg sendiri tidak lagi berkesan sebagai "teman palsu" bagi Rowley yang hanya mengambil keuntungan saja. Disini Greg memang mengambil keuntungan dari Rowley tapi tidak terasa keterlaluan dan bisa dimaklumi. Zachary sendiri yang sekarang sudah berusia 14 tahun dan menginjak masa remaja juga turut tumbuh bersama karakter Greg, sehingga dalam Dog Days sendiri Greg sudah bukan lagi anak kecil menyebalkan. Dia memang masih sok tahu dan sok keren tapi lebih karena ingin mengambil simpati gadis pujaannya yang mana itu adalah hal wajar. Zachary Gordon yang bertambah dewasa juga beriringan dengan makin dewasanya karakter Greg, dan itu membuat sosoknya makin mudah disukai oleh penonton. Devon Bostick sebagai Rodrick juga masih sanggup memancing tawa dan masih menjadi karakter favorit saya. Tidak "sejahat" di film pertama tapi masih konyol dan usil. 

Diary of a Wimpy Kid: Dog Days bukanlah adaptasi yang sepenuhnya gagal meski masih belum bisa menyamai pencapaian bukunya dari hampir semua aspek. Saya sendiri tidak merasa bahwa installment ketiga ini adalah film yang buruk meski punya beberapa momen membosankan. Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah karena film ini sudah mencapai seri ketiga tapi masih juga belum sanggup mengangkat inti dari bukunya yang tidak hanya punya kekonyolan tapi berbagai pesan-pesan yang memang dibalut dengan unsur komedi. Tidak buruk tapi saya sudah mulai bosan dengan bagaimana film ini ditangani, saya harap jika film keempatnya dibuat, penggarapannya akan lebih memperhatikan kandungan kisahnya, walaupun jika tidak saya masih bersedia untuk menontonnya sebagai hiburan ringan yang akan segera terlupakan keesokan harinya.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar