HOUSE AT THE END OF THE STREET (2012)

1 komentar
Semenjak Winter's Bone nama Jennifer Lawrence jadi salah satu aset paling panas Hollywood. Selain tergabung dalam dua franchise besar yakni X-Men dan The Hunger Games, Jennifer Lawrence juga sempat membintangi film macam Like Crazy dan The Beaver-nya Jodie Foster. Bahkan namanya juga dijagokan mendapat nominasi Oscar (lagi) untuk Best Actress lewat penampilannya di Silver Linings Playbook. Seolah karir aktris yang baru berumur 22 tahun ini nyaris tanpa cela dengan mampu menyeimbangkan kualitas dan sisi komersil. Tapi entah bagaimana ceritanya Jennifer Lawrence bisa terdampar di sebuah film seburuk House at the End of the Street. Mungkin dia mengambil peran ini untuk memperluas jangkauan genre filmnya, tapi saya rasa masih ada banyak film horror/thriller yang punya kualitas jauh lebih baik daripada film yang sesungguhnya punya trailer cukup menyeramkan ini. Disini Jennifer Lawrence berperan sebagai Elissa, seorang gadis SMA yang baru saja pindah rumah dan tinggal bersama sang ibu (Elisabeth Sue). Mereka berdua pindah ke pinggiran kota tersebut dengan harapan bisa memulai hidup baru dengan lebih damai dan bahagia. Tapi ternyata terdapat sebuah misteri dan sejarah kelam di tempat tersebut. Dalam rumah yang berada di seberang rumah mereka berdua ternyata sempat terjadi sebuah tragedi berdarah.

Beberapa tahun yang lalu seorang gadis cilik bernama Carrie-Ann membunuh kedua orang tuanya dengan sadis lalu menghilang entah kemana. Kabar mengatakan ia mati tenggelam. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Carrie-Ann masih hidup didalam hutan. Elissa sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan ketakutan warga akan kisah tersebut. Dia malah berteman akrab bahkan mulai jatuh cinta dengan Ryan Jacobson (Max Thieriot) yang tidak lain adalah kakak laki-laki dari Carrie-Ann yang sekarang tinggal sendirian dirumah tersebut. Jujur di beberapa bagian saya merasa House at the End of the Street bagaikan sebuah usaha untuk membuat sebuah horror/thriller  yang mirip dengan Psycho-nya Hitchcock, hanya saja dengan tingkat kecerdasan cerita yang jauh berada dibawah. Kisah seorang pria anti-sosial yang menyembunyikan wanita yang merupakan orang yang ia sayangi di sebuah rumah misterius, lalu terjadi pembunuhan dan pada akhirnya terdapat twist di akhir memang kurang lebih mengingatkan saya pada Psycho. Bahkan adegan paling akhir di film inipun adalah sebuah kopian dari adegan penutup dalam film Hitchcock tersebut.
Tapi film garapan sutradara Mark Tonderai ini jelas sama sekali tidak menyeramkan ataupun menegangkan. Tidak ada momen yang bisa membuat saya berdebar-debar melihatnya, apalagi sampai membuat saya memalingkan muka atau memencet tombol pause di laptop saya. Tensi yang terasa datar-datar saja bahkan membosankan. Alur ceritanya klise dari awal sampai filmnya berakhir. Bahkan saya bisa bilang tidak ada misteri yang cukup menarik hingga membuat saya penasaran. Memang ada twist namun kejutan tersebut sebenarnya tidak penting karena sekali lagi tidak ada misteri yang cukup menarik untuk bisa diikuti. Hingga akhirnya saat muncul sebuah kejutan di ending, saya tidak merasa ada yang mengejutkan. Lagipula pada dasarnya twist yang dimunculkan sudah cukup tertebak. Beberapa adegan yang masuk kategori bodoh juga semakin membuat kualitas film ini makin terpuruk. Adegan bodoh yang saya maksud muncul baik itu saat porsi horror/thriller yang tentunya terasa tidak menyeramkan, dan porsi drama yang membuat saya tertawa karena kebodohan dari naskahnya. Naskah film ini juga seolah berusaha terlihat cerdas, dengan tidak hanya berfokus pada memberikan ketegangan namun juga memadukannya dengan kisah drama antar karakternya.

Sebenarnya itu adalah pilihan yang bagus untuk membuat filmnya tidak kering, namun eksekusi yang dilakukan dalam House at the End of the Street terlalu menggelikan. Berbagai konflik yang ada sangat terasa dipaksakan. Porsi dan peranan masing-masing karakternya juga terasa sangat asal dan dipaksakan. Pada akhirnya jangankan menjadi peduli pada setiap karakternya, saya malah dibuat bingung dengan porsi para karakternya yang cukup sering muncul lalu kemudian hilang lagi tanpa diketahui nasibnya. Bicara karakter yang ada tentu tidak akan jauh dari bicara akting pemainnya. Untuk hal ini, Jennifer Lawrence patut mendapat pujian. Sebenarnya sosok Elissa bisa menjadi tokoh wanita standar dalam film thriller Hollywood, tapi pembawaan yang dilakukan Jennifer Lawrence membuat karakternya jauh lebih menarik dan mudah disukai. Satu-satunya hal yang membuat saya masih bertahan menonton film ini hingga selesai adalah Jennifer Lawrence dengan akting yang baik, tampilan yang seksi, dan suara yang merdu saat ada adegan ia bernyanyi dengan gitar meski sangat sebentar. Elisabeth Shue juga tampil tidak buruk sebagai ibu Elissa. Max Thieriot terlihat kebingungan memainkan Ryan yang kompleks, dan Gil Bellows menggelikan sebagai seorang polisi.

House at the End of the Street adalah sebuah usaha membuat psychological-thriller seperti Psycho, hanya saja ambisi besar ini tidak dibarengi dengan eksekusi yang mumpuni. Hasilnya adalah sebuah film yang katanya horror tapi tidak seram, mengusung thriller tapi tidak menegangkan, berniat memperdalam hubungan antar karakter dan konflik drama tapi akhirnya berkesan dipaksakan dan asal-asalan, dan sebuah film yang berniat menjadi thriller cerdas penuh twist tapi sayang jatuhnya bodoh. Harapan saya yang sempat tinggi melihat sebuah trailer yang menegangkan dari film seorang Jennifer Lawrence lenyap sudah. Setiap aktor dan aktris hebat selalu punya noda hitam dalam karirnya walaupun sedikit, dan bagi Jennifer Lawrence inilah setitik nila yang jatuh tersebut.


1 komentar :

  1. hmmm... film ini baguslah kalo menurut gw. Ada tegang2nya juga, bikin gw yg tadinya ngantuk jadi melek. Jujur sampe akhir cerita gw masih bertanya2 sbnrnya siapakah sesungguhnya sosok carrie anne itu? ditambah kesexyan jennifer lawrence membuat film ini layak ditonton

    BalasHapus