Sekitar 20 tahun yang lalu, sutradara Ron Fricke dan produser Mark Magidson berkolaborasi membuat sebuah dokumenter non-naratif berjudul Baraka yang mendapat banyak pujian berkat keberhasilannya menampilkan berbagai keindahan dari segala hal dan tempat di seluruh dunia. Sampai pada tahun 2006 lalu keduanya memutuskan untuk bergabung kembali dan membuat Samsara. Setelah melakukan penelitian dari berbagai sumber termasuk photobook dan YouTube, proses syuting dimulai pada tahun 2007. Prosesnya sendiri dilakukan di 25 negara dan berjalan selama empat tahun lebih. Selain memakan waktu lama, berbagai perjuangan ekstra keras juga dilakukan dalam membuat film ini. Seperti melakukan pendakian di daerah Arizona selama empat jam "hanya" untuk mengambil gambar yang muncul selama delapan detik di filmnya! Bahkan demi mendapatkan gambar para jamaah haji di Ka'bah, sebuah gedung setinggi 40 lantai dibangun. Kata Samsara sendiri mempunyai makna perputaran hidup yang terjadi berulang kali mulai dari kelahiran, penuaan, kematian hingga kelahiran kembali. Lewat Samsara kita akan diajak melihat berbagai macam hal mulai dari gambar-gambar indah dari alam di seluruh dunia, lokasi-lokasi kuno dan bersejarah, sampai kehidupan modern di gedung-gedung beritngkat, pabrik makanan, restoran cepat saji dan masih banyak lagi.
Tentu saja Samsara memberikan pada penontonnya gambar-gambar indah yang seringkali membuat saya terperangah akan kemampuan film ini menangkap berbagai pemandangan-pemandangan tersebut. Memang saya seperti melihat sebuah photobook tentang pemandangan alam, tapi setidaknya Samsara bukan hanya menampilkan gambar yang indah tapi juga punya hal untuk diceritakan. Tidak hanya gambar alamnya yang indah, gambar tentang dunia modernnya pun tidak kalah menarik meski beberapa kali dibanding indah lebih terasa disturbing (pabrik pengolahan ayam, peternakan babi, orang-orang obesitas makan secara ganas mungkin tidak akan bisa dinikmati oleh beberapa penonton). Satu hal yang sering dikritik oleh beberapa review yang sudah saya baca tentang film ini adalah tidak adanya keterangan nama-nama lokasi yang dimunculkan, sehingga banyak penonton yang sebenarnya merasa tertarik dengan keindahan lokasi tersebut namun tidak tahu letak sesungguhnya. Saya sendiri sempat merasakan kebingungan akan hal itu, tapi kemudian saya menyadari mungkin saja ini semua disengaja oleh Ron Fricke. Memang semua itu adalah tempat yang berbeda di penjuru dunia, namun sebenarnya semua tempat itu adalah satu, berada di Bumi dimana segala kehidupan yang menjadi subjek film ini berada. Sekali lagi semua yang ada di film ini adalah sama, dan mengalami siklus kehidupan yang sama.















