COSMOPOLIS (2012)

Tidak ada komentar
Seorang David Cronenberg yang dikenal sebagai master of body horror dan sudah banyak menghasilkan berbagai film hebat memakai Robert Pattinson yang selama ini sering dikritisi kemampuan aktingnya? Jangan terlalu terkejut, karena Pattinson sebenarnya bukanlah aktor yang buruk, hanya saja jangkauan karakter yang bisa ia mainkan masih sempit. Pada akhirnya disaat ia menerima tokoh dengan karakterisasi dangkal seperti Edward Cullen aktingnya terlihat buruk. Cronenberg sepertinya menyadari potensi dari sang aktor dan memilihnya untuk menggantikan Colin Farrell sebagai bintang utama dalam sebuah film yang diadaptasi dari novel Cosmopolis karangan Don DeLilo. Namun Cosmopolis bukanlah sebuah body horror, karena seperti yang sudah dilakukannya selama beberapa tahun tearkhir Cronenberg masih berusaha mengesplorasi genre diluar body horror yang sudah membesarkan namanya itu. Cosmopolis akan mengajak kita berkeliling Manhattan dengan sebuah limousine mewah milik seorang milyuner muda bernama Eric Parker (Robert Pattinson). Seperti Holy Motors, film ini akan membawa kita pada sebuah perjalanan absurd bersama seorang karakter dan limousine-nya.

Di tengah kondisi kota yang tengah begitu ramai karena kedatangan Presiden Amerika Serikat, pemakaman seorang sufi rapper ternama Brutha Fez (K'naan) serta unjuk rasa anarkis yang terjadi, limousine milik Eric Parker melaju dengan perlahan. Kemana tujuannya? Menuju ke barber shop untuk memotong rambut. Ya, sekilas memang aneh melihat Eric menempun keramaian itu hanya untuk memotong rambutnya. Perjalanan yang ditempuh tentunya tidak biasa saja karena sepanjang perjalanan akan ada banyak orang yang "mampir" ke limousine Eric mulai dari Didi (Juliette Binoche) seorang konsultan seni yang juga selingkuhan Eric dimana mereka berdua berhubungan seks di dalam limo, Vija (Samantha Morton) chief advisor Eric, Jane (Emily Hampshire) kepala keuangan Eric dan masih banyak lagi termasuk seorang dokter yang datang untuk memeriksa kondisi prostat Eric yang mendiagnosa bahwa Eric punya prostat yang tidak simetris. Limousine milik Eric adalah limo yang sangat canggih, penuh dengan teknologi tinggi termasuk touch screen dan anti peluru. Eric sendiri adalah pria yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan di dalam limo pun ia benar-benar terisolasi dari dunia luar. Bagaikan sebuah pemerintahan kapitalis yang tidak mempedulikan hal lain selain kepuasan pribadi. Tidak mempedulikan betapa carut marutnya kondisi rakyat,sama seperti Eric yang bahkan tak bergeming saat limo miliknya diserbu para demonstran yang anarkis.

Dari begitu banyaknya orang, begitu ironis melihat satu-satunya yang tidak mampir adalah istri Eric sendiri, Elise (Sarah Gadon). Eric dan Elise baru menikah beberapa minggu namun sudah beberapa lama tidak berhubungan seks. Keduanya bertemu tapi lebih sering secara tidak sengaja, seperti saat Eric melihat Elise di dalam taksi hingga melihatnya di laur gedung teater. Diantara begitu banyak hal tentang bisnis dan politik yang mampir dalam kehidupan seorang milyuner seperti Eric ternyata justru cinta dari istrinya yang tidak singgah. Namun bukannya Eric tanpa cinta, karena dia punya selingkuhan dan juga berhubungan seks dengan salah seorang bodyguard wanitanya. Jadi kurang lebih menurut saya Cosmopolis adalah sebuah kisah tentnag seorang atau bisa juga sebuah sistem kapitalis yang menutup mata dan telinganya akan hal diluar dirinya. Limo mewah dan canggih tersebut adalah gambaran kemewahan dan kemegahan hidupnya. Selain itu dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki Eric bisa dengan mudah tidak mempedulikan hal lain hanya untuk melakukan hal sederhana yaitu potong rambut. Ah, sungguh hal ini mengingatkan saya pada beberapa oknum yang menghabiskan waktu dan uang begitu banyak untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak penting.
Cosmopolis naskahnya ditulis sendiri oleh Cronenberg dan kita bisa lihat bagaimana surealisme muncul sebenarnya bukan pada alur dasarnya tapi lebih pada karakter-karakternya. Tinda tanduk karakternya seperti mengadakan berbagai pertemuan di limo dan entah kapan tiba-tiba menghilang, lalu bagaimana baris dialog penuh filosofis dibacakan adalah bentuk surealisme dari film ini. Semua tokohnya berbicara dengan cara bicara yang terdengar datar. Selain itu baris dialog yang dilontarkan seringkali terasa tidak saling berhubungan. Misalkan salah satu tokoh bertanya seseuatu, kemudian tokoh yang lain akan melontarkan jawaban yang terasa tidak nyambung dengan apa yang sebelumnya dikatakan/ditanyakan. Tidak nyambung disini baik itu dari kata-katanya sampai emosi serta cara berbicara yang diperlihatkan oleh sang aktor. Namun jika diperhatikan baik-baik, setiap dialognya punya berbagai makna mengenai segala hal dalam kehidupan, mulai dari hal besar hingga hal kecil yang seolah bagaikan kata-kata tidak penting namun sebenarnya esensial. Hal inilah yang membuat Cosmopolis adalah sebuah tantangan besar bagi penontonnya. Didominasi oleh banyak dialog yang begitu filosofis dan penuh metafor, maka sekali saja anda mengalihkan perhatian diapstikan makna yang ada akan terlewat. 

Robert Pattinson sebagai Eric bisa dikatakan adalah pilihan yang tepat. Sosok milyuner yang flamboyan tentu sangat pas dengan tampilan fisik Pattinson. Lalu seperti yang saya bilang tadi bahwa Pattinson adalah aktor yang tidak buruk jika karakter yang dimainkan tepat. Dalam Cosmopolis yang penuh dengan tokoh yang bicara dengan nada datar layaknya robot Pattinson adalah pilihan yang tepat. Datarnya dialog bukan disebabkan bad acting tapi lebih kearah karakterisasi. Hampir semua karakternya bagaikan robot dan makin membuat saya merasa bahwa Cosmopolis ber-setting di dunia lain layaknya film-film David Lynch. Namun sayangnya hal itu membuat saya tidak merasakan sedikitpun ikatan emosional baik dengan karakter ataupun jalan ceritanya. Semuanya kosong dan itu membuat penonton rawan merasakan kebosanan. Karakterisasi seperti ini sah saja, karena di film-film Lynch saya menjumpai beberapa karakter macam ini, namun bedanya di film Lynch surealisme pada karakternya tidak tanggung-tanggung. Alur yang disampaikan juga sangat gila. Sedangkan dalam Cosmopolis alurnya penuh dengan dialog, tidak terlalu twisty dan karakternya terasa tanggung. 

Sesungguhnya perjalanan yang menimpa Eric cukup menarik. Dilihat dari karakternya seiring berjalannnya waktu Eric perlahan mulai berubah dari sosok milyuner yang dingin penuh kemapanan hingga lama-lama berubah menjadi milyuner yang tengah terancam bangkrut serta membuatnya lebih humanis dengan mulai merasakan takut dan sedih akibat berbagai permasalahan yang ada. Di paruh akhir, hal Ini bagaikan sebuah kapitalisme yang perlahan mulai jatuh, dunia yang mulai mencapai zaman dystopia, dan tentunya seorang milyuner tanpa perasaan yang mulai menemukan sebuah perasaan. Cosmopolis juga sebuah kisah tentang seseorang yang mendambakan sebuah keseimbangan dalam hidupnya namun gagal mendapatkan itu, terlihat dari metafora tentang prostat tidak simetris milik Eric. Cosmopolis adalah sebuah film penuh filosofis yang ditampilkan dengan konsep yang brilian. Cronenberg juga begitu hebat dalam menampilkan gambar-gambar yang variatif meski setting hanya didalam sebuah limo. Tapi sayang film ini punya satu kekurangan besar yang vital, yakni tidak adanya emosi yang terbangun sehingga meski penonton bisa menangkap filosofi dan muncul dengan interpretasi masing-masing, mereka tetap tidak akan merasakan bahwa ini adalah film yang memiliki hati. Cosmopolis bercerita tentang manusia yang bagaikan robot, namun filmnya sendiri terasa seperti robot yang tidak berperasaan.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar