DR. NO (1962)

1 komentar
Film pertama yang menampilkan sosok James Bond di layar lebar ini bukan hanya mempengaruhi popularitas dari karakter ciptaan Ian Fleming ini, tapi juga punya dampak yang begitu besar pada dunia perfilman bahkan berbagai macam pop culture ikut terpengaruh oleh film ini. Semenjak rilisnya Dr. No, novel-novel yang menampilkan James Bond laku keras. Nama Sean Conery sang pemeran Bond mulai dikenal lewat film ini. Begitu pula Ursula Andress yang mulai menjadi ikon seks berkat kemunculan legendarisnya dengan mengenakan sebuah bikini. Bahkan bikini yang ia kenakan menjadi sebuah tren fashion saat itu. Dengan bujet hanya $1,1 juta, Dr. No sanggup meraih pendapatan mendekati $60 juta, sebuah angka yang fantastis mengingat saat itu James Bond belum setenar sekarang. Semenjak kemunculannya disini, genre film yang menampilkan mata-mata mulai diminati, meski pada awalnya James Bond sempat mengundang kontroversi dengan kebruralannya yang diperbolehkan asal membunuh dan kegemarannya berhubungan seks dengan wanita-wanita yang ia temui. Bond versi Conery memang tidak sekelam versi Craig, tapi juga tidak sekonyol Roger Moore ataupun Pierce Brosnan yang meski keren tapi filmnya terlalu banyak dihiasi gadget konyol.

Dibuka dengan opening dan music theme legendaris yang membuat saya langsung tersenyum senang, film ini akan mengajak kita melihat kasus hilangnya John Strangways (Timothy Moxon), salah seorang anggota intelegen Inggris yang bertugas di Jamaika.Untuk menyelidiki kasus tersebut dikirimlah James Bond (Sean Conery) si agen 007 untuk mencari tahu kebenaran di balik hilangnya Strangways. Disana Bond juga dibantu oleh agen CIA, Felix Leiter (Jack Lord) dan Quarrel (John Kitzmiller) seorang warga sekitar yang sempat bekerja bagi Strangways. Tentunya Bond juga akan bertemu dengan Bond Girlsi yang akan membantunya, siapa lagi kalau bukan Honey Ryder (Ursula Andress). Perlahan Bond mulai menemukan fakta tentang keberadaan Dr. Julius No (Joseph Wiseman) yang menjalankan proyek misterius di salah satu pulau terlarang disana. Hilangnya Strangways pun ternyata ada hubungannya dengan Dr. No yang punya sebuah rencana jahat yang dapat membahayakan dunia.

Cerita yang ditawarkan dalam Dr. No memang sangat simpel. Memang ada misteri dan konspirasi tapi tidak dalam taraf yang kompleks. Tidak ada sosok villain yang kompleks pula, karena Dr. Julius No adalah murni seorang ilmuwan jenius gila yang memakai kepintarannya untuk berbuat kejahatan karena ditolak oleh negara Barat dan Timur. Hanya itu saja latar belakang yang disampaikan mengenai sang musuh pada kita. Tipikal modus operandi kejahatannya juga sudah sering kita jumpai ratusan kali di film. Alur ceritanya sendiri berjalan biasa saja dengan tidak adanya twist yang mengejutkan. Beberapa kejutan yang coba ditebar juga memang tidak dimaksudkan untuk memberi efek shocking melainkan sebatas menambah konflik. Tapi biar bagaimanapun Dr. No sudah memberikan cetak biru bagi plot film-film James Bond untuk kepedepan. Pertama dia akan datang ke kantor menerima perintah dari M, bertemu Miss Moneypenny, kemudian menerima gadget (meski di film ini sosok Q belum muncul) lalu barulah ia menjalankan misi. Tentunya dalam misi akan ada beberapa bond girls disana. Inilah Bond Formula yang telah menjadi klasik hingga kini.
Mungkin Dr. No tidak terasa kelam layaknya Skyfall. Beberapa humor ditampilkan disini sehingga membuat suasana filmnya terasa ringan. Bahkan banyak kritikus yang diawal perilisan mengatakan bahwa Dr. No lebih pantas disebut sebagai parodi (kalau ini parodi, 007 versi Roger Moore apa namanya?). Tapi yang saya suka dari film ini adalah bagaimana aksi James Bond tidaklah ditampilkan dengan terlalu muluk dan berlebihan. Tentu saja masih ada beberapa hal tidak masuk akal, tapi semuanya masih terasa manusiawi. Tidak ada gadget berlebihan seperti senapan pulpen atau mobil tembus pandang, cukup sebuah pistol saja yang Bond bawa. Bahkan untuk bersembunyi dari lawannya di sungai, Bond memakai cara tradisional dengan bernapas memakai potongan bambu. Adegan car chase berjalan cukup seru tanpa ada ledakan bombastis yang berlebihan. Adegan aksinya sederhana namun efektif. 

Saya cukup suka Bond versi Conery yang flamboyan dan punya selera humor tapi masih seorang agen rahasia yang tangguh dan cukup brutal. Saya juga baru pertama kali melihat Bond yang begitu berantakan dan terluka di film ini (Bond versi Craig adalah pengecualian). Mungkin yang kurang dari sosok Bond disini adalah tidak adanya latar belakang yang cukup kuat. Saya sendiri bisa menyukai Bond disini karena sudah terlebih dahulu mengenal Bond sebagai karakter legendaris. Tapi disaat film ini pertama rilis, saya memaklumi jika ada berbagai macam pihak yang tidak menyukai sosoknya bahkan menyebut James Bond sebagai perlambang agen kapitalis. Tentu saja sosok pria misterius yang juga seorang playboy dan tidak ragu-ragu untuk membunuh lawannya tidak akan mudah mengambil simpati penonton. Ursula Andress sebagai Honey Ryder sang bond girls juga dengan luar biasa menjabarkan makna sebuah keseksian dalam perannya disini. Bikini yang di zaman sekarang sudah terlihat biasa terasa luar biasa, begitu juga di adegan-adegan lain, Ursula masih tetap punya sex appeal yang tinggi. Seorang bond girl yang sempurna dalam sebuah film James Bond yang bagi saya bukanlah terbaik namun menjadi panutan bagi tidak hanya film Bond berikutnya tapi juga film bertemakan agen rahasia.


1 komentar :