HOPE SPRINGS (2012)

2 komentar
Tahun 2012 lalu merupakan tahun yang tidak mengesankan bagi genre komedi romantis, setidaknya menurut saya. Para penonton nampaknya juga mulai bosan dengan genre yang satu ini karena jarang sekali memberikan inovasi pada ceritanya. Tapi Hope Springs bukan sekedar komedi romantis biasa. Film ini datang dari sutradara David Frankel yang selama ini terkenal mampu memberikan sentuhan yang cukup bagus dalam film yang sebenarnya punya cerita biasa saja macam The Devil Wears Prada atau Marley & Me. Jajaran pemainnya juga sangat menjanjikan karena ada dua nama senior yaitu Tommy Lee Jones dan Meryl Streep sebagai pemeran utama serta Steve Carell sebagai pemeran pendukung. Dari jajaran cast-nya sendiri sudah terlihat keunikan karena diisi oleh nama-nama senior. Ya, Hope Springs adalah sebuah komedi romantis tentang kisah percintaan dua orang yang sudah bisa dibilang tua. Bukan hal baru memang, karena Streep sendiri pernah bermain dalam film sejenis di It's Complicated, namun tentunya ini adalah sebuah premis yang menarik. Lewat aktingnya film ini juga Meryl Streep mendapat nominasi Golden Globe yang ke-27 atau yang terbanyak sepanjang sejarah. Hope Springs akan membawa kita pada kisah suami istri Arnold (Tommy Lee Jones) dan Kay (Meryl Streep) yang sudah 31 tahun menikah namun tengah mengalami permasalahan pada pernikahan mereka.

Meski merupakan suami istri, mereka tidak pernah lagi tidur dalam satu kamar. Bahkan sudah sekitar empat tahun mereka tidak berhubungan seks. Hal itu membuat Kay merasa pernikahannya begitu hampa, apalagi keseharian mereka hanya diisi rutinitas yang selalu sama. Pagi hari Arnold hanya akan membaca koran sambil sarapan, lalu pergi ke kantor dan di malam hari ia hanya terus-terusan melihat acara golf di TV. Hal itulah yang membuat Kay memutuskan mengajak Arnold untuk mengikuti konseling intensif selama seminggu di sebuah kota kecil di daerah Maine. Konseling itu dilakukan bersama seorang pakar pernikahan bernama Dr. Bernie Feld (Steve Carell). Meski awalnya menolak tapi pada akhirnya Arnold memutuskan ikut juga. Disana keduanya mulai berusaha mengungkapkan masalah apa saja yang terjadi pada pernikahan mereka dan perasaan yang mereka rasakan. Keduanya "dipaksa" untuk secara kooperatif memperbaiki pernikahan mereka. Tentu saja cerita yang ditawarkan tersebut terasa tidak punya hal yang baru dan spesial. Seperti biasa akhir ceritanya juga sudah bisa dengan mudah ditebak. Namun pemilihan karakter orang tua dengan pernikahan yang sudah berlangsung puluhan tahun berpengaruh pada suasana yang terbangun dalam film ini.

Tentu saja Hope Springs punya beberapa selipan komedi yang berhasil memberikan tawa kecil pada saya. Tapi secara keseluruhan film ini punya suasana yang sedikit lebih kelam dibanding komedi romantis pada umumnya. Konfliknya yang mengenai sebuah pernikahan tentu membuat kisahnya lebih dewasa. Ini bukan sekedar konflik kisah percintaan yang ringan dengan bumbu pertengkaran, namun sebuah pernikahan yang tengah berada dalam bahaya dimana hasrat antara satu dan yang lain mulai dipertanyakan. Lagi-lagi bukan sebuah hal yang baru dalam film, namun untuk sebuah komedi romantis, sajian yang dewasa seperti ini terasa menyenangkan. Konfliknya jelas masih disajikan dengan ringan, tapi mampu membuat saya berpikir tentang makna sebuah pernikahan apalagi yang telah berlangsung hingga puluhan tahun. Apa yang patut diperjuangkan dari pernikahan tersebut? Apakah hanya rasa "sayang" karena sudah berlangsung lama? Apakah memang masih diperlukan sebuah cinta dan hasrat yang hangat dalam pernikahan tersebut? Ini adalah sebuah pencarian makna pernikahan, cinta dan pencarian harapan dalam sepasang suami istri.
Beberapa momen terasa cukup menyentuh berkat penampilan bagus dan chemistry yang kuat antara Meryl Streep dan Tommy Lee Jones. Streep sebagai Kay adalah wanita dewasa yang sangat menarik simpati. Dia menyimpan kesepian, kesedihan namun juga harapan dan cinta yang besar pada pernikahannya. Kay terlihat begitu sabar namun jauh di dalam terasa sebuah emosi yang terpendam dan bisa saja meledak. Streep mampu memperlihatkan itu dengan sempurna. Bukan akting terbaiknya tapi sebuah kesempurnaan jika konteksnya adalah sebuah komedi romantis yang ringan. Momen komedik yang ia munculkan tepat dan tidak hanya memberikan kelucuan tapi di beberapa bagian juga terasa getir. Tommy Lee Jones sebagai Arnold juga sama bagusnya. Dia adalah pria yang egois dan nampak selalu mengeluh dan nampaknya tidak peduli akan istrinya. Tapi jauh di dalam hatinya masih ada rasa sayang pada sang istri, hanya ia tidak tahu bagaimana memperbaiki keadaan yang ada, bukan tidak sadar. Dengan naskah yang sebenarnya standar, penampilan keduanya mampu memberikan emosi yang begitu baik pada film ini. Ada tawa dan kehangatan namun juga ada tangis dan kesedihan dalam kesepian yang begitu terasa.

Steve Carell tampil dalam peran yang agak berbeda jika dibanding peran-peran biasanya dalam film komedi. Sebagai seorang konselor yang kalem ia cukup terasa unik disini. Namun momen konseling yang ditampilkan sebenarnya biasa saja. Tidak ada hal yang spesial dan tidak digarap sebagai sebuah momen konseling yang nyata dan realistis. Memang pada akhirnya meragukan apakah masalah Kay dan Arnold selesai berkat konseling tersebut. Namun sebenarnya disitulah esensi kisahnya berada, dimana konflik dalam sebuah hubungan mempunyai penyelesaian yang berasal dari pasangan itu sendiri. Bagaimana mereka menemukan masalahnya dan pemecahannya. Bahkan esensi konseling itu sendiri sebenarnya bukanlah sang konselor memecahkan masalah namun membuat pasangan atau klien menemukan pemecahan masalah dari diri mereka sendiri sesuai dengan apa yang mereka mau dan butuhkan.

Hope Springs memang tidak terlalu spesial tapi dengan tema yang lebih dewasa serta akting bagus dari kedua pemain utamanya membuat film ini punya kedalaman kisah dan emosi yang jauh lebih baik dibanding film-film setipe lainnya. Patut disayangkan ending-nya dalam penyajian konflik selesai begitu saja dan terasa agak tiba-tiba, namun tetap saja ini adalah sebuah sajian yang menghibur sekaligus bisa dijadikan perenungan mengenai makna sebuah hubungan dan pernikahan. Tontonan yang manis, lucu dan menyentuh. Jadi apakah anda sudah memberikan yang terbaik, semua yang anda bisa bagi pasangan yang anda sayangi?


2 komentar :

  1. Sh*t parah! kata-kata terakhir bagus banget "Jadi apakah anda sudah memberikan yang terbaik, semua yang anda bisa bagi pasangan yang anda sayangi?" Quote of the year kayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha masak? Cuma sekedar nulis perasaan dari filmnya :D

      Hapus