DOOMSDAY BOOK (2012)

Tidak ada komentar
Tema yang menarik dan keberadaan Kim Ji-woon adalah alasan mengapa saya menonton film ini. Doomsday Book adalah sebuah antologi yang berisi tiga cerita mengenai bagaimana manusia secara sengaja/tidak sengaja melakukan hal yang menciptakan kehancuran bagi mereka sendiri. Dari ketiga cerita tersebut, Kim Ji-woon menyutradarai segmen Heavenly Creatures, sedangkan dua segmen lainnya disutradarai oleh Yim Pil-sung. Doomsday Book sendiri adalah film antologi dari Korea pertama yang pernah saya tonton. Berikut ini pembahasan masing-masing segmennya.

BRAVE NEW WORLD
Segmen pembuka ini bercerita tentang Yoon Seok-woo (Ryo Seung-beom) yang ditinggal sendirian di rumah setelah kedua orang tua dan adik perempuannya pergi berlibur. Seok-woo memang bukan anak kesayangan orang tuanya, bahkan ia sering mendapat perlakuan yang bisa dibilang tidak adil. Selama ditinggal oleh keluarganya, Seok-woo melakukan kencan buta dengan seorang wanita cantik bernama Kim Yoo-min (Ko Joon-hee). Yoo-min yang cantik dan seksi ternyata menyukai Seok-woo yang sekilas hanya pria cupu. Namun kebahagiaan keduanya mendadak berubah saat sebuah virus misterius mulai menjangikit semua orang, termasuk mereka berdua. Brave New World bukanlah sebuah pembukaan yang menjanjikan. Daripada menyajikan teror atau kisah perenungan, segmen ini justru lebih kental unsur komikal dan komedinya. Apalagi tokoh utamanya adalah seorang geek yang cupu dan sering bertingkah konyol. Namun komedinya tidak lucu. Usaha untuk menajabarkan kisah tentang bagaimana ulah manusia yang tidak peduli pada lingkungannya dan pada akhirnya menghancurkan mereka sendiri menjadi tidak mengena akibat nuansa komedinya yang gagal. Asal muasal virusnya juga tidak dijabarkan dengan jelas. Daripada menggugah kesadaran atau memberikan teror, segmen pertama ini justru terasa konyol.
2/5

HEAVENLY CREATURE
Segmen dari Kim Ji-woon yang paling saya tunggu ini berkisah di masa depan dimana robot sudah menjadi hal yang biasa untuk membantu kehidupan manusia. Park Do-won (Kim Kang-woo), seorang teknisi robot suatu hari dipanggil ke sebuah kuil untuk meneliti sebuah robot bertipe RU4. RU4 mengaku telah mendapat pencerahan dan semua orang di kuil percaya bahwa robot tersebut adalah Buddha. Benarkah RU4 memang Buddha? Ataukah hanya sebuah robot yang mengalami kerusakan? Diluar dugaan Kim Ji-woon tidak menghadirkan sebuah segmen yang brutal dan penuh kekerasan seperti yang jadi ciri khasnya selama ini. Dibanding dua segmen lain, Heavenly Creature jadi yang punya tempo paling lambat dan menghadirkan paling banyak perenungan tentang eksistensi makhluk hidup dan makna dibalik makhluk hidup itu sendiri. Tentunya ini juga adalah kisah tentang bagaimana manusia mencoba untuk bermain Tuhan dan justru malah mengancam umat manusia sendiri. Ide ceritanya jelas tidak baru, karena Heavenly Creature terasa seperti i-Robot hanya minus adegan aksi dan lebih banyak perenungan. 
3/5

HAPPY BIRTHDAY
Segmen penutup ini berkisah tentang Bumi yang terancam menghadapi kiamat setelah meteor berukuran raksasa mendekat dengan kecepatan tinggi. Tapi ternyata dibalik itu semua ada kejutan mengenai asal muasal datangnya meteor tersebut. Dibanding dua segmen lainnya, Happy Birthday memang masih berkisah tentang perbuatan manusia yang membuat dunia terancam kehancuran, tapi satirnya terasa kurang mengena. Apakah ini sindiran tentang bagaimana internet berjalan saat ini? Tapi bagi saya Happy Birthday adalah yang paling menghibur diantara kedua segmen lainnya. Sutradara Yim Pil-sung masih memilih pendekatan komedik, namun kali ini terasa lebih efektif jika dibandingkan Brave New World, meski masih banyak humor yang tidak lucu. Kejutannya unik dan cukup gila, hanya saja ending-nya terasa terlalu panjang bagi saya dan terlalu berusaha mendapatkan happy ending. Toh memang Doomsday Book memang sekumpulan kisah tentang kehancuran namun selalu menyimpan harapan guna menyadarkan umat manusia.
3/5

OVERALL: Doomsday Book punya hasil akhir yang berada dibawah ekspektasi saya. Film ini memang tidak berusaha memberikan teror, tapi lebih kepada memberikan perenungan kepada para penontonnya supaya mereka sadar bahwa kehancuran umat manusia justru bisa terjadi akibat ulah manusia sendiri. Tapi sayangnya perenungan tersebut tidak berhasil disampaikan secara maksimal akibat beberapa pendekatan yang terlalu komikal dalam dua segmen Yim Pil-sung. Sedangkan untuk segmen Kim Ji-woon punya potensi jauh lebih menarik dan mendalam, hanya saja terbatas oleh durasi. Mungkin jika dibuat versi film panjangnya akan jauh lebih bagus.


Tidak ada komentar :

Comment Page: