RECTOVERSO (2013)

2 komentar
Novel Rectoverso yang ditulis Dewi Lestari atau Dee adalah sebuah novel yang begitu spesial bagi saya. Saya yang bukan seorang pecinta novel bahkan termasuk malas membaca bisa dibuat begitu menyukai rangkaian 11 cerita pendek yang dipaparkan oleh Dee. Rectoverso bagi saya adalah sebuah kisah cinta yang mampu membuat pembacanya merasakan jatuh cinta saat membacanya. Saat mendengar bahwa akan dibuat film adaptasi dari novel tersebut, saya antara tertarik dan ragu. Tentu saja saya tertarik melihat bagaimana novel favorit saya diangkat dalam media film. Tapi tentunya saya ragu, karena mengangkat cerita dalam buku menjadi film bukan tugas yang mudah, apalagi film ini disutradarai bukan oleh nama-nama besar dalam dunia penyutradaraan, namun oleh lima wanita yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris, yaitu Marcella Zalianty, Olga Lydia, Rachel Maryam, Happy Salma dan Cathy Saron. Dari sebelas cerita, dipilih lima cerita yang beberapa diantaranya adalah cerita favorit saya dalam novel tersebut. Kelima cerita itu adalah Malaikat Juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat Buat Sahabat dan Hanya Isyarat. Tidak seperti novelnya yang menampilkan satu per satu ceritanya, versi film Rectoverso menghadirkan kelima kisahnya secara bergantian dimana satu kisah dengan kisah lainnya akan berjalan beriringan dari awal sampai akhir.

Malaikat Juga Tahu yang disutradarai oleh Marcella Zalianty adalah yang terbaik bagi saya. Bercerita tentang kisah cinta antara Abang (Lukman Sardi) yang seorang penderita autis dan Leia (Prisia Nasution), segmen ini punya kedalaman kisah yang paling bagus. Ceritanya paling mengena, akting para pemainnya bagus, dan punya momen puncak yang sanggup membuat saya begitu terharu. Momen puncak yang dirangkum dengan begitu baik dan menunjukkan bahwa Lukman Sardi sejatinya adalah salah satu aktor terbaik Indonesia saat ini jika dia lebih pandai memilih peran dalam film-filmnya. Malaikat Juga Tahu versi film pun bagi saya terasa sesuai dengan apa yang saya bayangkan disaat membaca ceritanya. Sedangkan Firasat yang disutradarai Rachel Maryam sayangnya terasa begitu lemah dalam menghadirkan konfliknya. Segmen ini punya potensi menghadirkan konflik batin yang bergejolak disaat seseorang harus berhadapan dengan firasat yang ia dapat mengenai sosok orang yang ia cintai. Tapi apa yang tersaji hanya sebuah kisah kegalauan Senja (Asmirandah) dimana cintanya terhadap Panca (Dwi Sasono) tidak kunjung bisa terucap. Kesan tragis yang dipunyai ending novelnya menghilang disini, bahkan entah saya yang salah menafsirkan atau memang begitu adanya, versi film ini punya interpretasi ending berbeda yang justru mengurangi esensi ceritanya.

Kemudian ada Cicak di Dindingi karya Cathy Saron. Saya tidak terlalu suka dengan cerita ini di versi novelnya, tapi saya begitu menantikan momen indah dimana Saras (Sophia Latjuba) menerima hadiah berupa lukisan cicak glow in the dark dari Taja (Yama Carlos). Sayangnya harapan saya tidak terpenuhi karena momen itu berakhir biasa saja. Sedangkan secara keseluruhan Cicak di Dinding tidaklah spesial namun juga tidak buruk. Kisah cintanya lebih liar jika dibanding segmen lain, dan Sophia Latjuba terlihat begitu menggoda disini. Tapi hanya itu, tidak lebih. Curhat Buat Sahabat yang disutradarai Olga Lydia adalah segmen yang paling saya tunggu, karena ceritanya adalah favorit saya di novel. Kisahnya simpel, yakni tentang curhatan Amanda (Acha Septriassa) kepada sahabatnya, Reggie (Indra Birowo) mengenai kehidupan cintanya yang baru saja menemui kegagalan. Kehangatan hubungan Amanda dan Reggie tergambar dengan baik disini, hanya melalui serangkaian obrolan dan beberapa flashback. Meski sederhana, Curhat Buat Sahabat terasa begitu manis dan mengharukan. Justru dengan kesederhanaannya itulah segmen ini sukses mengambil hati penonton, apalagi bagi mereka yang pernah merasakan apa yang terjadi dalam segmen ini.
Terakhir ada segmen Hanya Isyarat milik Happy Salma. Sayang sekali, segmen yang punya kisah sama sederhanannya dengan Curhat Buat Sahabat ini gagal memberikan kisah yang menyentuh. Kesederhanaan yang ada bukannya dimanfaatkan untuk membuat kisah yang down-to-earth namun justru terasa membatasi kisahnya untuk berkembang. Momen dimana Al (Amanda Soekasah) menceritakan kisah sedihnya di depan teman-temannya terasa biasa saja. Ini adalah sebuah kisah mengenai cinta yang tak terwujud dan tidak terungkapkan, namun saya tidak merasakan bittersweet yang harusnya terpancar dari Hanya Isyarat. Secara keseluruhan, Rectoverso tetap sebuah drama romansa yang tidak buruk, dan menyenangkan untuk diikuti. Tapi sayang, kisah-kisahnya yang punya kedalaman begitu baik terasa lebih dangkal disini. Bagi yang bukan pecinta novelnya mungkin akan menyukai, tapi saya yang begitu mencintai novelnya merasa bahwa adaptasi ini melupakan berbagai esensi tentang cinta dan kehidupan yang dikonfrontasikan oleh Dee dalam ceritanya. 

Salut pada editornya yang sanggup merangkai kelima kisahnya secara bergantian namun masih tetap bisa dinikmati. Saya sendiri agak menyayangkan bagaimana film ini dipresentasikan. Andai disajikan secara berurutan satu per satu, rasanya momentum klimaks dari masing-masing segmen khususnya Curhat Buat Sahabat dan Malaikat Juga Tahu akan sanggup membuat air mata ini mengalir. Tapi entah bagaimana dengan Firasat, Hanya Isyarat dan Cicak di Dinding yang terasa lemah itu. Sejatinya, Rectoverso adalah berbagai kisah tentang rasa cinta yang tak terucap, tak terbalas ataupun tak terwujud. Dibalik tiap-tiap kisahnya selalu ada aspek-aspek kehidupan yang memberi pengaruh, mulai dari firasat, hasrat seksual, ketulusan, saling menghargai, hingga masih banyak lagi. Sayangnya adaptasi film ini terasa menurunkan kedalaman dan kualitas cerita tersebut menjadi hanya sebatas kisah cinta yang menghibur untuk diikuti dan menyentuh di beberapa bagian, hanya sebatas itu.


2 komentar :

  1. Setuju! Sama dengan gw, "Firasat", "Hanya Isyarat", dan "Cicak di Dinding" tidak mampu mewujudkan kata-kata magis Dee dalam bentuk visual yang baik. Dialognya kaku banget.

    Btw, welcome to the LAMBs! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, paling kecewa sama Hanya Isyarat, padahal suka banget sama cerita di bukunya

      hehe thanks, mohon bantuannya buat memahami fitur-fitur LAMBs :D

      Hapus