RUROUNI KENSHIN (2012)

1 komentar
Meski bukan termasuk penggemar berat, di masa kecil dulu saya cukup suka mengikuti kisah Rurouni Kenshin (disini lebih dikenal dengan judul Samurai X) baik lewat manga ataupun anime-nya. Saya menyukai bagaimana kisahnya sanggup menggabungkan aksi yang keren dengan selipan humor segar lengkap disertai karakter-karakter yang punya ciri khas kuat. Selain itu kisahnya juga berpatokan pada sejarah yang nyata. Maka dari itu, cukup mengejutkan bahwa Rurouni Kenshin harus menunggu begitu lama untuk diadaptasi ke layar lebar disaat manga lain yang lebih baru macam Death Note hingga 20th Century Boys malah sudah punya tiga film layar lebar. Tapi memang kisah petualangan Kenshin Himura tidak mudah untuk dirangkum kedalam sebuah film. Manga dengan total 27 volume dan berbagai story arc yang penuh dengan konflik dan begitu banyak karakter membuat sutradara yang berniat membuat adaptasinya harus benar-benar jeli memilih kisah mana yang akan dijadikan dasar naskah filmnya. Pada akhirnya sutradara Keishi Otomo dan penulis naskah Kiyomi Fujii memilih untuk memperkenalkan kisah Kenshin sedari awal, dimulai dari masa disaat ia masih menjadi seorang pembantai bernama Battosai dan pada akhirnya memutuskan berhenti membunuh.

Sepuluh tahun semenjak peperangan usai, Battosai (Takeru Satoh) kini sudah bertobat dan menanggalkan julukan pembantai yang selama ini melekat padanya. Kini ia hanyalah Kenshin Himura sang pengembara. Perjalanannya membawa Kenshin tiba di Tokyo dan bertemu dengan Kamiya Kaoru (Emi Takei), seorang gadis yang juga merupakan pemilik perguruan Kamiya Kasshin. Lewat Kaoru pula Kenshin pada akhirnya mendengar cerita bahwa di Tokyo akhir-akhir ini terjadi kasus pembunuhan berantai dimana sang pembunuh mengaku sebagai Battosai si pembantai. Tidak hanya berusaha mencari sosok yang mengaku sebagai Battosai, Kenshin juga harus berurusan dengan Hajime Saito (Yosuke Eguchi) yang merupakan mantan anggota Shinsengumi yang notabene adalah musuh dari Kenshin di masa perang dulu. Disana pula Kenshin bertemu dengan seorang petarung bernama Sanosuke Sagara (Munetaka Aoki) yang kita tahu nantinya akan menjadi sahabat Kenshin.

Bicara soal cerita yang diangkat, Rurouni Kenshin memang tidak bisa dibilang sama persis dengan manga-nya, tapi perubahan yang dilakukan tidak sampai membuat adaptasi ini melenceng dari kisah aslinya. Pada dasarnya versi film ini memakai kisah Kanryu Takeda sang penjual opium. Bedanya jika di manga kita juga akan diperkenalkan dengan sosok Aoshi Shinomori beserta para Oniwabanshu lainnya. Tapi disini kita tidak akan melihat mereka, dan sebagai gantinya sosok Hajime Saito dimunculkan dan karakter Udo Jin-e yang memang salah satu musuh pertama Kenshin dijadikan lawan terkuat di film ini. Yang patut dipuji dari adaptasi kisahnya adalah bagaimana kisah perlawanan terhadap Kanryu berhasil sedikit dimodifikasi sehingga bisa mewadahi pengenalan karakter-karakter penting dalam kisahnya mulai dari Kenshin hingga Megumi Takani. Dihilangkannya Aoshi dan para Oniwabanshu sebenarnya keputusan yang tepat, karena akan sangat sulit jika harus mengembangkan latar belakang mereka semua dalam satu film ini. Sebagai gantinya ada beberapa sosok villain yang melambangkan masing-masing Oniwabanshu. Aoshi jelas digantikan oleh sosok Udo Jin-e. Sedangkan karakter Hannya dan Shikijo juga masing-masing punya "pengganti" di film ini.
Memuaskan dari segi pemilihan cerita, sebenarnya masih ada satu hal fatal lagi yang tersisa dari adaptasi sebuah manga. Apalagi kalau bukan penggambaran karakternya. Jika bicara yang paling memuaskan, saya puas terhadap penggambaran Kenshin, Kaoru dan Megumi. Takeru Satoh berhasil dengan baik memerankan sosok Kenshin yang bisa terlihat baik hati sebagai Kenshin, namun juga bisa terlihat sebagai pembunuh kejam saat bertransformasi menjadi Battosai. Dia juga pas saat harus melontarkan kata "oro" yang menjadi ciri khas seorang Kenshin Himura. Hanya saja saya merasa kurang berkaitan dengan hubungan antara mereka bertiga. Kenshin dan Kaoru yang saya tahu di manga punya cara interaksi yang lebih segar dan lebih aktif dari ini. Begitu juga dengan sosok Megumi yang sering digambarkan sebagai si rubah betina, disini ketiganya digambarkan terlalu "halus" hingga hubungannya kurang dinamis. Mungkin di sekuelnya hal tersebut bisa lebih digali lagi. Sedangkan sosok Sanosuk, Yahiko dan Saito sedikit meninggalkan kekecewaan. Sanosuke terlihat hanya seperti seorang preman jalanan biasa, Yahiko kurang tereksplorasi padahal nantinya dia adalah suksesor Kenshin. Sedangkan Saito yang merupakan salah satu karakter favorit saya dengan wajahnya yang dingin dan datar terasa kurang mempunyai kharisma disini.

Tentu saja membicarakan Rurouni Kenshin tidak akan terlepas dari koreografi pertarungan pedangnya yang selalu luar biasa di manga. Di versi filmnya ini, koreografi yang ditampilkan sebenarnya tidak buruk. Kenshin dengan teknik Hiten Mitsurugi-nya sanggup ditampilkan dengan cukup baik. Koreografi pertarungan yang lain juga tergarap dengan baik seperti misalnya saat Kenshin sendirian bertarung melawan banyak anak buah Kanryu. Tapi lagi-lagi saya masih merasa semua itu kurang maksimal. Saito dengan Gatotsu-nya yang seharusnya terlihat keren malah terlihat cupu disini. Saya yang mengharapkan konfrontasi awal Kenshin melawan Saito menjadi adegan dimana Saito mengeluarkan teknik andalannya itu harus kecewa. Begitu juga Sanosuke dengan zanbatou miliknya juga terlihat hanya seperti seorang pemuda urakan yang asal memainkan pedang pemenggal kuda tersebut. Untuk bagian klimaks-nya pun sebenarnya digarap rapih, hanya saja kurang maksimal untuk menjadi sebuah klimaks yang penuh greget. Pada akhirnya Rurouni Kenshin menjadi sebuah perkenalan bagi kisah Kenshin Himura di layar lebar yang sebenarnya cukup memuaskan meski masih banyak hal yang terasa mengganggu jika berpatokan pada manga-nya. Tapi setidaknya saya tidak sampai dibuat kecewa dan masih berharap banyak pada sekuelnya. Jika film ini dibuat trilogi saya harap Aoshi dan Oniwabanshu akan muncul di film kedua, dan mungkin Shishio Makoto akan muncul dalam Kyoto arc sebagai penutup trilogi.


1 komentar :

Comment Page:
Luthfi Prasetya Putra mengatakan...

Waduh, penasaran pengen liat ini. Film sudah ditangan tapi waktu berkata lain, hiks.