HANSEL & GRETEL: WITCH HUNTERS (2013)

Tidak ada komentar
Film yang berkisah tentang twist terhadap sebuah dongeng klasik memang masih menjadi tren. Kali ini giliran dongeng Hansel & Gretel ciptaan Brothers Grimm yang diadaptasi secara lepas. Yang menarik adalah film ini disutradarai oleh Tommy Wirkola yang terkenal lewat film zombie-nazi miliknya, Dead Snow. Dalam Dead Snow saya mengenal Wirkola sebagai sutradara penuh visi gila, dimana ia sanggup mencampurkan horror penuh darah dengan rangkaian komedi hitam yang lucu. Jadi harapan saya tentunya Hansel & Gretel: Witch Hunters juga akan menjadi sebuah film yang gila dan brainless. Dari judulnya sendiri kita sudah bisa membaca bahwa ceritanya akan mendapatkan twist. Bagaimana tidak? Hansel dan Gretel yang dalam dongeng aslinya dikisahkan adalah dua anak kecil yang tersesat di hutan, mengikuti remahan roti sebelum sampai di rumah milik penyihir yang akhirnya mengurung mereka disini keduanya justru dijadikan duo kakak-adik pemburu penyihir. Jalan cerita awal film ini masih mengikuti pakem dongeng aslinya dimana Hansel dan Gretel kecil tersesat di tengah hutan setelah ditinggalkan oleh sang ayah. Kemudian mereka menemukan sebuah rumah yang terbuat dari permen dan ternyata itu adalah rumah seorang penyihir jahat.

Kita semua tahu bahwa Hansel dan Gretel akan dikurung oleh penyihir tersebut sebelum akhirnya mereka berdua berhasil membunuh sang penyihir untuk kemudian hidup bahagia selamanya. Dalam dongeng, disitu adalah akhir cerita, namun dalam film ini semuanya justru baru dimulai saat itu. Selang 15 tahun kemudian, Hansel (Jeremy Renner) dan Gretel (Gemma Arterton) telah dikenal sebagai pemburu penyihir yang tersohor. Dengan bersenjatakan busur panah canggih hingga senapan sampai bazoka mereka berdua berkeliling untuk membunuh penyihir-penyihir jahat yang gemar menculik anak-anak. Sampai mereka tiba di kota Augsburg setelah Walikota meminta mereka untuk memburu penyihir yang telah menculik banyak anak-anak disana. Mereka harus berhadapan dengan sekumpulan penyihir yang dipimpin oleh Muriel (Famke Janssen) seorang penyihir jahat yang sangat kuat. Tanpa diduga Muriel sebenarnya tengah mempersiapkan sebuah rencana rahasia yang kejam. Masih ada beberapa twist pada lanjutan ceritanya, tapi pada dasarnya berbagai perubahan dari cerita aslinya tersebut tidak bisa disebut sebagai twist yang cerdas, karena itu semua hanya pembuka jalan bagi berbagai adegan aksi penuh darah dan tak berotak yang jadi sajian utama film ini.

Pada dasarnya memang tidak ada twist cerdas dalam ceritanya, tapi harus diakui perubahan tersebut cukup memberikan daya tarik. Tidak perlu bertanya-tanya latar belakang yang menjadikan Hansel dan Gretel sebagai witch hunters. Yang kita tahu hanyalah mereka berdua dsempat diculik oleh penyihir, kemudian kita interpretasikan saja mereka dendam pada penyihir lalu memutuskan untuk memburu semua penyihir yang ada di dunia. Tapi sekali lagi kedalaman cerita memang tidak diperhatikan disini. Twist yang diberikan adalah untuk membuka jalan supaya bisa menampilkan sebuah cerita ber-setting masa lampau tapi dua jagoan utamanya memakai senjata-senjata modern semacam bazoka hingga gatling gun. Mungkin sekilas itu adalah hal yang konyol, tapi percayalah penggunaan senjata-senjata tersebut berhasil membuat action sequence dalam film ini seru dan membuat sosok Hansel dan Gretel menjadi action hero yang cukup keren meskipun sama sekali tidak terasa adanya chemistry kakak beradik diantara keduanya. Tapi sekali lagi yang penting keduanya bisa beraksi dengan keren, karena itu adalah tujuan utama film ini.
Bicara soal action sequence, jangan lupa bahwa ini adalah film seorang Tommy Wirkola. Hal itu berarti kita bisa berharap akan ada darah yang tumpah serta berbagai macam adegan sadis sekaligus gila disini. Wirkola memang berhasil menyajikan berbagai macam adegan sadis mulai dari kepala yang pecah sampai tubuh yang terbelah. Tapi sayangnya tingkat kegilaan yang ada masih jauh dari yang saya harapkan. Jelas sekali Wirkola mengalah untuk kepentingan rating, sebuah hal yang wajar terjadi pada sutradara luar Amerika yang baru memulai debutnya di Hollywood. Mungkin untuk ukuran sebuah film blockbuster mainstream di Hollywood, Hansel & Gretel: Witch Hunters sudah cukup sadis, tapi tidak untuk ukuran Wirkola. Apalagi saya merasa aura bersenang-senang yang begitu kental dalam Dead Snow jauh menurun disini. Adegan sadisnya jauh lebih serius dan unsur komedi hitamnya jauh menurun pula. Tidak ada adegan kocak seperti usus yang terikat di sebuah pohon seperti di Dead Snow. Semua kekerasannya bisa membuat tersenyum dan menghindarkan dari rasa kantuk, tapi terlalu kaku dan kenakalan seperti yang saya harapkan.

Bahkan usaha untuk membungkus film ini dengan komedi dari dialognya juga kurang berhasil. Jeremy Renner tidak terlalu baik untuk menghantarkan baris dialog yang dimaksudkan sebagai line komedi. Aktingnya tidak buruk tapi kurang berhasil membuat karakter Hansel jadi lebih menarik. Sedangkan Gemma Arterton sebagai Gretel? Bagi para penonton pria pasti akan menyukai penampilan Gemma Arterton disini. Bahkan bagi mereka penonton pria yang menganggap kualitas filmnya busuk setidaknya akan selalu terhibur setiap kali Artertron tampil di layar. Famke Janssen sebagai sosok penyihir jahat Muriel juga sebenarnya tidak buruk namun masih saja terasa kurang greget sebagai seorang penyihir jahat yang kejam. Pada akhirnya saya merasa Hansel & Gretel: Witch Hunters gagal memenuhi ekspektasi saya terhadap kegilaan Tommy Wirkola karena disini dia masih terlalu sopan dan seolah melupakan untuk bersenang-senang dalam mengumbar kegilaan dalam kesadisan yang ada. Mungkin salah satu lelucon paling mengena adalah sosok troll buruk rupa yang diberi nama Edward.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar