AFTER EARTH (2013)

3 komentar
Saya bukanlah satu dari sekian banyak orang yang "bergabung" untuk mencela M. Night Shyamalan seolah-olah dia merupakan sutradara terburuk sepanjang masa menyaingi reputasi Ed Wood. Saya menyukai The Sixth Sense, Unbreakable hingga Signs yang menyeramkan meskipun punya twist yang mengecewakan. Bahkan jika dilanjutkan, saya masih menyukai The Village termasuk twist ending-nya yang sering dicap bodoh itu. Saya memang belum menonton Lady in the Water, tapi barulah pada The Happening saya merasa kecewa dan merasa film itu buruk meski punya premis yang potensial serta dibuka dengan cukup meyakinkan. Pada akhirnya memang karya terakhir Shyamalan, The Last Airbender adalah film yang amat sangat buruk, tapi sejujurnya saya masih yakin pada Shyamalan, termasuk apda twist ending yang menjadi signature miliknya. Kali ini Shyamalan kembali menggarap film yang jauh dari ciri khasnya (thriller supranatural) yakni sebuah science-fiction berbuujet $130 juta berjudul After Earth yang turut dibintangi duo ayah-anak, Will Smith dan Jaden Smith. Tentu saja banyak cerita yang mengiringi perilisan film ini, mulai dari tuduhan nepotisme dalam keterlibatan Jaden Smith, keraguan terhadap sang sutradara, hingga perdebatan tentang twist macam apa yang akan ia tampilkan kali ini.

After Earth ber-setting 1000 tahun di masa depan dimana pada saat itu manusia sudah meninggalkan Bumi yang sudah tercemar dan pindah ke planet baru bernama Nova Prime. Namun Nova Prime tidak sepenuhnya aman karena manusia masih harus menghadapi ancaman dari alien ganas bernama Ursas yang sanggup mendeteksi manusia dari rasa takut yang mereka keluarkan. Untungnya ada Jenderal Cypher Raige (Will Smith) yang tidak punya rasa takut dan memimpin para Ranger untuk menjaga keamanan Nova Prime dari serangan Ursas. Cypher sendiri punya seorang putera bernama Kitai (Jaden Smith) yang baru saja gagal dalam ujiannya menjadi seorang ranger. Untuk memperbaiki hubungan dengan sang putera yang telah rama merenggang, Cypher memutuskan membawa serta Kitai dalam sebuah misi yang ia rencanakan sebagai misi terakhirnya sebelum pensiun. Namun celakanya pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan pada akhirnya terjatuh di Bumi yang telah 1000 tahun tidak ditinggali manusia dan membuat spesies liar yang ada berevolusi menjadi monster-monster ganas. Pada kecelakaan tersebut Cypher mengalami cedera parah dan membuat Kitai harus sendirian mencari sisa reruntuhan pesawat guna mengirim sinyal bantuan.

Saya yakin tidak sedikit penonton yang terkecoh dengan trailer film ini. Melihat materi promosi tersebut saya mengira After Earth adalah sebuah suguhan film tentang survival yang penuh dengan adegan aksi yang memacu adrenaline. Namun pada kenyataannya After Earth bukanlah film yang berfokus pada adegan aksinya namun lebih kepada drama yang meliputi dua karakter utamanya. Jelas saya tidak menentang hal tersebut, justru bagi saya jika ide dasar tersebut mampu dieksekusi dengan maksimal, film ini akan berkali lipat lebih bagus daripada film-film sci-fi yang hanya berfokus pada adegan aksi saja. After Earth punya begitu banyak kandungan dalam ceritanya, mulai dari kisah coming-of-age seorang remaja, hubungan ayah dan anak yang tidak terlalu dekat, dosa masa lalu, hingga bagaimana seorang manusia mampu menyikapi rasa takut terbesarnya. Bukan sebuah hal yag mengejutkan melihat Shyamalan melakukan pendekatan itu, karena ia memang sudah sering memasukkan berbagai hal yang sifatnya spiritual untuk kemudian dibungkus dengan berbagai metafora. Metafora-metafora penuh kandungan filosofis  macam itu juga terlihat dalam After Earth. Saya suka dengan konsep filosofi dan metafornya, tapi lagi-lagi eksekusi Shyamalan terasa jauh dari maksimal.
Tidak ada momen yang sanggup menyokong dan memaksimalkan kandungan drama yang ada dalam film ini. Bicara hubungan ayah dan anak tidak ada momen menyentuh antara Cypher dan Kitai disini. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa hampir tidak ada adegan yang menyatukan keduanya secara langsung, karena kita lebih banyak difokuskan pada petualangan Kitai. Permasalahannya Jaden Smtih tidak punya kapasitas untuk membuat karakternya likeable.Yang ada saya justru malah dia menjadi karakter yang menyebalkan. Saya sama sekali tidak peduli apakah karakternya akan hidup, bahkan seringkali saya berharap Kitai dimatikan saja karena itu akan menjadi twist yang menarik dan memberikan dramatisasi pada film yang begitu datar ini. Saya cukup suka tentang filosofi rasa takut yang ditampilkan, namun secara keseluruhan film ini berjalan begitu datar tanpa ada ikatan emosi yang bisa membuat saya tertarik mengikuti jalan ceritanya. Lain halnya jika film ini dibalik ceritanya dengan menampilkan sosok Will Smith yang bertualang untuk menyelamatkan anaknya, saya yakin filmnya akan lebih hidup. Oke, drama yang menjadi sajian utama berakhir dengan datar, namun After Earth akan tertolong andaikan Shyamalan menyelipkan adegan aksi yang spektakuler di beberapa momen. Namun hampir semua adegan aksi rupanya sudah kita lihat di trailer malah apa yang kita lihat di trailer lebih dahsyat, bahkan klimaksnya terasa sangat biasa. Jadilah After Earth makin membosankan.

Jika drama dan adegan aksinya sudah gagal tampil maksimal, maka tinggal satu unsur lagi yang bisa diharapkan dari film sci-fi blockbuster seperti ini, yaitu efek CGI yang memukau. Tentunya dengan bujet sebesar itu, After Earth mampu menghadirkan gambaran alam Bumi 1000 tahun di masa depan yang meyakinkan serta gambaran hewan-hewan buas CGI yang nyata sekaligus menyeramkan. Namun lagi-lagi saya dikecewakan. Gambaran alamnya tidak buruk, tapi jelas tidak kreatif. Coba bayangkan bisa seliar apa imajinasi kita membayangkan Bumi yang sudah tidak ditinggali 1000 tahun kedepan. Mungkin ada efek pencemaran yang merusak dan memberikan dampak pada berubahnya Bumi dan masih banyak lagi. Namun yang terlihat disini hanyalah hutan biasa saja. Begitu juga dengan gambaran hewan buasnya yang jauh dari kata imajinatif. Khusus untuk para hewan, efek CGI yang ada benar-benar terasa kaku dan buruk untuk film berbujet $130 juta. Pada akhirnya hampir tidak ada hal yang memuaskan di After Earth kecuali konsepnya. Saya tidak masalah pada film yang punya alur lambat asalkan mampu mengikat. Terakhir kali saya mengantuk dan nyaris tertidur di bioskop adalah saat menonton John Carter, dan After Earth mengulangi pengalaman tidak menyenangkan tersebut. Film ini buruk dan saya mengatakan ini bukan karena saya membenci Shyamalan namun karena memang adanya seperti itu. Saya sendiri masih berharap Shyamalan diberi kesempatan lagi dan kembali pada genre thriller lengkap dengan twist ending yang telah menjadi ciri khasnya.

3 komentar :

  1. ah seru2 deh review nya, BTW agan orang mana aslinya?

    BalasHapus
  2. Makasih, asli jogja besar gombong gan :)

    BalasHapus
  3. wah ane harap2 cemas padahal kali aja sekota. niatnya mau minta filem2 agan.hehehe

    BalasHapus