CINTA DALAM KARDUS (2013)

1 komentar
Baru sekitar sebulan lalu Raditya Dika muncul dalam Cinta Brontosaurus yang sanggup mengumpulkan lebih dari 890.000 penonton, dia sudah kembali lagi dalam film berjudul Cinta Dalam Kardus yang disutradarai oleh Salman Aristo. Bagi para penikmat serial Malam Minggu Miko tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok Miko, tokoh utama film ini yang diperankan oleh Dika sendiri. Film ini memang mengambil cerita dalam dunia yang sama seperti serial tersebut. Saya sendiri bukan termasuk pecinta serial tersebut, bukan karena memang tidak suka tapi karena saya memang tidak menyempatkan diri untuk menontonnya. Tapi dengan kesuksesan Cinta Brontosaurus dan tentunya serial Malam Minggu Miko tidak ada salahnya kali ini saya menyempatkan diri mengikuti kisah cinta dari Raditya Dika yang tentunya seperti biasa penuh dengan hal absurd dan komedi konyol yang selalu menyentil aspek-aspek kehidupan remaja zaman sekarang. Dalam film ini Miko diceritakan tengah menghadapi konflik dalam hubungannya dengan sang pacar, Putri (Anizabella Putri). Selalu mendapat omelan dari sang pacar membuat Miko mulai merasa hubungannya sulit untuk dipertahankan lagi. 

Hal itu membuatnya memutuskan untuk melakukan stand-up comedy perdana di cafe langganannya. Saat melakukan persiapan, Miko memutuskan untuk membawa kardus berisi peninggalan 21 mantan gebetannya yang sebelumnya sempat ingin ia buang. Mengawali panggungnya dengan kurang lancar saat para penonton terus mencibir lawakannya, Miko memutuskan untuk mulai menggunakan satu per satu dari barang dalam kardus tersebut dan menceritakan kisah-kisah cintanya di masa lalu yang tentunya begitu absurd dan diisi kekonyolan. Cinta dalam Kardus sama halnya dengan performa Miko di panggung stand-up comedy. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan ceritanya dan merasa humor yang dilontarkan biasa saja, tidak terlalu lucu. Ada beberapa momen yang membuat tertawa tapi cukup banyak juga yang gagal. Namun layaknya performa dari Miko, disaat film ini mulai berjalan dengan perlahan saya mulai semakin menikmati sajian kisahnya dan tentunya dibuat tertawa dengan segala humor dan dialog yang terlontar dari karakter Miko. Sekilas humor ataupun cerita cinta dari Miko memang terasa absurd, tapi cobalah tengok lebih jauh lagi maka anda akan menemukan bahwa semua itu sebenarnya hal-hal yang selalu terjadi dalam hubungan cinta remaja saat ini.

Sebagai contoh lihatlah bagaimana film ini menyinggung tentang seseorang yang harus menjadi orang lain guna menyenangkan atau mendapatkan hati pasangannya. Ada begitu banyak hal-hal yang biasa terjadi dalam hubungan percintaan remaja diangkat, disindir ataupun dijadikan sebuah kisah absurd oleh film ini. Jika anda menonton film ini dengan pasangan anda, saya jamin sesekali kalian berdua akan saling berkata "kamu banget tuh" atau bahkan membuat anda terdiam memasang senyum simpul karena merasa tersindir oleh apa yang disajikan oleh film ini. Cinta dalam Kardus pada intinya memang mencoba memperlihatkan bagaimana seharusnya sepasang kekasih saling mengerti dan saling memahami diri pasangan apa adanya dan hingga aspek terdalam yang mungkin tidak pernah ditunjukkan secara langsung oleh sang pacar. Poin terbesar film ini adalah kebehasilannya membuat rangkaian kisah  cinta sehari-hari menjadi sebuah kisah cinta unik dan penuh dengan komedi yang bagi saya sendiri dipenuhi banyak sindiran. Memang tidak semua humornya berhasil memancing tawa saya, tapi setidaknya kadar kebehrasilannya lebih tinggi dari yang gagal. 
Tidak hanya pengemasan cerita dan humornya yang absurd saja kelebihan film ini tapi juga tata artisitik penggarapannya sendiri terasa unik. Pertama, film ini disajikan seperti sebuah pertunjukkan stand-up comedy dimana mayoritas film kita dibawa melihat Miko berceloteh diatas panggung sambil berinteraksi dengan para penonton. Jujur bagi saya hal ini berimbas positif dan negatif. Positifnya adalah masing-masing penonton merupakan tipikal karakter yang cukup unik mulai dari pasangan ABG ababil sampai pasangan suami istri. Interaksi mereka dengan Miko khususnya dari pasangan ABG tersebut seringkali berhasil menghidupkan suasana. Namun sering juga saya merasa tanggapan yang diberikan oleh para penonton terkesan dipaksakan dan terasa aneh bahkan beberapa kali garing. Sedangkan satu lagi poin positif adalah arti direction-nya yang menjadikan kardus sebagai bahan pembuat properti-properti yang disajikan dalam film. Kita seolah melihat sebuah pertunjukkan panggung yang setting dan propertinya dibuat dari kardus. Hal ini adalah sebuah poin plus yang begitu kreatif dan menyegarkan visual. Bahkan ada juga momen yang disajikan lewat gambar komik. 

Namun Cinta dalam Kardus tetaplah bukan sajian yang sempurna. Disamping beberapa kelemahan yang saya sampaikan tadi, masih ada beberapa hal yang membuat saya agak terganggu. Jujur tingkat absurd film ini bukan hanya menjadi poin positif namun juga beberapa kali menjadi poin negatif. Disaat keabsurdan yang ada gagal, saya dibuat berkata "apaan sih???" karena penempatannya juga terkadang terasa kurang tepat. Ambil contoh kemunculan Endah N Rhesa. Siapa yang tidak suka melihat performa duo yang keren ini? Tapi kemunculan mereka disini terasa tidak terlalu penting dan malah menurunkan tensi filmnya. Bagian ending-nya sendiri kurang mengena bagi saya. Andaikan film ini berakhir beberapa saat setelah pertemuan Miko dengan Putri pastinya saya akan dibuat begitu menyukai akhir ceritanya. Tapi secara keseluruhan Cinta dalam Kardus adalah sebuah sajian yang begitu kreatif baik dari tata artistiknya ataupun dari bagaimana konten yang diangkat dipoles menjadi sajian yang begitu unik. Tidak hanya lucu, film ini juga di beberapa bagian mampu terasa menyentuh mulai dari momen saat pemilik batu dalam kardus Miko diungkap sampai pada bagian pertemuan Miko dengan Putri di akhir film. Apakah saya berhasil dibuat penasaran akan Malam Minggu Miko lewat film ini? Mungkin tidak tapi saya akan menantikan film-film dari Raditya Dika berikutnya.

1 komentar :