BEHIND THE CANDELABRA (2013)

Tidak ada komentar
Behind the Candelabra adalah film terakhir dari Steven Soderbergh sebelum sang sutradara memutuskan untuk rehat dari dunia film guna menekuni seni lukis. Ide untuk membuat film ini sendiri sebenarnya sudah muncul sedari tahun 2000 saat Soderbergh tengah membuat Traffic. Saat itu sang sutradara mengutarakan idenya kepada aktor Michael Douglas yang juga turut bermain di film tersebut dan menawarinya peran sebagai Liberace. Namun karena saat itu Soderbergh masih kebingungan akan mengemas film ini dari sudut pandang seperti apa, maka proses itupun menjadi tertunda. Sampai pada tahun 2008 Soderbergh menghubungi Richard LaGravense untuk menulis naskah berdasarkan memoir berjudul Behind the Candelabra: My Life with Liberace yang ditulis oleh Scott Thorson. Namun meski sudah mendapatkan ide cerita, Soderbergh justru terganjal dalam usahanya mencari distributor. Berbagai studio menyatakan bahwa film ini terlalu gay dan dinilai tidak menjual. Sampai pada akhirnya HBO bersedia menjadi distributor dan Behind the Candelabra pun menjadi sebuah film televisi meski sebelumnya sudah diputar perdana di Cannes Film Festival. Behind the Candelabra berkisah tentang 10 tahun terakhir dari hidup pianis ternama Liberace beserta affair yang ia jalin dengan Scott Thorson.

Scott Thorson (Matt Damon) adalah pemuda berusia 17 tahun yang bekerja sebagai pelatih binatang untuk keperluan syuting film. Suatu hari di sebuah gay bar ia bertemu dengan seorang produser film bernama Bob Black (Scott Bakula). Bob kemudian menawari Scott untuk ikut dengannya guna mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan. Melalui Bob lah pada akhirnya Scott bertemu dengan Liberace (Michael Douglas). Tidak butuh waktu lama bagi Liberace yang saat itu sudah 58 tahun untuk tertarik dengan Scott yang secara usia jelas pantas menjadi anaknya. Liberace mulai mengundang Scott untuk datang ke rumahnya. Scott yang ahli menangani hewan pun menawarkan bantuannya untuk menyembuhkan anjing kesayangan Liberace yang mengalami kebutaan. Semakin lama hubungan keduanya makin berkembang dan Liberace pun menawari Scott sebuah pekerjaan untuk menjadi tangan kanannya. Sejak saat itupun Scott tinggal serumah dengan Liberace, dan hubungan cinta antara keduanya terjalin semakin kuat. Keduanya yang selama ini erat dengan kesendirian dan rasa sepi pun sama-sama menemukan sosok yang bisa menemani mereka.

Behind the Candelabra memang kisah tentang sepasang kekasih sesama jenis, dan disini akan ada adegan seks antara mereka berdua yang mungkin akan membuat banyak "penonton malas" menyatakan bahwa film ini terlalu gay. Ini adalah kisah sepasang kekasih gay tapi saya justru tidak memandang film ini sebagai film yang menitikberatkan kisahnya pada konteks gay. Bagi saya Behind the Candelabra tidak ubahnya sebuah kisah romansa antara dua orang manusia yang saling mencintai serta peduli satu sama lain meski tidak bisa dipungkiri hubungan mereka berdua erat kaitannya dan tidak bisa terlepas dari kebutuhan seksual masing-masing. Memang ceritanya sempat bertutur tentang bagaimana Liberace menutupi orientasi seksualnya terhadap publik. Juga ada pernyataan dari Scott mengenai dirinya yang biseksual pada Liberace, namun kita tidak tahu kebenarannya dan tidak pernah melihat ia berhubungan dengan wanita. Tapi kedua kisah itu tidak pernah disinggung secara lebih mendalam. Singkatnya, ada kisah tentang kaum gay yang mencoba menutupi orientasi seksualnya namun bukan itu yang jadi sorotan utama. Jadi kurang tepat menyebut film ini terlalu gay karena bagi saya Behind the Candelabra adalah murni kisah pasang surut percintaan dua manusia.
Tapi jika ditelaah lebih dalam lagi, film ini juga mengeksplorasi lebih dari sekedar kisah cinta. Behind the Candelabra juga bertutur mengenai kesepian yang dialami oleh selebirits dalam hal ini Liberace. Memang ia punya begitu banyak penggemar yang memujanya, setia menonton dan bersorak di konsernya. Namun dibalik itu ia hanya seorang pria tua yang selalu sendiri dibawah gemerlapnya panggung pertunjukkan sebagai pianis ternama. Sedangkan disisi lain kesepian juga dialami oleh Scott yang tidak lagi mempunyai orang tua dan sepanjang hidupnya selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Hidupnya tidak pernah mudah dan dia belum menemukan orang yang benar-benar menyayanginya. Pada akhirnya saat keduanya bertemu terjalinlah sebuah hubungan cinta yang tidak hanya rumit namun juga terasa twisted. Bagaimana keduanya yang punya kepribadian berbeda saling berinteraksi pada akhirnya menciptakan sebuah hubungan yang kompleks diluar fakta bahwa keduanya gay pun sudah membuat hubungan mereka kompleks. 

Filmnya dirangkum dengan begitu gemerlap, sama gemerlapnya dengan karir seorang Liberace. Bagaimana momen konser Liberace yang penuh cahaya dan kostumnya yang tidak kalah nyentrik jika dibandingkan Lady Gaga terasa begitu mempesona. Behind the Candelabra pun turut disisipi unsur bloack comedy yang makin membuat jalannya cerita menarik. Terkesan ringan dan cerah diawal, sampai perlahan semakin penuh konflik dan menjadi cukup kelam di paruh akhir, sama seperti hubungan Liberace dan Scott. Bicara kedua sosok tersebut, jelas pujian patut diberikan pada Michael Douglas dan Matt Damon. Melihat Michael Douglas ingatan saya tentu tidak pernah lepas dari karakter Gordon Gekko yang ia mainkan di Wall Street, seorang pialang saham licik, kejam dan penuh wibawa. Disini saya dikejutkan dengan penampilannya yang flamboyan, cara bicaranya yang akan membuat banyak orang geli, dan segala gerak-geriknya yang membuat karakter Liberace bisa dengan mudah terjerumus sebagai karakter komedi. Tapi lewat pengemasan Douglas, Liberace lebih terasa sebagai sosok selebritas glamor , nyantrik nan flamboyan dibandingkan karakter komedik. 

Matt Damon juga tidak kalah hebat dalam memainkan karakter yang usianya 26 tahun lebih muda dari dirinya. Matt Damon yang sudah mendekati 43 tahun disini memainkan Scott Thorson yang masih remaja 17 tahun, dan saya tidak pernah merasa sang aktor terlalu tua untuk peran tersebut. Dengan semnpurna Matt Damon memainkan sosok remaja naif yang terpukau dengan seorang Liberace. Damon juga dengan mulus menampilkan transformasi Scott yang perlahan hidupnya hancur karena adiksi drugs. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kedua aktor hebat ini berinteraksi dan membuat saya percaya bahwa mereka berdua benar-benar saling mencintai...amat sangat mencintai dan menyayangi satu sama lain. Pada akhirnya Behind the Candelabra memang terasa jauh dari ukuran film terbaik Steven Soderbergh. Diluar barter dialog dan interaksi luar biasa antara kedua karakternya dan beberapa adegan yang mungkin sulit untuk dilihat banayk orang (adegan seks dan operasi plastik yang cukup vulgar), kisah yang diangkat bagi saya kurang terasa mendalam meski pada akhirnya ditutup dengan ending indah nan menyentuh yang terasa mengharukan. Film yang menyenangkan ditonton, tapi untuk film yang menjadi karya terakhir(?) Steven Soderbergh, Behind the Candelabra masih kurang maksimal.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar