PRINCE AVALANCHE (2013)

Tidak ada komentar
Sutradara David Gordon Green adalah orang yang berada dibalik kesuksesan sebuah komedi gila berjudul Pineapple Express. Semenjak kesuksesan film tersebut, namanya seolah begitu lekat dengan film-film komedi "jorok" setelah ia merilis Your Highness hingga The Sitter. Tapi sebelum menjamah ranah komedi mainstream, sebenarnya ia lebih banyak berkecimpung di dunia perfilman indie lewat film-film drama berbujet rendah. Namun sang sutradara nampaknya rindu untuk merasakan kembali bagaimana rasanya membuat film kecil yang kental dengan nuansa indie setelah ia memutuskan membuat Prince Avalanche yang tidak mendapat publikasi apapun saat proses produksi atas permintaannya sendiri. Film yang debut di Sundance Film Festival 2013 ini memang sebuah drama kecil dengan bujet hanya $60 ribu dan dibintangi oleh Paul Rudd dan Emile Hirsch. Naskahnya yang ditulis oleh David Gordon Green sendiri merupakan adaptasi lepas dari sebuah film Islandia berjudul Either Way yang rilis pada tahun 2011 lalu.

Alvin (Paul Rudd) dan adik pacarnya, Lance (Emile Hirsch) tengah menghabiskan musim panas mereka dengan bekerja sebagai pembuat marka jalan di sebuah jalanan di pinggiran kota yang begitu sepi. Di tempat yang tidak ada orang selain mereka berdua tersebut, Alvin dan Lance harus menghabiskan hari-hari mereka dengan beraktivitas hanya berdua. Masalahnya adalah mereka berdua sama sekali tidak menemukan kecocokan satu sama lain. Alvin yang mempekerjakan Lance merasa bahwa adik pacarnya itu adalah seorang laki-laki tidak berguna yang tidak berkompeten dalam melakukan apapun dan hanya memikirkan hasratnya untuk berhubungan seks. Sedangkan Lance merasa bahwa pekerjaan yang ia jalani begitu membosankan, sama membosankannya dengan sosok Alvin yang tidak bisa sedikitpun ia ajak bersenang-senang. Dengan penuh keterpaksaan mereka berdua harus menghabiskan sisa musim panas hanya berdua saja di tempat terpencil tersebut sambil sesekali berinteraksi dengan seorang supir truk dan seorang wanita tua misterius yang tempat tinggalnya habis terbakar setahun yang lalu.

Inilah Prince Avalanche, sebuah drama-komedi aneh namun sederhana yang hanya menampilkan interaksi antara kedua karakter utamanya sepanjang film. Kita akan diajak melihat bagaimana hubungan pertemanan antara Alvin dan Lance secara perlahan mulai tumbuh setelah diawal keduanya tidak lebih dari sekedar dua orang pria yang terpaksa berteman padahal menyimpan ketidak sukaan antara satu dengan yang lain. Tentu saja untuk menjadi film yang baik, maka proses berjalannya hubungan mereka berdua harus terasa halus dan tidak dipaksakan untuk berubah, dan dalam hal ini Prince Avalanche cukup berhasil. Jika anda seorang pria yang harus berada dengan seorang pria lain yang tidak terlalu anda kenal, maka topik pembicaraan apakah yang akan menyatukan kalian berdua dengan mudah? Jawabannya adalah wanita. Entah itu membahas tentang wanita cantik yang kalian berdua lihat saat itu, atau membicarakan hubungan dengan pacar atau gebetan masing-masing. Dalam memperlihatkan bagaimana Alvin dan Lance semakin akrab satu sama lain film ini juga menambil pendekatan serupa, dan hal tersebut membuat jalannya interaksi dan hubungan keduanya terasa mulus dan tidak dipaksakan.
Tentu saja ini adalah sebuah studi karakter yang begitu mengandalkan dialog antara kedua tokoh utamanya sebagai pondasi serta kekuatan utama film ini. Dua karakter yang ditampilkan adalah dua sosok yang cukup bertolak belakang dan hal tersebut sudah merupakan bekal yang cukup untuk menghadirkan sebuah drama bromance yang mengetengahkan studi terhadap kedua karakternya. Alvin adalah pria yang merasa jauh lebih dewasa dan hebat daripada Lance, sedangkan disisi lain Lance adalah seseorang yang ingin mendapatkan kesenangan dan merasa pacar kakaknya itu hanya seorang pria membosankan yang sok hebat. Dalam urusan cinta, keduanya juga berbeda dimana Alvin adalah seorang yang mempercayai cinta sejati sedangkan Lance lebih mementingkan urusan seksual dalam kehidupan cintanya. Dengan dua sosok yang begitu berbeda, Prince Avalanche harusnya bisa menjadi sebuah drama yang begitu menarik. Namun sayangnya meski mengandalkan interaksi keduanya, dialog yang dihadirkan seringkali terasa kurang menarik. hingga menciptakan kebosanan di beberapa bagian.

Untungnya meski terkadang dialognya kurang mengena, konflik yang hadir antara Alvin dan Lance masih dikemas cukup menarik. Pertengkaran yang beberapa kali terjadi diantara mereka berdua sanggup memberikan tawa atau setidaknya membuat saya tersenyum melihat tingkah polah keduanya yang terasa kekanak-kanakan. Selain berutur tentang pertemanan unik antara Alvin dan Lance, Prince Avalanche juga nampak memberik gambaran tentang orang-orang yang dirundung sepi. Ya, ini juga merupakan kisah tentang bagaimana orang-orang yang terjebak dalam kesepian dan kebingungan mencari arah perjalanan hidup mereka secara perlahan mulai menemukan tempat berlabuh dan menemukan sosok yang membuat mereka tidak lagi merasa sendirian. Mungkin juga itulah makna dari kemunculan sosok nenek misterius yang karakternya ikut menambah kesan "aneh" dalam film ini. Prince Avalanche mungkin tidak stabil dalam perjalanannya, tapi masih tetap merupakan sebuah dramedi persahabatan yang cukup menarik di tengah segala keanehan yang ia miliki. Ah, jangan lupakan juga bagaimana indahnya gambar-gambar alam yang ditampilkan oleh film ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar