UZUMAKI (2000)

Tidak ada komentar
Bukan, ini bukan film tentang Naruto Uzumaki dan ninja Konoha dalam komik Naruto meski pada faktanya film garapan Higuchinsky ini memang diangkat dari buku komik. Uzumaki adalah adaptasi dari komik horor berjudul sama buatan Junji Ito. Saya sendiri sudah lebih dahulu membaca versi manga-nya dan menempatkannya sebagai salah satu manga tergila yang pernah saya baca bersandingan dengan Panorama of Hell milik Hideshi Hino. Ceritanya yang mengisahkan tentang obsesi sebuah kota kecil pada objek berbentuk spiral memang sangat unik, original dan tentunya penuh keabsurdan. Tapi yang paling saya suka dari manga tersebut adalah bagaimana Hideshi Hino mampu memvisualisasikan segala keanehan tersebut lewat goresan gambar yang begitu disturbing sekaligus memiliki keindahan tersendiri. Pada akhirnya saya memang agak dikecewakan oleh ending-nya yang menyisakan terlalu banyak misteri setelah selama 19 chapter saya dibuat terus bertanya-tanya tentang asal muasal obsesi atau kutukan tersebut. 

Tentu saja saya penasaran akan bagaimana hasilnya jika Uzumaki dibuat dalam media film, apalagi saya mendengar bahwa versi filmnya punya ending yang berbeda dari manga dikarenakan saat filmnya memulai masa produksi, manga-nya belum selesai. Jadi selain berharap akan sajian penuh kegilaan saya juga berharap akan menemukan konklusi yang lebih memuaskan dalam versi filmnya ini. Uzumaki seperti yang sudah saya singgung diatas punya kisah yang unik mengenai berbagai kejadian-kejadian aneh yang menimpa sebuah kota kecil bernama Kurouzu. Fenomena yang terjadi pada awalnya adalah obsesi tidak biasa yang dimiliki oleh beberapa warga terhadap benda-benda berbentuk spiral, sampai pada akhirnya keanehan yang muncul semakin menjadi. Mulai dari manusia yang berubah menjadi siput, rambut yang tumbuh membentuk spiral, dan masih banyak lagi kegilaan lainnya. Tapi sayangnya kegilaan yang ditampilkan oleh filmnya ini berada pada level yang jauh dibawah manga-nya sendiri.

Dengan durasi yang hanya 90 menit tentu saja banyak hal yang diringkas oleh Higuchinsky dalam film ini. Bagi yang sudah membaca komiknya pasti tahu bahwa kisah yang disajikan oleh Uzumaki pada akhirnya semakin meluas dan membesar, tidak hanya seputar teror yang dialami Kirie dan Shuichi di lingkungannya tapi makin melebar hingga penelusuran sejarah serta misteri di desa tersebut. Tentu saja mau tidak mau film ini harus pandai memilah-milah kisah mana yang dipakai dan untuk hal tersebut saya merasa naskahnya cukup baik dalam melakukan adaptasi. Keputusan untuk tampil dengan skala kecil seperti halnya chapter-chapter awal dalam komiknya merupakan keputusan yang tepat sehingga alurnya menjadi lebih padat dan punya fokus yang lebih pasti. Tapi yang paling penting filmnya menjadi lebih punya banyak kesempatan untuk membangun terornya dan berfokus pada aspek horornya saja. 
Berbeda dengan komiknya, film ini rupanya coba memasukkan ciri khas J-Horror yang punya alur menyeret serta atmosfer yang menyesakkan. Bahkan di beberapa momen film ini sempat memasukkan unsur penampakan hantu yang jelas punya jalur yang berbeda dengan komiknya. Beberapa sempilan "penampakan" tersebut dan atmosfer ala J-Horror yang ada harus diakui sanggup memberikan aura ketegangan pada filmnya. Tapi tensi yang menegangkan di beberapa bagian tersebut tetap tidak bisa menghindarkan saya dari kekecewaan menonton Uzumaki. Kenapa? Alasan klise tentang sebuah adaptasi pun terpaksa saya munculkan, yakni filmnya gagal menghadirkan kembali semangat serta kegilaan yang muncul dalam komiknya. Saya yang dibuat melongo dan terpukau oleh panel demi panel komiknya begitu dikecewakan oleh filmnya yang nampak terlalu "sopan". Sopan? Bagaimana mungkin adegan-adegan seperti manusia siput sampai orang yang mati berbentuk spiral dalam mesin cuci dikatakan sopan?
Salah satu momen favorit saya dalam komik Uzumaki 
Tapi memang begitulah adanya. Grafik yang ditampilkan oleh film ini tidak segila dan se-vulgar versi komiknya. Tidak ada momen dimana saya sampai bersumpah serapah melihat kutukan spiral yang terus memakan korban. Saya yang berharap kembali dibuat jijik oleh manusia siput raksasa atau tubuh manusia yang terpelintir membentuk sprila malah dibuat kecewa dan bosan secara terus menerus. Kekecewaan saya bertambah akibat terlalu banyaknya sempilan komedi konyol yang sama sekali tidak lucu dalam film ini. Komedi itu jujur saja sangat mengganggu keseluruhan tone filmnya yang pada dasarnya masih belum mantap untuk menjadi film yang total menyeramkan apalagi disturbing. Belum lagi selipan-selipan gambar spiral asal taruh yang tidak penting dan konyol. Apakah kekecewaan saya terhadap film ini hanya sampai disitu? Tentu saja tidak. Salah satu harapan saya adalah menemukan konklusi yang lebih memuaskan dari komiknya, tapi ternyata film ini ditutup bukan hanya dengan kurang memuaskan namun dengan begitu buruk.

Jika komiknya ditutup dengan banyak pertanyaan tanpa jawaban yang memancing diskusi, maka ending film ini sama sekali tidak bisa didiskusikan. Awalnya saya sempat tertarik dengan pendekatan misteri yang berbeda dari komiknya, tapi seolah nampak kebingungan mau dibawa kemana misteri tersebut, semuanya secara tiba-tiba menghilang dan dilupakan begitu saja. Yang tersisa hanyalah bukti bahwa para penulis naskahnya kebingungan bagaimana cara mengakhiri kisahnya sekaligus takut pada akhirnya versi mereka jauh berbeda dari versi komiknya yang notabene belum selesai ditulis saat itu. Tapi jika hasil akhirnya seperti ini alangkah baiknya produksi filmnya diundur beberapa bulan mengingat jarak proses produksi film dan tamatnya komik Uzumaki hanya berjarak beberapa bulan. Sayapun cukup kecewa dengan sosok Shuichi disini. Di komiknya saja Shuichi sudah menyebalkan karena "terlalu emo" dan depresif bagi saya, disini dia malah terlihat begitu kaku berkat akting buruk Fhi Fan yang dalam kondisi apapun selalu menampilkan ekspresi, intonasi bicara serta gestur yang begitu "kalem".

Pada akhirnya saya menyadari bahwa kekecewaan saya terhadap film ini mungkin saja akibat bias yang diakibatkan kesukaan saya terhadap komiknya. Tapi toh kekecewaan saya terlalu besar untuk bisa memaklumi hasil akhir filmnya. Jika saja durasinya lebih lama, visualisasinya lebih gila dan beberapa aspeknya lebih setia dengan komiknya khususnya dalam hal atmosfer mungkin saja Uzumaki akan menjadi J-Horror favorit saya. Tapi pada kenyataannya ini adalah salah satu J-Horror paling mengecewakan yang pernah saya tonton meski adaptasi plot-nya sendiri cukup baik.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar