Translator

27 Feb 2013

ROBOT & FRANK (2012)

Film tentang robot yang bersahabat bahkan menjadi bagian keluarga manusia sudah beberapa kali diangkat. Sebut saja Bicentennial Man milik Chris Colombus hingga A.I. karya Steven Spielberg. Dalam film-film tersebut robot yang sejatinya hanyalah sebuah mesin yang dibuat untuk membantu pekerjaan manusia menjadi layaknya makhluk hidup yang mempunyai perasaan. Robot & Frank memang punya unsur tersebut, tapi pendekatan yang dilakukan dalam film ini jauh berbeda, begitu pula isu yang coba disentuh. Seperti judulnya, film perdana dari sutradara Jake Schreier ini akan bercerita tentang interaksi antara Frank (Frank Langella) dan robot miliknya (diperankan Rachel Ma dan disuarakan oleh Peter Sarsgaard). Frank adalah pria berusia 70 tahunan yang hidup sendirian setelah kedua anaknya Hunter (James Marsden) dan Madison (Liv Tyler) sudah menjalani hidup mereka masing-masing. Frank sendiri adalah seorang pencuri yang dimasa mudanya pernah dipenjara akibat kasus pencurian. Bahkan saat sudah tua dan mengalami dementia seperti sekarang, Frank masih tetap mencuri walau "hanya" berupa benda-benda kecil yang murah dari sebuah toko.

Tidak hanya hidup sendiri, Frank juga nampak tidak punya teman. Satu-satunya orang yang dekat dengan Frank adalah seorang wanita penjaga perpustakaan bernama Jennifer (Susan Sarandon). Frank yang hampir tiap hari berkunjung ke perpustakaan juga mulai menaruh perasaan cinta pada Jennifer. Sebenarnya Hunter juga masih secara rutin mengunjungi sang ayah tiap minggunya meski harus menempuh perjalanan 10 jam dan membuatnya jarang menghabiskan waktu bersama anaknya. Tapi menghadapi tingkah laku ayahnya yang semakin pelupadan tidak teratur dalam kehidupannya, Hunter mulai merasa lelah. Akhirnya ia memutuskan membelikan Frank sebuah robot untuk membantunya melakukan kegiatan sehari-hari mulai dari membersihkan rumah sampai membuatkan makanan bagi Frank. Tentu saja pada awalnya Frank tidak menyukai kehadiran sang robot yang menurutnya terlalu mengatur kehidupannya. Sampai suatu hari Frank menyadari bahwa robot itu bisa membantunya melakukan aksi pencurian.

26 Feb 2013

85TH ACADEMY AWARDS WINNERS

Argo fuck yourself!!! Akhirnya Argo berhasil menjadi pemenang dalam ajang Oscar tahun ini mengalahkan Lincoln yang meraih nominasi terbanyak dan Life of Pi yang menjadi peraih piala terbanyak kali ini. Tidak terlalu banyak kejutan dimana hanya kemenangan Christoph Waltz serta Ang Lee saja yang cukup mengejutkan. Tapi kemenangan keduanya juga tidak bisa disebut sebagai kejutan luar biasa karena Waltz sudah menang di Golden Globe serta BAFTA sedangkan Ang Lee juga cukup dijagokan setelah kans Lincoln milik Spielberg memenangkan Best Picture mengecil. Dalam posting ini selain menyajikan daftar pemenang saya juga mencantumkan pilihan saya pribadi (pilihan, bukan prediksi). Jadi ini dia daftar nama-nama terbaik yang memenangkan ajang Oscar tahun 2013.

24 Feb 2013

THE BAY (2012)

The Bay adalah sebuah horor mockumentary garapan sutradara Barry Levinson. Sebuah horor mockumentary memang saya akui punya kelebihan dalam menakuti penontonnya, dimana suasana dibuat terasa nyata dan juga membuat tingkat keseraman serta ketegangannya meningkat dibanding film horor yang disajikan secara "normal". Dalam The Bay, teknik mockumentary memang berguna untuk menciptakan suasana senyata mungkin sehingga mampu membuat penontonnya merinding tanpa perlu adegan mengagetkan, gore berlebihan ataupun penampakan makhluk seram. Menonton The Bay saya jadi sedikit teringat dengan Contagion arahan Steven Soderbergh, dimana kita akan diajak melihat penyebaran sebuah penyakit misterius yang dalam waktu singkat membunuh begitu banyak orang. Alkisah di sebuah kota kecil yang terletak di Maryland sedang diadakan Festival 4th of July, dan Donna Thompson (Kether Donohue) yang merupakan seorang penyiar televisi baru ditugaskan meliput acara tersebut. Awalnya semua berjalan lancar dan yang terlihat hanya tawa yang mengiringi kegembiraan para penduduk kota. Sampai kemudian kengerian secara perlahan mulai menyelimuti seiring dengan menyebarnya sebuah penyakit misterius yang satu persatu mulai membunuh penduduk kota.

Yang patut diperhatikan adalah bahwa The Bay bukanlah sebuah film horor dengan cerita yang bodoh. Mungkin naskahnya tidak spesial, tapi ceritanya masih cukup berbobot. Naskah dari Michael Wallach masih sempat memberikan gambaran bagaimana perbuatan manusia yang tidak peduli akan lingkungannya dapat berujung pada bencana tragis seperti dalam film ini. Selain itu, The Bay juga begitu baik dalam menyimpan misterinya. Sedari awal penonton sudah tahu ada hal mengerikan yang terjadi di kota tersebut namun coba ditutupi oleh pemerintah. Tapi kita tidak tahu pasti apa sebenarnya yang terjadi, apakah sebuah penyakit? Serangan monster? Atau hal lainnya? Misteri tersebut disimpan dengan rapih dan membuat penonton penasaran akan fakta yang sebenarnya. Tapi sedari awal film ini sudah memberi gambaran lewat cerita Donna Thompson tentang bagaimana mengerikannya kejadian pada hari itu. Hal tersebut mampu membuat tensi film ini sudah menegangkan dari awal dan tetap terjaga meskipun momen horornya belum muncul. Sayang The Bay ditutup dengan sebuah konklusi yang begitu anti-klimaks dan kurang greget, padahal klimaksnya sudah lumayan menegangkan.

22 Feb 2013

ANNA KARENINA (2012)

Sutradara Joe Wright memang telah dikenal lewat kemampuannya dalam membuat film period drama. Hal itu bisa dilihat dari dua film yang melambungkan namanya, yakni Pride and Prejudice dan Atonement. Setelah dua non-period drama yakni The Soloist dan Hanna, Joe Wright kembali ke spesialisasinya lewat Anna Karenina, sebuah adaptasi dari novel klasik berjudul sama karangan Leo Tolstoy yang terbit pada 1877. Ini bukanlah kali pertama Anna Karenina diangkat menjadi sebuah film. Sebelumnya sudah ada sekitar sembilan film yang kisahnya merupakan adaptasi dari novel tersebut. Dalam film ini Joe Wright juga kembali berkolaborasi dengan aktris Keira Knightley yang selalu bermain dalam film period drama yang ia buat sebelum ini. Saya sendiri tidak terlalu menyukai film-film period drama karena kisah dan dialognya yang sering terkesan bertele-tele karena memang punya setting waktu bukan di zaman sekarang. Tapi film yang disutradarai oleh Joe Wright memang sayang untuk dilewatkan. Apalagi kabarnya Anna Karenina dibuat dengan teknik yang cukup unik dimana mayoritas filmnya dibuat diatas panggung besar dan membuat konsep filmnya seperti sebuah pertunjukkan teater.

Kisahnya berlatar di Rusia pada tahun 1847 dimana Anna Karenina (Keira Knightley) sedang melakukan perjalanan dari St. Petersburgh menuju Moscow untuk mengunjungi kakaknya, Oblonsky (Matthew McFadyen) yang saat itu tengah menglamai permasalahan dengan sang istri. Di kereta, Anna bertemu dengan Countess Vronskaya (Olivia Williams) yang kemudian mengenalkan Anna dengan puteranya, Count Vronsky (Aaron Taylor-Johnson). Perkenalan tersebut ternyata menjadi awal benih cinta yang terjalin antara Anna dan Vronsky. Tapi kisah cinta tersebut tentunya tidak mudah terwujud, bahkan bisa dibilang terlarang, karena saat itu Anna sudah menikah dengan Alexei Karenin (Jude Law), seorang politisi sekaligus orang yang sangat dihormati di St. Petersburgh. Sedangkan Vronsky sendiri tengah menjalin hubungan dengan Kitty (Alicia Vikander) yang tidak lain adalah adik dari istri Oblonsky. Tapi Anna Karenina  tidak hanya menyoroti kisah cinta Anna belaka, karena film ini ini juga akan menceritakan tentang kisah Konstatin Levin (Domhnall Gleeson), seorang land owner yang cintanya ditolak oleh Kitty.

18 Feb 2013

MAMA (2013)

Mama aslinya adalah sebuah film pendek berdurasi hanya 3 menit yang dibuat oleh Andres Muschietti. Namun meski sangat pendek, tapi Mama sudah mampu memberikan tingkat kengerian yang luar biasa pada penontonnya. Lima tahun berselang, akhirnya versi panjang dari Mama yang masih disutradarai oleh Andres Muschietti dibuat. Dengan adanya nama Guillermo del Toro sebagai produser, sudah tentu film ini menarik untuk dinantikan, meski sebelumnya saya dibuat kecewa oleh Don't be Affraid of the Dark yang juga diproduseri oleh del Toro. Dengan adanya del Toro saya bisa memperkirakan bahwa film ini tidak akan berakhir menjadi film horror biasa, melainkan memiliki unsur dongeng seperti yang sudah menjadi ciri khas del Toro selama ini. Memanjangkan film yang aslinya 3 menit menjadi 100 menit tentu bukan hal mudah, karena itu keputusan untuk memilih Andres Muschietti sebagai sutradara adalah langkah yang bijak, karena Muschietti yang membuat film pendeknya pasti tahu betul mengenai Mama. Selain itu adanya nama Jessica Chastain yang notabene adalah salah satu aktris paling berbakat saat ini tentu membuat proyek ini semakin menjanjikan kualitas yang memuaskan.

Film ini menceritakan kisah tentang Jeffrey (Nikolaj Coster-Waldau) yang pada krisis ekonomi 2008 mengalami depresi dan memutuskan untuk membunuh rekan bisnis dan istrinya sendiri. Kemudian Jeffrey membawa kedua puterinya yang masih kecil, Victoria (3 tahun) dan Lilly (1 tahun) ke sebuah pondok di tengah hutan untuk membunuh keduanya. Namun sebelum itu sempat ia lakukan, Jeffrey ditangkap oleh sesosok makhluk misterius, dan cerita melompat lima tahun sesudah kejadian tersebut. Dikisahkan Lucas (diperankan juga oleh Nikolaj Coster-Waldau) yang merupakan saudara kandung Jeffrey terus mencari keberadaan Victoria dan Lilly yang menghilang. Sampai suatu hari keduanya ditemukan dalam kondisi layaknya hewan liar. Lucas dan sang istri, Annabel (Jessica Chastain) membawa Victoria dan Lilly ke rumah mereka dengan harapan keduanya bisa kembali normal sambil terus menerima perawatan psikologis dari Dr. Dreyfuss (Daniel Kash). Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui adalah keberadaan sosok misterius yang dipanggil oleh Victoria dan Lilly dengan sebutan "Mama".

17 Feb 2013

RECTOVERSO (2013)

Novel Rectoverso yang ditulis Dewi Lestari atau Dee adalah sebuah novel yang begitu spesial bagi saya. Saya yang bukan seorang pecinta novel bahkan termasuk malas membaca bisa dibuat begitu menyukai rangkaian 11 cerita pendek yang dipaparkan oleh Dee. Rectoverso bagi saya adalah sebuah kisah cinta yang mampu membuat pembacanya merasakan jatuh cinta saat membacanya. Saat mendengar bahwa akan dibuat film adaptasi dari novel tersebut, saya antara tertarik dan ragu. Tentu saja saya tertarik melihat bagaimana novel favorit saya diangkat dalam media film. Tapi tentunya saya ragu, karena mengangkat cerita dalam buku menjadi film bukan tugas yang mudah, apalagi film ini disutradarai bukan oleh nama-nama besar dalam dunia penyutradaraan, namun oleh lima wanita yang selama ini lebih dikenal sebagai aktris, yaitu Marcella Zalianty, Olga Lydia, Rachel Maryam, Happy Salma dan Cathy Saron. Dari sebelas cerita, dipilih lima cerita yang beberapa diantaranya adalah cerita favorit saya dalam novel tersebut. Kelima cerita itu adalah Malaikat Juga Tahu, Firasat, Cicak di Dinding, Curhat Buat Sahabat dan Hanya Isyarat. Tidak seperti novelnya yang menampilkan satu per satu ceritanya, versi film Rectoverso menghadirkan kelima kisahnya secara bergantian dimana satu kisah dengan kisah lainnya akan berjalan beriringan dari awal sampai akhir.

Malaikat Juga Tahu yang disutradarai oleh Marcella Zalianty adalah yang terbaik bagi saya. Bercerita tentang kisah cinta antara Abang (Lukman Sardi) yang seorang penderita autis dan Leia (Prisia Nasution), segmen ini punya kedalaman kisah yang paling bagus. Ceritanya paling mengena, akting para pemainnya bagus, dan punya momen puncak yang sanggup membuat saya begitu terharu. Momen puncak yang dirangkum dengan begitu baik dan menunjukkan bahwa Lukman Sardi sejatinya adalah salah satu aktor terbaik Indonesia saat ini jika dia lebih pandai memilih peran dalam film-filmnya. Malaikat Juga Tahu versi film pun bagi saya terasa sesuai dengan apa yang saya bayangkan disaat membaca ceritanya. Sedangkan Firasat yang disutradarai Rachel Maryam sayangnya terasa begitu lemah dalam menghadirkan konfliknya. Segmen ini punya potensi menghadirkan konflik batin yang bergejolak disaat seseorang harus berhadapan dengan firasat yang ia dapat mengenai sosok orang yang ia cintai. Tapi apa yang tersaji hanya sebuah kisah kegalauan Senja (Asmirandah) dimana cintanya terhadap Panca (Dwi Sasono) tidak kunjung bisa terucap. Kesan tragis yang dipunyai ending novelnya menghilang disini, bahkan entah saya yang salah menafsirkan atau memang begitu adanya, versi film ini punya interpretasi ending berbeda yang justru mengurangi esensi ceritanya.

DOOMSDAY BOOK (2012)

Tema yang menarik dan keberadaan Kim Ji-woon adalah alasan mengapa saya menonton film ini. Doomsday Book adalah sebuah antologi yang berisi tiga cerita mengenai bagaimana manusia secara sengaja/tidak sengaja melakukan hal yang menciptakan kehancuran bagi mereka sendiri. Dari ketiga cerita tersebut, Kim Ji-woon menyutradarai segmen Heavenly Creatures, sedangkan dua segmen lainnya disutradarai oleh Yim Pil-sung. Doomsday Book sendiri adalah film antologi dari Korea pertama yang pernah saya tonton. Berikut ini pembahasan masing-masing segmennya.

GANGSTER SQUAD (2013)

Pada awalnya film yang disutradarai oleh Ruben Fleischer (Zombieland, 30 Minutes or Less) akan dirilis pada 7 September 2012, tapi akibat insiden Aurora Mass Shooting film ini harus menunda jadwal perilisannya. Hal itu diakibatkan adanya adegan baku tembak di dalam bioskop sehingga diputuskan dilakukan shooting ulang untuk adegan tersebut. Jadwal rilisnya pun mundur hingga 11 Januari 2013. Gangster Squad awalnya adalah salah satu dari beberapa film yang paling saya tunggu di tahun 2012 karena melihat jajaran pemainnya. Jumlah bintangnya tidak main-main, ada Josh Brolin, Ryan Gosling, Sean Penn, Emma Stone, Nick Nolte, Anthony Mackie, Giovanni Ribisi hingga Michael Pena. Namun melihat jadwal diundurnya saya jadi agak pesimis. Bulan Januari dikenal sebagai tempat perilisan dua jenis film. Yang satu adalah film-film yang bersaing di ajang Oscar dan di tahun sebelumnya mendapat rilisan terbatas. Sedangkan satu lagi adalah film-film berkualitas buruk. Gangster Squad jelas tidak masuk kategori pertama. Jadi apakah film yang berdasarkan kisah nyata tentang seorang gangster bernama Mickey Cohen ini adalah film yang memuaskan atau lagi-lagi satu dari sekian banyak "sampah" yang dirilis pada Januari?

Pada tahun 1949, Los Angeles benar-benar telah dikuasai oleh gangster bernama Mickey Cohen (Sean Penn). Dia menguasai hampir semua bisnis, dan kekayaannya benar-benar ia manfaatkan juga untuk menyogok para polisi hingga hakim. Tidak ada polisi yang berani mengganggu Cohen, bahkan para polisi yang tidak korup sekalipun merasa segan untuk mencampuri urusan Cohen. Tapi ada seorang sersan bernama John O'Mara (Josh Brolin) yang selalu berpegang teguh pada prinsipnya dan taat hukum. Tapi tentu saja dia sendiri tidak cukup untuk menghentikan aksi Cohen. Apalagi pihak kepolisian tidak bersedia memberikan surat penangkapan terhadap Cohen. Sampai akhirnya Chief Parker (Nick Nolte) yang merupakan satu dari beberapa polisi yang membenci tindak kriminal Cohen meminta O'Mara untuk menciptakan sebuah tim guna menghancurkan kerajaan Cohen secara diam-diam. Tim tersebut nantinya disebut Gangster Squad. Tim tersebut terdiri dari O'Mara, Detektif Coleman Harris (Anthony Mackie) yang jago memakai pisau, Conwell Keeler (Giovanni Ribisi) yang merupakan otak dari tim, Max Kennard (Robert Patrick) yang jago menggunakan pistol dan telah membunuh 100 gangster, Navidad Ramirez (Michael Pena) yang merupakan rekan Kennard, dan Jerry Wooters (Ryan Gosling) yang diam-diam menjalin hubungan dengan kekasih Cohen, Grace Faraday (Emma Stone).

15 Feb 2013

ON HER MAJESTY'S SECRET SERVICE (1969)

Film ini adalah penanda era baru dalam dunia James Bond, dimana Sean Conery untuk pertama kalinya tidak lagi menjadi agen 007 (meski pada akhirnya di tahun 1971 dia kembali lagi dalam Diamonds Are Forever). Sosok James Bond disini diperankan oleh George Lazenby. Lazenby sebagai Bond memang banyak memunculkan cerita. Yang pertama tentunya adalah fakta bahwa ia bukan merupakan orang Inggris asli (Lazenby adalah orang Australia). Hingga saat inipun Lazenby menjadi satu-satunya aktor non-British yang memerankan James Bond. Selain itu, dia juga hanya muncul dalam satu film saja, yakni OHMSS ini, dengan alasan tidak ini ter-typecast dan tidak bisa lepas dari bayang-bayang karakter Bond. Pada awal perilisannya sendiri OHMSS dan Lazenby tidak mendapat sambutan yang terlalu positif. Filmnya hanya mendapat sekitar $64 Juta, yang mana menurun jauh, sekitar $40 juta jika dibandingkan You Only Live Twice. Selain itu Lazenby dinilai tidak cocok memerankan karakter Bond yang memang sudah terlanjur begitu melekat pada diri Sean Conery. Namun seiring dengan berjalannya waktu, OHMSS justru dianggap menjadi salah satu film Bond terbaik sepanjang masa dan sering bersaing dengan Goldfinger sebagai yang terbaik.

Dalam film ini James Bond akan kembali berhadapan dengan Ernst Blofeld yang kali ini diperankan oleh Telly Savalas. Bond menyamar sebagai ahli genealogy untuk menyusup ke dalam markas Blofeld yang terletak di puncak pegunungan alpen yang bersalju. Kali ini Blofeld berusaha untuk menghancurkan suplai bahan makanan di seluruh dunia. Namun selain berhadapan dengan Blofeld, Bond juga akan "berhadapan" dengan kisah cintanya yang paling rumit disini, dimana ia akan berhubungan dengan Tracy (Diana Rigg), puteri dari Marc-Ange Draco (Gabriele Ferzetti) yang merupakan salah satu bos organisasi kriminal. Ya, selain berbagai cerita diluar layar, OHMSS juga terkenal dengan fakta bahwa ini adalah satu-satunya film dimana Bond menikah secara resmi, setelah sebelumnya menikah di You Only Live Twice, namun pernikahan tersebut hanya merupakan bagian dari misi belaka.

13 Feb 2013

THE SESSIONS (2012)

The Sessions adalah sebuah come-back bagi sutradara Ben Lewin setelah absen membuat film selama 18 tahun. Cerita dari film ini sendiri berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan Mark O'Brien yang mengalami kelumpuhan nyaris total akibat terkena polio disaat berumur enam tahun. Selain itu, film ini juga didasarkan dari artikel berjudul On Seeing a Sex Surrogate yang ditulis oleh O'Brien sendiri. Sutradara Ben Lewin juga sebenarnya merupakan pengidap polio dan membuatnya harus memakai alat bantu untuk berjalan, jadi nampaknya materi dalam film ini cukup personal baginya. The Sessions dibintangi oleh John  Hawkes (yang di-snub dari nominasi Best Actor Oscar) dan Helen Hunt (mendapat nominasi Best Supporting Actress). Kita akan mulai diperkenalkan pada sosok Mark O'Brien (John Hawkes) yang meskipun lumpuh dan harus hidup dengan bantuan alat bantu pernafasan tetapi dia tetap menjadi orang yang berhasil. Dia adalah lulusan terbaik di universitasnya dan juga merupakan seorang penulis puisi sekaligus jurnalis. Namun ada satu hal yang ia merasa kurang, yakni ketiadaan sosok wanita sebagai cinta sekaligus partner seks. Mark merasa tidak yakin akan kemampuan seksualnya, bahkan saat mengungkapkan cinta pada seorang gadis ia harus mengalami sakit hati.

Sampai suatu hari ia diminta untuk menulis artikel tentang kehidupan seks para disable, dan ia menemukan orang-orang yang berkekurangan sama seperti dirinya bisa mempunyai kehidupan seks yang normal. Hal itulah yang mendorong Mark menuruti saran terapisnya untuk menghubungi jasa sex surrogate. Sex surrogate adalah penyedia jasa terapi seks yang memberikan layanan untuk mengajari seseorang bagaimana berhubungan seks. Penyedia jasa tersebut bahkan bersedia untuk bersetubuh dengan orang yang menyewanya. Meski awalnya ragu, Mark akhirnya bersedia memakai jasa itu. Inilah awal pertemuan Mark dengan Cheryl (Helen Hunt), seorang sex surrogate yang tidak hanya membantu Mark dalam kehidupan seksual tapi juga memberikan Mark perasaan dan kebahagiaan yang lebih dari itu. Tentu saja dari sinopsis diatas dapat terlihat jelas bahwa The Sessions merupakan sebuah film yang cukup gamblang dalam memaparkan sisi seksualnya. Bahkan bukan tidak mungkin beberapa penonton menganggap film ini terlalu gamblang, karena berbagai momen berbau seksual disajikan tidak hanya sekilas saja tapi bahkan secara bertahap, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya sampai pada intercourse.

10 Feb 2013

THE MASTER (2012)

Karya terbaru dari Paul Thomas Anderson (PTA) ini jelas sudah sangat dinanti-nanti setelah film terakhirnya yang luar biasa, There Will Be Blood. Kehadiran Joaquin Phoenix sebagai aktor utama setelah sempat memutuskan rehat dari dunia akting jelas menarik perhatian. Selain itu masih ada dua nama besar lain yakni Philip Seymour Hoffman dan Amy Adams. Tapi yang paling mengundang perhatian dan memancing kontroversi dari film ini tentunya dari segi cerita yang disebut-sebut membahas tentang Scientology. PTA yang juga bertindak selaku penulis naskah memang membantah hal tersebut, meski dia sendiri mengakui bahwa sosok L. Ron Hubbard yang tidak lain adalah pendiri Scientology cukup menginspirasinya dalam menciptakan karakter Lancaster Dodd yang diperankan Philip Seymour Hoffman. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan perihal tersebut, yang penting ini adalah film PTA yang merupakan jaminan mutu. Lagi pula dari trailer yang beredar saya berekspektasi cukup tinggi pada film ini. Dari teaser trailer yang hanya menampilkan sosok Joaquin Phoenix dalam beberapa adegan yang nampak indah dibalut iringan musik unik dari Jonny Greenwood, saya sudah dibuat tertarik pada film ini.

Tapi tokoh utama dari The Master sebenarnya bukan Lancaster Dodd, melainkan Freddie Quell (Joaquin Phoenix), seorang veteran Perang Dunia II yang mengalami post-traumatic stress disorder sebagai dampak dari pengalamannya di medan perang. Hal itu menjadikan Freddie sebagai sosok yang sangat terobsesi pada seks dan juga mengalami kecanduan terhadap alkohol. Jangan bayangkan Freddie sebagai seorang alkoholik biasa, karena dia tidak ragu untuk meminum campuran dari berbagai hal yang cukup gila mulai dari bahan bakar torpedo hingga cairan thinner. Kecanduan alkohol dan ptsd yang ia alami sering menimbulkan masalah bagi Freddie. Dia dipecat dari pekerjaannya sebagai fotografer, bahkan pernah membuat orang tua di tempatnya bekerja sebagai petani tewas akibat minuman yang ia berikan. Hingga akhirnya Freddie secara diam-diam menyusup ke sebuah kapal mewah yang ternyata dimiliki oleh Lancaster Dodd. Alih-alih mengusir Freddie, Dodd yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang penulis justru menawarkan Freddie untuk tinggal bersamanya. Ternyata Lancaster Dodd adalah seorang pimpinan dari sebuah perkumpulan cult bernama The Cause. Dari situlah Freddie mulai mencoba menyembuhkan "kegilaan" yang ia alami. Disisi lain Lancaster Dodd juga sangat ingin menyembuhkan Freddie walaupun anggota yang lain termasuk sang istri, Peggy (Amy Adams) menaruh curiga pada Freddie.

8 Feb 2013

WRECK-IT RALPH (2012)

Akhir-akhir ini nampaknya film yang memberikan tribute atau penghormatan terhadap suatu genre sedang sering dibuat, dan mayoritas punya kualitas yang baik. Ada The Cabin in the Woods yang memberikan penghormatan pada film horror, The Artist pada film bisu, Frankenweenie pada film monster, bahkan Skyfall juga memberikan berbagai penghormatan pada film-film James Bond lama. Kali ini giliran Walt Disney lewat film animasi ke-52 mereka yang memberikan penghormatan, bedanya bukan penghormatan pada suatu genre film melainkan kepada video games atau lebih tepatnya arcade game yang sempat booming pada era 90-an. Sambutlah Wreck-it Ralph, sebuah film yang sudah begitu dinantikan oleh para gamer. Jika Toy Story bercerita tentang mainan yang hidup dan punya perasaan, maka Wreck-it Ralph adalah kisah tentang bagaimana jika para karakter dalam video game sebenarnya hidup dan berinteraksi satu sama lain. Dunia dalam film ini memang mengingatkan pada Toy Story, dimana para karakter dalam game akan hidup layaknya manusia dan saling berinteraksi jika game center sudah tutup dan tidak ada orang disana. Apa jadinya jika para karakter villain dalam game sebenarnya bukanlah sosok yang sama sekali jahat? Apa jadinya jika mereka menjadi jahat hanya karena peran mereka dalam dunia game tersebut? Lalu apa jadinya jika mereka justru ingin menjadi baik?

Begitulah yang dialami oleh Ralph, sosok penjahat dalam game Fix-it Felix, Jr. Pekerjaan yang ia lakukan tiap hari adalah menghancurkan gedung yang kemudian akan diperbaiki oleh Felix Jr. ,sosok protagonis dalam game tersebut yang dikendalikan oleh para gamer. Tapi masalahnya, dengan menjadi sosok penjahat ia justru dijauhi dan ditakuti oleh penduduk dalam game tersebut. Disaat Felix Jr. mendapat puja puji, punya banyak teman, mendapat medali emas dan tinggal di rumah mewah, Ralph justru dijauhi dan tinggal di tumpukan sampah. Hal tersebut membuat Ralph jengah. Hal itulah yang mendorongnya melakukan perbuatan terlarang dalam dunia game, yaitu berpindah ke game lain untuk menjadi sosok jagoan guna mendapatkan medali dan membuktikan pada orang-orang bahwa ia juga bisa menjadi baik. Dalam usahanya itu ia berpindah-pindah game, mulai dari game FPS berjudul Hero's Duty hingga game balapan anak-anak berjudul Sugar Rush. Disana ia juga bertemu dengan Vanellope, seorang karakter game yang juga dijauhi karena mengalami kerusakan. Tapi tanpa disadari oleh Ralph, perbuatannya justru memunculkan bahaya yang bisa menghancurkan dunia game tersebut.

7 Feb 2013

TRICK 'R TREAT (2007)

Jika ditanya film apakah yang paling melambangkan hari Halloween, mungkin banyak yang akan menjawab franchise Saw atau Paranormal Activity yang memang tiap tahunnya selalu merilis film pada sekitar bulan Oktober. Ya, tanggal 31 Oktober memang selalu diperingati sebagai hari untuk menghormati mereka yang sudah meninggal. Tapi apakah kedua film yang saya sebutkan diatas memang mewakili semangat Halloween? Rasanya tidak. Memang keduanya merupakan tontonan horror, tapi seperti anak-anak yang hanya menginginkan permen atau orang dewasa yang tidak peduli lagi pada esensi Halloween, film-film tersebut juga tidak memberikan cerminan sesungguhnya akan hari tersebut. Jadi mari kita sambut Trick 'r Treat, sebuah film karya Michael Dougherty (penulis naskah X2 dan Superman Returns) yang diluar dugaan mampu menyajikan sebuah tontonan horror yang cerdas sekaligus mengangkat berbagai urban legend yang mengiringi perayaan Halloween. Menonton film ini saya bagaikan diajak ke sebuah negeri dongeng berhiaskan hiasan Jack-o'-lantern dan penuh makhluk-makhluk misterius yang senang akan tumpahnya darah.

Film ini adalah sebuah antologi yang berisi beberapa cerita seram yang terjadi pada suatu malam Halloween di sebuah kota. Film dibuka dengan sebuah cerita pembuka tentang sepasang suami istri, yang baru saja pulang kerumah setelah menghadiri pesta perayaan Halloween. Hal mengerikan telah menanti mereka saat sang istri melanggar salah satu pantangan di hari Halloween, yakni mematikan sebuah jack-o'-lantern yang masih menyala. Lalu ada seorang kepala sekolah yang punya sebuah hobi mengerikan dan sadis. Sedangkan sang tetangga yang merupakan seorang pria tua pemarah yang membenci Halloween tidak tahu bahwa sebuah teror tengah menantinya. Di tempat lain sekumpulan anak kecil bermain-main dengan horror tanpa tahu akibat yang akan mereka tanggung. Terakhir ada kisah tentang beberapa wanita yang berniat berpesta liar bersama banyak pria di malam itu. Tapi pesta tersebut tentunya akan menjadi sebuah horror mengerikan penuh darah. Semua kisah itu punya benag merah, dan salah satu yang menghubungkannya adalah kemunculan sosok kecil misterius memakai piyama orange dan penutup muka dari karung yang selalu muncul dalam setiap kisah. Nama sosok misterius itu adalah Sam.

4 Feb 2013

YOU ONLY LIVE TWICE (1967)

Dengan bujet yang kembali meningkat menjadi $10 juta, You Only Live Twice yang merupakan film kelima James Bond ini sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang spesial. Beberapa inovasi kecil dalam Bond formula diterapkan disini. Film ini sudah dibuka dengan adegan yang cukup menarik saat James Bond diperlihatkan terbunuh di Hong Kong lalu kita akan diajak melihat adegan pemakaman sang agen rahasia di tengah laut. Tentu saja kita tahu bahwa Bond masih hidup dan itu semua memang hanya sebuah trik untuk mengecoh perhatian musuh-musuhnya supaya mengira dia sudah tewas. Kemudian opening theme juga dikemas dengan baik, di mana kita akan disuguhi lagu You Only Live Twice yang diberi sentuhan tradisional Jepang pada aransemen musiknya, menjadikan lagu tersebut menjadi salah satu favorit saya dalam daftar music theme dalam film 007. Pertemuan antara Bond dengan M dan Miss Moneypenny tentu masih ada, tapi kali ini dilakukan di dalam sebuah kapal selam. Sedikit inovasi namun tetap bisa memberikan cukup variasi terhadap formula tersebut. Tapi inovasi paling besar tentu saja ada pada fakta bahwa cerita film ini tidak mengambil dari novel Ian Fleming. Untuk pertama kalinya film Bond hanya mengambil judul novelnya saja, sedangkan ceritanya adalah cerita baru yang ditulis oleh Ronald Dahl dengan mengambil unsur dari Dr. No.

Kali ini James Bond ditugaskan ke Jepang untuk menyelidiki hilangnya pesawat antariksa milik Amerika Serikat. Pihak Amerika sendiri menuduh Soviet yang menjadi dalang dibalik peristiwa tersebut. Namun pihak intelegen Inggris berpendapat lain setelah mengetahui bahwa pesawat antariksa tersebut mendarat di Jepang. Untuk itulah Bond bekerja sama dengan intelegen Jepang yang dipimpin Tiger Tanaka (Tetsuro Tamba) mencoba menyelidiki kebenaran kasus tersebut dan mencari tahu dalang peristiwa tersebut sebelum perang dunia III meletus akibat perpecahan Amerika dan Soviet. Pada kenyataannya, memang ada pihak ketiga yang bertanggung jawab atas hilangnya pesawat antariksa tersebut, yakni SPECTRE. SPECTRE berusaha mengadu domba Amerika dan Soviet supaya timbul perang antara kedua belah pihak untuk kemudian muncul sebagai kekuatan baru yang akan menguasai dunia. Film ini terasa lebih spesial dengan kemunculan Ernst Stavro Blofeld (Donald Pleasence) atau yang sebelumnya dikenal sebagai number 1 dan merupakan pimpinan SPECTRE. Setelah suara dan sedikit sosoknya pertama muncul dalam From Russia With Love akhirnya Blofeld diperlihatkan sosok sebenarnya disini (meski harus menunggu hingga menit 95). Kemunculan awalnya meyakinkan, sayang porsinya masih terlalu minim dan kurang mengancam jika dibandingkan Auric Goldfinger.

3 Feb 2013

THE ABCs OF DEATH (2012)

Pertama mendengar kabar pembuatan film ini saya luar biasa antusias. Bagaimana tidak, ide menggabungkan 26 sutradara horror tergila di seluruh dunia dalam satu film memang terdengar sebagai sebuah ide yang jenius. Saya bertambah antusias lagi saat mendengar bahwa salah satu sutradara Indonesia, yaitu Timo Tjahjanto (Mo Brothers) termasuk salah satu dari 26 sutradara tersebut dimana dia mendapat bagian menggarap huruf L. Ya, disini kita akan melihat 26 film pendek yang masing-masing filmnya mewakili tiap huruf alfabet secara urut mulai dari A-Z. Semua filmnya akan membawa kita pada cerita tentang kematian! Bisa dibilang ini adalah sebuah tontonan mengenai "26 ways to die". Meski pada akhirnya The ABCs of Death tidak memberikan keseraman seperti yang saya harapkan tetap saja ini adalah sebuah film yang cukup menyenangkan ditonton dan menyenangkan untuk dibicarakan, jadi dalam review ini saya akan sedikit mengulas satu per satu filmnya mulai dari A sampai Z. Perjalanan kita diawali oleh segmen A is for Apocalypse yang merupakan sebuah pembuka yang menjanjikan. Menampilkan sedikit gore dan punya suasana sedih nan kelam. Pembuka yang membuat saya tertarik mengikuti rangkaian parade kematian berikutnya.

Tapi saya justru dibuat bosan dengan B is for Bigfoot yang ternyata tidak punya Bigfoot yang seram dan C is for Cycle yang jelas tidak cocok sebagai sebuah film pendek dan berakhir dengan begitu hampa. Baru pada segmen D is for Dogfight yang dikemas lewat efek slo-mo indah, punya tensi menegangkan dan memiliki twist yang bagus saya dibuat kembali tertarik. E is for Exterminate sayangnya kembali terasa datar dan tidak menyeramkan dengan konsep cerita yang juga terasa malas untuk ditulis secara lebih kreatif dan gila. Untungnya ada Noboru Iguchi lewat F is for Fart yang seperti biasa menjadi film gila, konyol dan kocak dari sutradara asal Jepang ini. Saya dibuat tertawa terbahak-bahak dan bersumpah serapah disini. G is for Gravity juga menunjukkan betapa malasnya sang sutradara mengemas kisah ini dan mengapilkasikan gravitiy sebagai penyebab kematian. Dikemas dengan format firs person camera memang jadi nilai plus tapi kematian yang ada jelas biasa saja. H is for Hyrdo-Electric Diffusion adalah sebuah konsep kegilaan yang unik, aneh nan menyenangkan untuk ditonton meski lebih kental unsur slapstick comedy daripada horor. I is for Ingrown bisa jadi sebuah film panjang yang bagus seperti Martyrs. Namun sebagai film pendek, segmen ini tidak terlalu spesial meski juga tidak buruk.

2 Feb 2013

RUBY SPARKS (2012)

Pernahkah anda bermimpi tentang seseorang yang terasa begitu sempurna, dan dalam mimpi itu anda jatuh cinta pada orang tersebut? Anda tidak tahu siapa dia, sosoknya terasa asing, tapi anda merasa dia begitu sempurna dan anda merasakan cinta yang luar biasa saat itu. Lalu pernahkah anda mengalami sebuah keajaiban dalam hidup anda sampai anda tidak bisa percaya keajaiban tersebut terjadi? Inilah Ruby Sparks sebuah film yang disutradarai oleh Jonathan Dayton dan Valerie Faris (dua orang yang dulu mempersembahkan Little Miss Sunshine pada kita) serta ditulis naskahnya oleh Zoe Kazan. Zoe Kazan sendiri ikut bermain di film ini menjadi karakter Ruby Sparks. Sedangkan jajaran nama lain yang menjadi pemain juga menjanjikan, mulai dari Paul Dano, Annette Bening, Antonio Banderas, Eliott Gould hingga Chris Messina. Banyak yang membandinkan film ini dengan (500) Days of Summer yang notabene adalah film favorit saya. Pada akhirnya kisah yang ditampilkan memang jauh berbeda, tapi Ruby Sparks punya pernak-pernik cinta yang sama, karakter yang sama-sama lovable, dan sama-sama mendobrak batas sebuah komedi romantis. Beda kisah, namun keindahan dan keajaiban cinta yang disuguhkan kedua film ini sama.

Calvin Weir-Fields (Paul Dano) adalah seorang novelis muda yang begitu berbakat. Novel yang dulu ia tulis laku keras dan mendapat pujian dimana-mana. Namanya terkenal sebagai novelis muda jenius, meski dia sendiri mengaku membenci sebutan jenius tersebut. Tapi kini ia sedang mengalami writer's block. Disaat semua orang masih percaya akan kejeniusan dan menunggu karya berikutnya dari Calvin, dia justru sedang mengalami fase yang sulit. Dia ditinggalkan oleh kekasihnya, buntu ide, dan merasa benar-benar kesepian. Bahkan Calvin sampai harus bertemu dengan therapist untuk mengangani masalahnya ini. Namun akhir-akhir ini Calvin sering mendapatkan mimpi yang aneh. Dia bermimpi ada seorang wanita yang tidak ia kenal muncul di mimpinya. Tapi ia merasa begitu mengenal wanita tersebut. Sampai disaat ia mendapat tugas untuk menulis satu halaman cerita dari sang terapis, Calvin memutuskan menulis tentang wanita tersebut yang ia beri nama Ruby Tiffany Sparks. Menulis tentang Ruby membuat Calvin penuh dengan inspirasi lagi, sampai suatu hari saat ia bangun sosok Ruby sudah menjadi nyata dan tinggal bersamanya.

1 Feb 2013

THE LAST STAND (2013)

Memang lewat The Expendables dan sekuelnya kita bisa melihat penampilan Arnold Schwarzenegger di layar lebar, khususnya di film kedua saat dia bersama Stallone dan Willis bersama menembaki para musuh.Tapi kapan terakhir kali sang Governator menjadi tokoh utama dalam filmnya? Jawabannya adalah satu dekade yang lalu dimana ia bermain di Terminator 3: Rise of the Machines. Pada akhirnya saat masa jabatannya sebagai Gubernur berakhir pada tahun 2011 lalu Schwarzenegger menyatakan siap kembali berakting. Yep, he's back! Kendaraan pertama Arnold untuk melakukan come back adalah The Last Stand yang juga menjadi debut film Amerika pertama bagi sutradara asal Korea, Kim Ji-woon. Tentu saja saya bersemangat menyambut film ini. Arnold adalah salah sato action star favorit saya yang filmnya jelas jauh lebih bagus daripada film-film Stallone dan Van Damme. Sedangkan Kim Ji-woon sudah menelurkan banyak film-film hebat dan gila dimana salah satunya adalah I Saw the Devil yang bagi saya adalah salah satu film terbaik di tahun 2011 lalu. Trailer-nya memang terlihat biasa saja, seperti sebuah film aksi generik tahun 80-an, tapi ternyata The Last Stand memberikan hiburan yang jauh lebih menyenangkan dan come back yang layak bagi Arnold.

Di sebuah kota kecil bernama Sommerton Junction yang terletak di Arizona, tinggal seorang Sherrif bernama Ray Owens (Schwarzenegger) yang mencari ketenangan setelah selama ini menjalani kehidupan yang keras sebagai polisi bagian narkotika di Los Angeles. Di kota kecil yang tenang itu, Ray hanya punya tiga anak buah yaitu Mike Figuerola (Luis Guzman) yang hobi menembak daging bersama Lewis Dinkum (Johnny Knoxville) yang aneh dan gemar mengoleksi senajata, Sarah Torrance (Jaimie Alexander) yang bermasalah dengan sang mantan kekasih, Frank Martinez (Rodrigo Santoro) dan yang terakhir adalah deputi muda Jerry Bailey (Zach Gilford) yang berkeinginan menjadi polisi di Los Angeles seperti Ray. Suatu hari ketenangan kota itu terganggu disaat Gabriel Cortez (Eduardo Noriega) seorang bandar narkoba kelas kakap yang tengah dibawa oleh FBI tiba-tiba kabur dan berusaha lari ke Meksiko. Kubu FBI dibuat kewalahan dengan Cortez dan anak buahnya. Semua usaha untuk menghentikan Cortez yang melaju kencang sambil membawa sandera seorang agen FBI, Ellen Richards (Genesis Rodriguez) berhasil digagalkan. Sampai akhirnya Cortez sampai ke Sommerton Junction untuk menyeberang. Tapi disana perlawanan terakhir dari Ray dan para deputinya sudah menunggu.