BARRY LYNDON (1975)

3 komentar
 
Film apa yang menjadi masterpiece seorang Stanley Kubrick? Mudah saja menyebut semua filmnya luar biasa, tapi film-film seperti 2001: A Space Odyssey, Dr. Strangelove sampai A Clockwork Orange pasti akan muncul dalam deretan film terbaik sepanjang masa atau favorit orang-orang dari deretan film Stanley Kubrick. Bahkan The Shining yang diawal perilisannya mendapat banyak kritikan kini dianggap sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa. Namun berapa banyak penonton yang menganggap Barry Lyndon sebagai masterpiece atau setidaknya mengingat film ini sebagai salah satu karya Stanley Kubrick? Saya yakin tidak banyak jika dibandingkan judul-judul yang sudah saya sebutkan diatas. Bagi saya sendiri Barry Lyndon merupakan sebuah mahakarya yang sedikit terlupakan. Padahal banyak sineas besar yang menjadikan film ini sebagai favoritnya mulai dari Ridley Scott, Lars Von Trier bahkan Martin Scorsese yang menganggap film ini merupakan karya Kubrick favoritnya. Seperti kebanyakan filmnya, ini adalah adaptasi dari sebuah novel tepatnya novel berjudul The Luck of Barry Lyndon karya William Makepeace Thackeray yang dipublikasikan tahun 1844.

Ini merupakan kisah hidup panjang dari Redmond Barry (Ryan O'Neal) yang berasal dari Irlandia. Layaknya remaja pada umumnya, Barry pun tengah mengalami masa penuh cinta. Masalahnya ia jatuh cinta dengan sepupunya sendiri, Nora Brady (Gay Hamilton). Keduanya pun beberapa waktu menjalin hubungan terlarang, sampai suatu hari datanglah John Quin (Leonard Rossiter) seorang kapten pasukan kerajaan Inggris yang tertarik pada Nora. Nora sendiri akhirnya lebih memilih John yang lebih kaya daripada Barry yang masih tidak memiliki apapun. Tentu saja Barry patah hati, apalagi pada awalnya Nora yang terlebih dahulu menggoda Barry. Merasa harga dirinya sebagai lelaki tercoreng, Barry pun menantang John untuk berduel menembak. Akhirnya Barry memenangkan duel tersebut dan terpaksa harus pergi dari tempat ia tinggal menuju Dublin. Dari situlah kehidupan Barry mulai mengalami banyak hal dan perubahan. Mulai dari mengalami perampokan dijalan, berakhir menjadi prajurti Inggris di peperangan, menjadi mata-mata bagi prajurit Prussia, hingga berakhir menjadi seorang bangsawan bergelar Barry Lyndon.

Ada beberapa cara bagi saya untuk menilai sebuah film jelek, biasa saja, bagus atau sebuah masterpiece yang luar biasa. Film itu bagus jika dengan durasinya yang panjang tetap membuat saya setia mengikuti ceritanya tanpa rasa bosan bahkan terus dibuat tertarik. Film itu bagus jika berasal dari genre yang tidak saya sukai tapi sanggup membuat saya menyukai film tersebut. Dan jika kedua faktor tersebut saya temui dalam satu film maka dengan mudah saya menyatakan film tersebut luar biasa. Begitu pula yang saya rasakan saat menonton Barry Lyndon. Durasi filmnya mencapai 185 menit atau berada diatas tiga jam! Alurnya berjalan begitu lambat, seringkali mengalun sepi dengan gambar statis ataupun gerak lambat yang dilakukan para pemainnya. Namun Kubrick sanggup merangkumnya dengan begitu baik. Tiap keping ceritanya berjalan dengan menarik dan begitu indah. Kisahnya terus mencengkeram saya, membuat saya terus betah menyaksikan kisah hidup Barry yang penuh jalan berliku itu. Uniknya film ini adalah historical drama yang selama ini merupakan sebuah genre yang tidak bisa saya sukai sebagus dan setenar apapun filmnya dari segi kualitas di mata para kritikus. Salah satu poin menarik dalam Barry Lyndon adalah munculnya beberapa twist mengejutkan yang seolah mengingatkan bahwa rangkaian kehidupan seseorang selalu penuh kejutan dan takdir yang tidak terduga.
Karya-karya Kubrick memang terbentang dari berbagai macam genre mulai dari sci-fi, horor, drama historis hingga komedi hitam, namun selalu ada kesamaan dalam tema yang dia angkat dalam filmnya yakni sisi humanis dan kerapuhan yang dialami oleh seorang manusia. Hal itu tidak mendapat pengecualian dalam film ini. Dasarnya Barry Lyndon adalah kisah tentang perjalanan hidup, tentang pencarian tanpa tujuan pasti dari seorang Resmond Barry yang akhirnya terbawa oleh arus nasib. Namun meski terlihat tanpa tujuan, sadar atau tidak Barry menjalani hidupnya dengan tujuan untuk memenuhi hasratnya sebagai orang yang mempunyai kedudukan, seseorang yang dianggap. Hal tersebut didasari oleh masa lalunya yang terbiasa menjadi sosok yang terbuang. Terbuang dalam masyarakat, terbuang dalam kisah cintanya. Hal itulah yang secara natural mendasari segala perbuatan yang dilakukan oleh Barry. Namun lagi-lagi dasar seorang manusia adalah tidak pernah mencapai rasa puas. Hal itu pulalah yang tercermin dalam film ini dimana sebuah ketamakan dapat menghancurkan semua yang telah didapat.

Menariknya banyak momen vital dari kehidupan Barry tidak tersaji langsung di film melainkan kita ketahui lewat penuturan dari naratornya. Bahkan nasib Barry di penghujung hidupnya pun sudah kita ketahui dari sang narator jauh sebelum filmnya berakhir. Alih-alih memakai sudut pandang orang pertama sebagai narasi, Kubrick memilih sudut pandang orang ketiga sehingga pada akhirnya semua yang tersaji dalam film ini jadi terasa begitu objektif. Coba bayangkan jika yang dipakai adalah narasi dari sudut pandang Barry, maka dengan mudah penonton akan bisa saja bersimpati tidak secara objektif karena semuanya hadir lewat curahan perasaan karakternya. Namun dengan format yang dipakai Kubrick disini, penonton bisa lebih objektif dalam menilai perjalanan hidup dan segala perbuatan yang dilakukan oleh Barry. Semua kisah jadi dituturkan apa adanya tanpa bias apapun. Pada akhirnya saya pun tidak berakhir membenci Barry maupun benar-benar bersimpati padanya. Saya bisa memahami secara objektif segala hal yang mendasari perbuatan dan perjalanan hidup seorang Resmond Barry hingga ia memperoleh nama Barry Lyndon meski akhirnya harus "kehilangan" nama itu lagi.

Seperti biasa film Kubrick tidak hanya hebat di aspek cerita dan kedalaman kisahnya. Teknis yang tersaji pun lagi-lagi luar biasa dan inovatif. Berkat obsesi Kubrcik pada hal detail, segala detail teknis yang tersaji dalam Barry Lyndon pun amat memukau. Mulai dari set lokasi yang begitu mewah lengkap dengan lukisan-lukisan abad ke 18 yang tersaji begitu indah sampai kostum dan make-up yang dikenakan para pemainnya pun tersaji dengan begitu baik, elegan dan tentu saja sangat detail. Semua itu dibalut dengan sinematografi indah dari John Alcott yang akhirnya sukses memenangkan Oscar. Yang unik dari sinematografinya adalah penggunaan lensa super cepat setelah Kubrick ingin membuat berbagai adegan tanpa adanya cahaya lampu buatan dan hanya menggunakan lilin. Hal tersebut tidak hanya memperindah suasana namun juga menguatkan suasana realistis dari set abad 18 yang mengingatkan saya pada berbagai macam lukisan penuh warna indah yang tersaji sepanjang film ini. Dari tata musik, Kubrcik memasukkan banyak musik orkestra klasik yang mengiringi mayoritas adegan tanpa harus mengganggu dialog bahkan sanggup membangun suasana dengan begitu baik. Pada akhirnya Barry Lyndon berakhir sebagai karya Kubrick yang paling saya sukai, setidaknya sampai saat ini. Sebuah masterpiece "terlupakan" yang begitu indah sekaligus elegan dalam menyajikan kisah hidup yang begitu tragis nan ironis dari Barry Lyndon.

3 komentar :

Comment Page:
edy five mengatakan...

sepertinya ada yg terlupa, bagaimana akting para pemainnya? Baguskah atau biasa2 saja kah?

Rasyidharry mengatakan...

Overall bagus walaupun nggak luar biasa :)

Bung Nami mengatakan...

Kubrick adalah salah satu sutradara favorit saya, termasuk Sergio Leone. Salam kenal mas.