ROBOCOP (2014)

Tidak ada komentar
RoboCop versi Paul Verhoeven yang rilis hampir tiga dekade lalu tentu saja masih diingat sebagai salah satu film klasik yang sanggup menggabungkan unsur action plus sci-fi penuh gore dan kesadisan dengan berbagai satir sosial cerdas yang begitu mengena di zamannya. Bahkan jika dibawa ke masa kini masih ada beberapa satir sosial yang sesuai, bukti bahwa RoboCop memang legendaris. Jadi apakah film legendaris seperti itu butuh untuk dibuatkan remake ataupun reboot? Saya pribadi menjawab perlu! Alasan pertama adalah karena pasca kesuksesan luar biasa Verhoeven, franchise ini diikuti oleh dua sekuel dengan kualitas yang jauh dibawah film pertamanya. Jadi bisa dibilang "peninggalan" terakhir RoboCop di layar lebar adalah dua film berkualitas buruk. Alasan kedua berkaitan dengan tampilan Alex Murphy sebagai robot polisi pembasmi kejahatan yang mau tidak mau harus kita sepakati sudah terlihat agak usang untuk masa sekarang. Dengan body yang jauh dari ramping dan gerakan yang super kaku jelas robot yang satu ini akan lebih terasa menggeikan untuk generasi sekarang khususnya anak-anak dan remaja. Untuk itulah sosok RoboCop memang perlu diberi sentuhan yang lebih modern namun juga harus berhati-hati karena jika gagal, film ini sama saja menambah follow-up buruk dari karya Verhoeven. Untuk itulah sutradara Jose Padilha yang filmnya pernah meraih penghargaan tertinggi di Berlin Film Festival (Elite Squad) ditunjuk mengarahan film ini.

Kisahnya masih tidak jauh berbeda dari versi Verhoeven yakni tentang Alex Murphy (Joel Kinnaman) yang merupakan seorang polisi jujur di tengah banyaknya jajaran polisi korup di kots Detroit. Akibat kondisi kepolisian yang korup itulah banyak penjahat yang masih bebas berkeliaran termasuk seorang bos kriminal bernama Antoine Vallon (Patrick Garrow) yang menjadi buruan Murphy dan rekannya, Jack Lewis (Michael K. Williams). Namun aksi "sembrono" Murphy dalam mengejar Vallon justru berujung pada usaha pembunuhan akan dirinya lewat bom yang diletakkan di dalam mobilnya. Akibat ledakan tersebut Murphy pun menderita luka bakar parah. Disisi lain, Raymond Sellars (Michael Keaton) yang merupakan CEO dari OmniCorp sedang mencari seorang polisi yang akan ia jadikan bahan percobaan membuat prajurti robot dengan tubuh dan otak manusia. Hal itu ia lakukan untuk "memenuhi" harapan rakyat Amerika akan sosok mesin pelindung yang tetap memiliki perasaan layaknya manusia. Hal itu juga untuk memuluskan usaha Sellars dalam menghapuskan undang-undang yang melarang adanya robot sebagai pelindung masyarakat karena robot dianggap tidak mempunyai perasaan dalam melakukan segala tindakannya. Atas dasar itulah akhirnya dengan bantuan dari Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) tubuh Murphy yang hancur dibuat ulang dalam bentuk sebuah robot polisi. 

Tentu saja naskah dari Joshua Zetumer tidaklah serta merta meniru apa yang telah dicapai oleh Verhoeven 27 tahun yang lalu karena itu adalah sebuah langkah yang bodoh. Apalagi versi baru ini mempunyai rating PG-13 untuk menjangkau penonton yang lebih luas dan tidak meniru langkah Verhoeven yang membuat filmnya mendapat rating X atau setara dengan NC-17 pada saat ini. Jadi dengan tingkat kekerasan dan kebrutalan yang jauh menurun apa yang ditawarkan oleh versi upgrade dari RoboCop ini? Jawabannya adalah lebih banyak drama dan eksplorasi tentang usaha seorang Alex Murphy menyeimbangkan sisi kemanusiaan dan mesin dalam dirinya. Separuh lebih durasinya kita akan dibawa untuk melihat banyak hal terlebih dahulu sebelum Alex Murphy beraksi sebagai Robocop. Ada kisah dilematis tentang penggunaan mesin sebagai pelindung keamaan masyarakat. Disatu sisi tentu saja para robot tersebut tidak memiliki rasa takut, tidak bisa dibunuh layaknya manusia, dan yang pasti tidak bisa disuap. Tapi disisi lain mereka tetaplah robot yang bertindak tanpa adanya nurani, dan hal itu diperlihatkan diawal film saat sebuah robot membunuh anak kecil dengan brutal hanya karena anak tersebut berusaha menyerang dengan pisau. Setelah perkenalan tersebut perlahan kita mulai diajak untuk melihat berbagai kesulitan yang dihadapi Murphy saat ia baru pertama kali mendapatkan tubuh robotnya. 
Selama lebih dari separuh durasinya kita akan melihat lebih banyak drama tentang Murphy yang berusaha mengatur naluri mesin dan jiwa manusia miliknya termasuk bagaimana hubungannya dengan istri serta anaknya. Ini adalah pembeda paling besar antara versi Verhoeven dengan versi Padilha ini, dimana Jose Padilha mencba menyoroti sisi manusiawi Alex Murphy, memanusiakan sang RoboCop. Hal itu juga terlihat dari bagaimana sosom RoboCop diperlihatkan begitu kuat tapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan atau dihancurkan. Untuk hal yang terakhir ini Verhoeven sebenarnya sudah melakukannya dahulu. Sesungguhnya ini adalah hal yang menarik untuk mengeksplorasi secara lebih mendalam tentang bagaimana sosok hero diperlihatkan secara mendetail proses "kelahirannya" sebelum menjadi sosok pahlawan yang kita kenal. Tapi sayangnnya porsi drama yang cukup banyak ini tidaklah terlalu maksimal. Hal-hal seperti hubungan antara Murphy dengan keluarganya, Murphy dengan Jack Lewis yang notabene adalah partnernya, atau gejolak dalam diri Murphy saat mengetahui dia bukan lagi manusia secara utuh tidaklah tampil secara maksimal. Kuantitas yang cukup tinggi akan aspek tersebut tidak diimbangi dengan kualitas yang tinggi pula. Pada akhirnya hal tersebut sempat menciptakan kebosanan karena apa yang mendominasi durasi tidaklah tampil maksimal.

Berkurangnya porsi komedi gelap, kekerasan, satir sosial, serta membuat kota Detroit lebih "nyaman" dibanding versi Verhoeven memang membuat film ini jadi lebih banyak menjangkau penonton tapi disisi lain hal tersebut menjadikan RoboCop versi baru ini tidak terlalu punya pembeda dengan film-film action berbalut sci-fi lainnya. Punya pembeda tapi tidaklah terlalu banyak dan kentara seperti versi Verhoeven dulu. Tapi toh masih ada berbagai satir yang disampaikan disini mulai dari kapitalisme, korupnya kepolisian, sampai kontrol media yang diwakili oleh sosok Pat Novak milik Samuel L. Jackson yang mampu mencuri perhatian bahkan sanggup menghadirkan beberapa momen komedi satir meski tidak sekelam versi Verhoeven. Lagi-lagi tidak sampai menandingi versi aslinya tapi ha itu sudah cukup untuk membuat versi baru ini tidak menjadi sebuah sajian hiburan yang kosong. Masih ada berbagai satir dan isu-isu yang diangkat. Saya juga cukup menyukai usaha membuat ceritanya menjadi lebih rumit (meski sebenarnya jika ditengok lebih dalam tidaklah serumit itu) dengan memberikan berbagai konspirai yang pada akhirnya menggambarkan bagaimana kotornya berbagai pihak yang ada dalam film ini. Sayapun menyukai bagaimana sosok RoboCop yang baru ini hadir. Dengan armor warna hitam yang lebih modern serta lebih ramping jelas sosoknya terlihat lebih keren. Tapi hal itu bukan berarti membuatnya melenceng dari versi asli yang banyak kita kenal. Dari segi desain masih terasa sekali soso RoboCop yang kita kenal dari dulu, bahkan diawal sosoknya masih berwarna abu-abu.

Mungkin pada akhirnya ini bukanlah versi yang lebih baik daripada RoboCop-nya Paul Verhoeven, tapi setidaknya usaha untuk membuat RoboCop lebih modern dan lebih sesuai dengan masa kini cukup berhasil tanpa perlu terasa dipaksakan dan menjadi sajian yang bodoh. Paling tidak film ini tidak menambah panjang daftar film-film buruk yang ada di dalam franchise RoboCop. Joel Kinnaman sendiri tidaklah buruk jika dibandingkan Peter Weller meski bibir dan dagu Weller dalam balutan helem RoboCop jelas begitu legendaris. Sosok Gary Oldman juga berhasil mencuri perhatian dengan aktingnya sebagai sosok dokter jenius yang terjebak diantara kemanusiaan miliknya dengan desakan kapitalisme yang terus menghimpit. Sebuah hiburan menyenangkan yang sama sekali tidak kosong meski tidak cerdas dan sempat membosankan pula di pertengahan. Tapi ini jelas upgrade serta pengenalan kembali yang cukup memuaskan dan saya tidak keberatan dengan satu atau dua sekuel lagi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar