SHORT TERM 12 (2013)

2 komentar
Short Term 12 adalah sebuah film yang diangkat dari sebuah film pendek berjudul sama buatan Destin Daniel Cretton. Film pendek itu sendiri berhasil mendapatkan Jury Prize for U.S. Short Filmmaking di Sundance Film Festival 2009. Empat tahun berselang Daniel Cretton merilis film panjangnya yang kembali ia sutradarai dan tulis sendiri naskahnya. Dengan bujet tidak sampai $1 juta film ini berhasil meraih respon sangat positif termasuk memenangkan beberapa penghargaan di SXSW Film Festival. Film ini sendiri ber-setting di sebuah rumah penampungan bagi para remaja yang dianggap bermasalah. Ya, para remaja yang dirawat di tempat bernama Short Term 12 memang punya masalah dalam hidup mereka entah itu akibat trauma, perlakuan buruk dari keluarga, sampai mereka yang mengalami gangguan psikologis. Tempat itu juga mempunyai orang-orang yang bertugas sebagai penjaga sekaligus teman bagi anak-anak yang tinggal disana. Tugas para penjaga itu adalah mulai dari merawat anak-anak sampai "mengejar" mereka yang berusaha kabur dan membujuknya untuk kembali lagi. Grace (Brie Larson) dan kekasihnya, Mason (John Gallagher, Jr.) adalah orang yang sudah bertahun-tahun bekerja disana dan itu membuat mereka berdua sudah paham betul seluk beluk dan cara menangani para remaja yang dianggap bermasalah tersebut.

Berbagai permasalahan harus dihadapi oleh Grace dan Mason, termasuk saat Marcus (Keith Stanfield) yang sudah berusia 18 tahun akan segera meninggalkan tempat itu tapi Marcus sendiri masih merasa berat dan belum siap pergi untuk kembali ke dunia luar. Masalah lain juga datang dari Jayden (Kaitlyn Dever) seorang gadis yang baru saja masuk kesana. Jayden sesungguhnya adalah gadis yang pandai namun berbagai permasalahan membuatnya menjadi remaja yang bermasalah dan dianggap menyusahkan. Namun Grace sendiri bukannya tidak memiliki permasalahan. Saat itu ia harus menerima fakta bahwa dirinya tengah hamil dan berniat menggugurkan kandungan tersebut meski belum memberitahukannya kepada Marcus. Tidak hanya itu Grace sampai sekarang juga masih belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Sekilas memang Short Term 12 telihat sebagai sebuah film yang akan terasa begitu kelam bahkan depresif dengan segala kisah tentang orang-orang bermasalah di dalamnya. Namun apa yang disajikan oleh Destin Daniel Cretton bukanlah "eksploitasi" mengenai berbagai masalah yang dimiliki karakternya, tapi tentang bagaimana orang-orang bermasalah ini saling membantu satu sama lain untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dan itu membuat Short Term 12 menjadi film yang penuh harapan dibandingkan film yang gelap dan depresif.

Short Term 12 memperlihatkan bahwa siapapun pasti punya masalah bahkan mungkin trauma masa lalu. Bahkan orang yang bertugas merawat mereka yang bermasalah pun pastinya juga memiliki masalah. Jika diibaratkan sama saja dengan seorang dokter yang tetap saja bisa terkena penyakit. Namun dengan bermodalkan permasalahan yang lebih dulu dan lebih lama ia alami, baik Grace maupun Marcus yang juga pernah merasakan kehidupan yang keras jadi lebih bisa melakukan pendekatan serta membantu para remaja tersebut. Bahkan seringkali lebih bisa daripada para terapis profesional yang ada disana. Kisah tentang mereka yang saling membantu dan saling mengisi inilah yang membuat fim ini jadi tidak terasa depresif. Segala permasalahan yang ada dituturkan dengan cukup mendalam, bahkan lewat hal-hal tersirat, namun tanpa perlu mengeksploitasinya dengan banyak dramatisasi yang berlebihan, Daniel Cretton lebih memilih berfokus pada usaha memperbaiki kondisi yang ada. Short Term 12 juga banyak berisikan momen-momen menyentuh yang bisa hadir tanpa perlu terasa berlebihan dan over dramatis karena hadir hanya lewat adegan-adegan sederhana seperti perayaan ulang tahun misalnya.


Dengan begitu dinamis film ini juga sanggup membawa emosi penontonnya naik turun. Banyak sekali momen dimana atmosfer filmnya berubah secara drastis, dari yang tadinya hangat dan menyenangkan tiba-tiba menjadi menyedihkan ataupun menegangkan. Banyak yang mengatakan Short Term 12 layaknya roller coaster dan saya pun setuju dengan hal itu. Kadang filmnya bisa terasa hangat, penuh canda tapi kadang bisa tiba-tiba begitu menyedihkan, dan lagi-lagi semuanya bisa muncul tanpa berlebihan dan hanya lewat adegan-adegan sederhana. Semuanya terasa realistis, meski menggambarkan bahwa tiap karakternya memilik masalah, tapi tidak terasa dipaksakan dan tidak berkesan hanya untuk menambah konfliknya saja. Kesederhanaan yang mendalam sangat terasa berkat interaksi antar karakternya yang banyak terjadi melalui dialog-dialog penuh rasa sayang serta curhatan penuh rasa sakit yang mereka ungkapkan. Akting bagus para pemainnya juga turut menguatkan kedalaman film ini. Brie Larson terasa begitu likeable disini namun juga berhasil menyiratkan adanya trauma masa lalu yang terus menghantuinya. Sedangkan Keith Stanfield sanggup menarik simpati yang begitu besar lewat karakternya yang terluka namun berusaha keras untuk menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya Short Term 12  diakhiri dengan sebuah ending yang terasa begitu hangat bahkan mengesankan sebuah harapan besar nan cerah yang menanti masing-masing karakter dalam film ini. 

2 komentar :

  1. Adegan Favorit gue waktu Keith Stanfield nge-rap
    gila langsung merinding gue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, itu adegan emang keren banget!

      Hapus