STRANGER BY THE LAKE (2013)

1 komentar
Jika Blue is the Warmest Color yang berkisah tentang pasangan lesbian berhasil memenangkan Palme d'Or, maka Stranger by the Lake yang berceritan tentang sepasang gay berjaya di Un Certain Regard setelah Alain Guiraudie menjadi Best Director. Kedua film ini memang terasa punya kemiripan dari segi tema namun sesungguhnya berbeda. Keduanya sama-sama mengangkat hubungan sesama jenis yang dibumbui berbagai adegan seks yang vulgar, namun Blue is the Warmest Color merupakan sebuah drama coming-of-age panjang penuh letupan emosi berdurasi hampir tiga jam sedangkan Stranger by the Lake adalah drama sunyi dengan bumbu thriller pembunuhan yang berdurasi hanya 92 menit. Stranger by the Lake juga berhasil memenangkan Queer Palm di ajang Cannes tahun lalu, yakni sebuah penghargaan bagi film-film yang mengangkat tema LGBT (Lesbian-Gay-Bisexual-Transexual). Berlokasi di danau Sainte-Croix yang terletak di Prancis pada suatu musim panas, awalnya film ini akan membawa kita berkeliling pantai bersama Franck (Pierre de Ladonchamps) seorang gay yang rutin datang ke danau tersebut entah sekedar untuk berenang, berjemur atau mencari pria lain untuk diajak berhubungan seks. Di tempat tersebut memang merupakan hal yang wajar saat dua orang pria yang tidak saling kenal menghabiskan hari bersama dengan berhubungan seks. Bahkan mayoritas pria disana telanjang bulat.

Disana juga Franck berkenalan dengan Henri (Patric d'Assumcao) seorang pria straight yang baru saja berpisah dengan istrinya. Keduanya pun mulai sering ngobrol meski hanya sebentar. Namun sesungguhnya perhatian Franck tertuju pada seorang pria bernama Michel (Christophe Paou) yang begitu ia sukai dan telah lama dia perhatikan. Namun ternyata Michel sudah mempunyai pasangan lain, hal yang membuat Franck sangat kecewa. Namun di suatu senja ia tidak sengaja melihat pemandangan mengerikan saat Michel menenggelamkan pacarnya di tengah danau. Ironisnya semenjak kejadian itu Franck dan Michel malah menjadi dekat dan rutin bersama di danau tersebut. Stranger by the Lake akan mengajak kita mengamati hari demi hari yang berlalu secara perlahan dimana setiap hari baru diawali dengan adegan Franck memarkir mobilnya di dekat mobil-mobil pengunjung danau lainnya. Bagi banyak orang film ini akan terasa repetitif karena yang hadir selalu hampir sama, diawali dengan Franck memarkir mobil, berbicara dengan Henri, bertemu dengan Michel, berhubungan seks, ngobrol sebentar sampai gelap lalu kembali lagi, begitu seterusnya. Sebuah hal yang repetitif saja mungkin sudah membuat filmnya susah dinikmati, apalagi ditambah dengan temponya yang lambat, suasana yang sunyi dan sepi, sampai adegan gay seks yang vulgar. Saat saya bilang vulgar disini artinya benar-benar nyata dimana hampir setiap momen disajikan secara vulgar entah itu handjob, blowjob sampai ejakulasi yang memperlihatkan sperma berceceran.

Anda yang tidak terbiasa mungkin akan merasa tidak nyaman apalagi filmnya setia memperlihatkan para laki-laki berjemur dan berjalan di danau tanpa pakaian dengan penis yang terpampang jelas. Filmnya juga berjalan dengan tempo yang lambat. Lambat bukan hanya karena banyaknya momen repetitif tapi karena alurnya memang bergerak dengan begitu lambat. Kesunyian setia menghiasi film ini dimana dialog tidak terlalu banyak, letupan emosi hampir tidak ada, obrolan antar karakter yang bagaikan tanpa hook meski esensial, banyaknya long take yang menampilkan gambar-gambar statis, sampai fakta bahwa filmnya sama sekali tidak memiliki scoring semakin menambah kesunyian yang ada. Memang Stranger by the Lake adalah film yang sepi tapi bukanlah film yang hampa. Kesunyian dan atmosfer kelam (di samping banyaknya adegan yang literally gelap secara pencahayaan) terasa begitu mencengkeram. Cara Alain Guiraudie memaparkan kisahnya membuat saya sulit mengalihkan padangan dari tiap adegannya, tidak peduli sesulit apapun untuk dinikmati berkaitan dengan konten vulgar dan temponya yang begitu lambat. Kita diajak untuk melakukan observasi terhadap apa yang terjadi di danau tersebut lengkap dengan segala interaksi yang terjadi antara tiap-tiap karakternya. Belum lagi perasaan ngeri yang selalu menghiasi filmnya setelah momen pembunuhan yang terjadi.
Ya, diluar dugaan meski dengan segala kesunyiannya Stranger by the Lake sanggup memberikan kengerian dan ketegangan yang tidak main-main. Beberapa kali muncul adegan yang berfokus pada situasi danau yang sepi dibandingkan karakternya, dan hal tersebut sukses membuat saya seolah ikut berada di danau yang sunyi dan gelap tersebut. Perasaan yang muncul adalah saya bagaikan berada sendirian di danau tersebut, lengkap dengan suasana sepi dan dingin yang begitu menyayat. Belum lagi saat adegan pembunuhan terjadi dimana saya merasa menjadi saksi mata langsung di lokasi kejadian. Lewat sebuah adegan long take selama beberapa menit yang diambil dari jarak jauh, bersama Franck saya merasa ikut mengintip terjadinya pembunuhan. Tidak ada darah, tidak ada teriakan, tidak terlihat pula ekspresi korban, hanya sebuah pemandangan mengerikan saat sesuatu yang awalnya terlihat seperti main-main menjadi horor nyata yang langsung mencengkeram. Belum lagi klimaksnya yang begitu menegangkan. Kejar-kejaran di klimaks memang masih hadir dengan tempo yang lambat, sunyi dan banyak menghadirkan gambar-gambar gelap, tapi lagi-lagi ketegangannya terasa begitu nyata karena saya seolah diajak ikut berada disana. Saya diajak ikut bersembunyi dalam gelap diantara rumput-rumput ilalang sambil sesekali mengintip dan mencuri dengar untuk mencari tahu kondisi sekeliling. 

Tapi diluar konten seksual dan kisah pembunuhannya, Stranger by the Lake juga berkisah tentang banyak hal. Ada sebuah studi karakter disaat seseorang dihadapkan pada situasi yang dilematis. Begitu dilematis karena situasi tersebut berkaitan dengan sesuatu yang telah lama ia dambakan dan tentus saja tidak mudah bagi Franck untuk menuturkan kebenaran karena itu artinya ia harus rela kehilangan kesempatan bersama Michel, pria yang sudah lama ia kagumi. Seperti judulnya, film ini juga bertutur tentang keasingan dimana semua karakternya adalah orang asing satu sama lain, bahkan bagi penonton mereka pun adalah orang asing yang latar belakangnya tidak kita ketahui. Yang kita tahu hanyalah mereka dipersatukan di danau tersebut. Stranger by the Lake memang mengingatkan pada ketegangan yang tersaji dalam film-film Alfred Hitchcock disaat penonton diposisikan tidak hanya sebagai orang yang mengamati dari "dunia lain" yang terpisah dari filmnya tapi seolah diajak turut berada di dalam filmnya. Pada akhirnya Stranger by the Lake bukanlah menjadi sebuah porno meski punya banyak konten seksual yang vulgar, semuanya terasa seksi, mencengkeram, menegangkan bahkan mengerikan. Bonus juga untuk poster filmnya yang begitu keren dengan menampilkan goresan penuh warna yang unik.

1 komentar :

  1. judul lain apa gan yang full adegan sexnya?

    BalasHapus