DEMI UCOK (2013)

Tidak ada komentar
Ini adalah film kedua yang dibuat oleh Sammaria Simanjuntak, sutradara wanita yang pada tahun 2009 lalu melahirkan Cin(t)a, sebuah film romantis indie yang bisa dibilang berhasil menjadi sebuah cult bahkan berhasil membawa pulang Piala Citra untuk kategori naskah aslie terbaik. Dengan kesuksesan tersebut tentu banyak yang memprediksi bahwa Sammaria Simanjuntak akan menjadi sutradara besar yang laris manis karyanya. Tapi sayang, Indonesia tidaklah terlalu bersahabat bagi mereka para sutradara indie idealis meski dia telah membuat karya yang dicintai begitu banyak orang. Hal itulah yang terjadi pada Sammaria Simanjuntak karena baru empat tahun setelah film pertamanya ia merilis Demi Ucok yang merupakan film kedua sekaligus curhatan personal dari sang sutradara tentang kondisi yang selama ini ia hadapi. Demi Ucok juga membawa serta dua pemeran utama dalam Cin(t)a yakni Sunny Soon dan Saira Jihan meski kali ini keduanya hanya menjadi pemeran pendukung. Untuk pemeran utama ada nama Geraldine Sianturi serta Lina Marpaung dimana nama terakhir sukses membawa pulang Piala Citra untuk kategori aktris pendukung terbaik. Demi Ucok sendiri memang bagaikan sebuah curhatan personal Sammaria Simanjuntak dimana film ini bertutur tentang Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi), seorang sutradara film asal Batak yang sudah empat tahun semenjak debutnya tidak membuat film karena kesulitan mencari produser yang mau mendanai filmnya.

Disisi lain sang ibu, Mak Gondut (Lina Marpaung) adalah seorang wanita paruh baya yang dulunya bermimpi jadi artis tapi akhirnya malah menikah dan memilih membuang mimpinya tersebut. Hal itulah yang membuat Glo tidak ingin menjadi seperti ibunya dan berniat untuk mengejar mimpinya dulu baru memikirkan pernikahan. Namun ternyata Mak Gondut sangat berambisi untuk menjodohkan puterinya tersebut dengan pria Batak. Karena baginya tugas seorang wanita Batak hanya tiga, yaitu menikah dengan pria Batak, punya anak Batak dan akhirnya punya menantu Batak. Konflik pun mulai terjadi antara ibu dan anak tersebut yang sama-sama teguh memegang pendirian masing-masing. Gloria yang tetap teguh ingin berusaha membuat film dulu sebenarnya juga menyadari bahwa untuk sutradara dengan idealisme seperti dirinya sulit untuk mendapatkan produser yang mau membiayai filmnya. Kenapa? Karena bagi para produser film Indonesia yang laku haruslah film horor yang memunculkan hantunya tiap 2 menit sekali serta pamer susu-susu aktrisnya. Begitulah Demi Ucok, sebuah drama satir yang menyindir banyak hal dan mentertawakan banyak hal juga meski durasinya hanya 79 menit dan jika dikurangi credit maka hanya satu jam lebih sedikit. Sebuah film yang tidak hanya sangat personal tapi juga sangat Batak karena akan ada banyak kultur Batak disini. Bahkan judulnya pun punya sentuhan komedi karena tidak ada karakter bernama Ucok disini. Nama Ucok sendiri dimasukkan karena nama itulah yang sangat identik dengan Batak. Ibaratnya kalau filmnya tentang Jawa ya diberi judul Demi Bambang atau Demi Slamet.

Tapi walaupun Demi Ucok adalah film yang sangat Batak, hal itu tidak membuat fim ini jadi terlalu segmented. Alih-alih membuat film yang hanya dimengerti orang Batak, Demi Ucok justru berbaik hati memberi tahu pada penonton awam tentang beberapa budaya sana khususnya yang berkaitan dengan para wanita Batak. Penggunaan bahasa Batak pun ada tapi tidak terlalu mendominasi dan masih bisa diikuti karena toh ada subtitle-nya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, meski berdurasi sangat pendek tapi film ini punya begitu banyak hal yang coba disampaikan. Naskahnya benar-benar jadi curhatan habis-habisan dari Sammaria Simanjuntak. Segala hal yang membuatnya gundah dan risih ia tuangkan disini mulai dari budaya tentang wanita Batak, kondisi perfilman Indonesia yang hanya menjual film-film sampah dan tidak bersahabat dengan sutradara indie muda seperti dirinya, sampai hal-hal politik dari korupsi sampai para politikus yang hanya tebar pesona tanpa memberikan kemajuan yang nyata bagi bangsa. Banyak hal tersebut muncul dari berbagai obrolan santai karakternya sampai kejadian-kejadian yang menimpa Gloria. Tapi sayangnya berbagai pesan-pesan termasuk tentang usaha mengejar mimpi disampaikan terlalu repetitif, berulang-ulang dengan cara yang sama yaitu curhatan verbal Gloria. Entah berapa kali kita mendengar Glo berkata "pokoknya Glo mau bikin film". Hal tersebut menciptakan kebosanan bagi saya, karena akhirnya Demi Ucok terkesan sebagai curhatan yang terlalu cerewet.
Jelas ini adalah film yang personal bahkan mungkin semi-biografi dari Sammaria Simanjuntak melihat segala situasi yang dialami oleh Gloria disini. Sayangnya Demi Ucok terlalu luas dalam berbicara. Andaikan kisahnya lebih berfokus pada konflik ibu-anak dan sindiran terhadap industri perfilman saja saya yakin ini akan jadi tontonan yang lebih bagus dan lebih mengena daripada sekedar sindiran demi sindiran numpang lewat yang bisa membuat tersenyum tapi akan segera terlupakan. Padahal beberapa sindiran tentang industri film cukup lucu dan masih banyak yang bisa diangkat dari hal tersebut. Ya, jika bicara tentang kelucuan Demi Ucok memang lucu. Tidak semua komedinya berhasil tapi tidak ada yang sampai terasa keterlaluan jayusnya seperti banyak film komedi Indonesia. Saya selalu dibuat tersenyum dengan sindiran dan tingkah laku serta celotehan karakternya. Mulai dari sosok Lina Marpaung yang absurd, muka jutek Geraldine Sianturi dan segala pemikiran kritisnya, Saira Jihan yang lesbian tapi bisa hamil dan bisa menarik perhatian semua pria hanya dengan membuka kaca matanya, sampai cameo Joko Anwar sebagai produser film horor kancut semuanya sanggup memancing tawa saya. Komedinya juga saya akui cukup berani dan mungkin bagi mereka dengan cara pandang "tertutup" akan terasa terlalu berani, tapi saya toh merasa semua itu hiburan yang lucu. Tapi sayangnya kedalaman emosional film ini tidaklah sehebat komedi satirnya. Kisah antara Gloria dan Mak Gondut hanya meninggalkan kesan jenaka tanpa kedalaman emosi yang berlebih. Padahal seharusnya ada kesan mendalam dalam hubungan keduanya, yang akhirnya membuat pesan tentang "berbuat baik pada orang tua jika ingin sukes" tidaklah tersampaikan dengan baik.

Satu hal yang banyak dikritisi dalam film ini adalah teksninya yang buruk dan terlihat amatiran. Memang Demi Ucok terlihat begitu kasar dalam pengambilan gambar dan editingnya dan terlihat diambil dengan bujet seadanya serta lebih banyak mengandalkan semangat dan kecintaan membuat film.Tapi tetap saja saya tidak bisa membenci film ini dengan kekurangan teknisnya, karena meski sedikit mengganggu tapi saya lebih merasakan passion besar dari Sammaria Simanjuntak disini. Ini adalah bentuk kecintaan dan hasrat besar seseorang terhadap film dan pembuatan film hingga dengan segala keterbatasannya. Jika ingin menyalahkan, salahkan para produser yang tidak mau membiayai para pembuat film indie berbakat seperti Sammaria Simanjuntak. Kesederhanaann film ini bagi saya lebih memunculkan rasa semangat dan cinta daripada tidak niat. Bahkan di tengah segala kesederhanaan tersebut film ini masih berusaha menampilkan beberapa visual animasi yang unik meski lagi-lagi sederhana. Dibandingkan dengan Cin(t)a jelas teknis film ini dibawahnya. Tapi saya tetap menikmati Demi Ucok, sebagai sebuah tontonan menghibur yang juga curhatan personal dan berisi banyak "teriakan" dari pembuatnya tentang segala kesulitan yang menghalangi mimpinya. Mungkin Sammaria Simanjuntak sedikit terlalu terburu-buru merilis film ini karena naskahnya sendiri meski bagus masih bisa jauh dikembangkan hingga tidak hanya sekedar jadi film berdurasi satu jam lebih sedikit. Atau lagi-lagi keterbatasan dana?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar