NON-STOP (2014)

1 komentar
Taken membuat nama Liam Neeson melesat cepat sebagai salah satu aktor laga kelas satu. Bahkan bisa dibilang namanya kini sudah lebih besar dan jauh lebih bankable dibanding aktor-aktor laga legendaris macam Stallone, Schwarzenegger samapi Bruce Willis. Dengan Liam Neeson, sebuah film aksi yang buruk sekalipun bisa terhindar dari menjadi sampah berkat kharisma dan kedalaman akting yang dia miliki, khususnya jika berperan sebagai seorang pria kuat yang tersiksa batinnya. Dalam Non-Stop yang disutradarai oleh Jaume Collet-Serra (Unknown) ini, Neeson kembali memerankan karakter serupan, yaitu seorang polisi udara alkoholik yang menyimpan luka akibat tragedi masa lalu. Tapi Non-Stop tidak hanya memiliki Liam Neeson seorang, ada Julianne Moore, Michelle Dockery, hingga Lupita Nyong'o yang saat film ini dibuat masih belum menjadi pemenang Oscar seperti sekarang. Jadi dengan keberadaan Liam Neeson sebagai aktor utama dan Jaume Collet-Serra dengan jajaran filmography seperti House of Wax, Orphan hingga Unknown kita sudah bisa menebak dengan mudah apa yang akan kita dapatkan dari film ini, yaitu sebuah hiburan brainless yang berjalan cepat (and literally non-stop) dilengkapi dengan sentuhan misteri di dalamnya.

Bill Marks (Liam Neeson) adalah seorang polisi federal yang tengah bertugas mengamankan sebuah penerbangan internasional menuju London. Sedari awal kita sudah diajak untuk mempelajari bahwa Bill adalah seorang polisi yang bermasalah dengan ketergantungan alkohol. Tentu saja bagi Bill penerbangan ini bagaikan sebuah rutinitas biasa yang tidak perlu ia khawatirkan sedikitpun. Sampai di tengah penerbangan Bill mendapat sebuah sms dari seseorang misterius yang mengatakan bahwa ia akan membunuh satu orang di dalam pesawat tersebut setiap 20 menit. Untuk menghentikan aksinya ia meminta uang tebusan senilai $150 juta. Kini dengan bantuan beberapa orang termasuk pramugari bernaa Nancy (Michelle Dockery) dan wanita yang baru ia temui, Jen (Julianne Moore), Bill harus berusaha menghentikan orang misterius tersebut sebelum banyak nyawa orang tidak bersalah menjadi korban. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk mencari satu orang diantara lebih dari seratus orang, apalagi Bill harus berpacu dengan waktu. Sebuah film aksi-thriller dengan balutan misteri yang ber-setting puluhan ribu kaki di udara, terdengar seperti sebuah tontonan yang mengasyikkan bukan?
Non-Stop dengan segala hal yang ditawarkan memang terdengar mengasyikkan. Premisnya terasa menarik dengan setting yang hanya terletak di sebuah pesawat yang sedang terbang. Bukan sebuah hal baru karena film-film seperti Snakes on Plane atau Flightplan sudah pernah menggunakannya tapi tetap saja menarik. Apalagi ditambah dengan selipan misteri yang dibangun dengan baik diawal film. Sedari awal film ini memang sudah begitu menarik perhatian saya dengan misteri yang ditawarkan. Dengan cepat Non-Stop mampu membuat saya ikut larut dalam permainan tebak-tebakan yang dilakukan oleh Bill. Berbagai macam pertanyaan khususnya "siapa", "bagaimana" dan "mengapa" terus berputar di kepala saya dalam menit demi menit film ini bergulir. Non-Stop memberikan pada kita beberapa tersangka yang terus membuat penonton mengobservasi satu per satu dari mereka. Ditambah dengan tempo yang cukup cepat dan ketegangan yang terus terjaga dengan baik berkat perpaduan antara misteri, adegan aksi dan drama tentang sosok Bill, tensi film ini selalu berhasil dijaga dengan baik. Tapi tentu saja film dengan bumbu misteri macam ini punya tingkat kesulitan terbesar bukan pada bagaimana membangun msiterinya, tapi bagaimana memberikan konklusi yang memuaskan, dan Non-Stop gagal melakukan itu.
Konklusinya memiliki twist di bagian akhir, namun sayangnya twist tersebut jauh dari kesan memuaskan. Semuanya terasa agak dipaksakan untuk diungkap dan begitu terburu-buru. Pada akhirnya, tebak-tebakan yang berlangsung sepanjang film bagaikan dipaksa untuk berakhir hanya dalam waktu tidak sampai lima menit konklusinya. Semuanya terlalu terburu-buru. Belum lagi penjelasan yang terlalu dipaksakan, tidak masuk akal dan penuh plot hole mengenai identitas sang pelaku membuat segala misteri dan kegiatan tebak-tebakan sepanjang film menjadi percuma. Film yang masuk ranah penyelidikan layaknya kisah detektif seperti Non-Stop ini harus mampu menebar clue dengan cermat serta mengaitkannya dengan masing-masing tersangka. Hal itulah yang gagal dilakukan film ini. Saya pun sedikit merasa dicurangi oleh misterinya, karena yang diberikan oleh film ini bukanlah sebuah clue untuk membuat pengungkapan identitas sang pelaku jadi masuk akal, tapi sebuah pengalihan dan tipuan supaya penonton kebingungan menebak pelakunya. Memang terasa bodoh, tapi toh memang film seperti ini tidak usah diharapkan menjadi tontonan cerdas. Sama seperti klimaksnya yang meskipun terasa begitu menggelikan tapi tetap aja seru dan cukup menegangkan.

Jajaran pemainnya pun cukup memuaskan. Liam Neeson adalah Liam Neeson yang tidak pernah mengecewakan. Dia punya kharisma, aura tough guy meski usianya sudah tidak lagi muda, serta kedalaman akting yang membuat sosok action hero yang ia perankan tidak pernah terasa setipis kertas. Julianne Moore juga memberikan penampilan yang cukup menarik lewat karakternya yang entah bagaimana terasa begitu lovable. Michelle Dockery memang tidak memiliki porsi yang membuatnya nampak menonjol tapi setidaknya dengan kecantikannya saya mendapat hiburan berlebih dalam menonton film ini. Lupita Nyong'o? Well, jangan berharap banyak pada penampilannya disini. Seperti yang sudah saya bilang, film ini dibuat saat 12 Years A Slave masih memasuki masa-masa awal perilisan di berbagai festival film, jadi wajar saja jika bakatnya belum begitu dimaksimalkan. Pada akhirnya Non-Stop sanggup memberikan hiburan yang amat menyenangkan. Memang terasa brainless, ditambah kritikan terhadap pemerintah dan fasilitas keamanan yang terasa benar-benar numpang lewat dan begitu dipaksakan masuk makin membuat film ini terasa bodoh. Tapi lagi-lagi siapa yang mengharapkan sajian misteri layaknya Hitchcock disini bukan? Overall sebuah hiburan yang amat sangat menyenangkan.

1 komentar :

  1. ditamabah sak twist maneh sisan kok syid, gek iso dadi sequel. pas adegan keri dhewe, ono sms mlebu. haha

    BalasHapus