RIGOR MORTIS (2013)

2 komentar
Saya yakin banyak dari anda yang pada saat kecil dulu pernah bermain "vampir-vampiran" atau apapun sebutannnya. Saya ingat dulu saat masih SD sering bermain permainan itu, dimana saya dan beberapa orang "berperan" sebagai manusia yang dikejar oleh vampir. Yang menjadi vampir tentu saja teman saya yang lain dimana dia akan melompat-lompat dengan menjulurkan tangan ke depan. Untuk melarikan diri yang perlu dilakukan adalah menahan nafas atau menempelkan kertas mantera yang terlebih dulu ditulisi huruf China asal-asalan dan ditulis dengan "darah" dari jempol yang telah kita gigit sendiri. Jujur itu salah satu permainan paling menyenangkan sekaligus menyeramkan dulu. Benar-benar menggambarkan film-film Jiangshi yang menginspirasi permainan tersebut. Film Jiangshi atau yang lebih sering disebut "Film Vampir China" itu pernah rutin menghiasi layar kaca pada era 90-an sampai awal 2000-an. Kalau tidak salah Jumat siang, jadi sambil menanti waktu Solat Jumat, film-film itulah yang jadi hiburan saya. Filmnya seram tapi juga penuh komedi yang lucu serta adegan aksi yang seru. Kini Juno Mak berusaha membangkitkan kembali Jiangshi yang telah redup dengan judul Rigor Mortis. "Rigor Mortis" sendiri merupakan sebutan untuk proses kekakuan secara bertahap pada mayat.


Dalam film ini, Chin Siu-ho memerankan dirinya sendiri, yaitu seorang mantan aktor besar yang dulu identik dan meraih kesuksesan lewat film-film Jiangshi. Tapi kini kesuksesan tersebut telah berakhir dan Siu-ho hidup sebatang kara setelah kehilangan anak dan istrinya. Siu-ho pun memilih pindah ke sebuah apartemen yang kecil dan kumuh. Disanalah ia memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Tapi sesaat setelah ia melakukan itu, Siu-ho mendapat banyak gambaran visual aneh yang menyeramkan dan tidak lama kemudian datanglah Yau (Anthony Chan), seorang pemburu vampir yang tinggal di apartemen tersebut menghentikan aksi bunuh dirinya. Ternyata kamar yang ditempati oleh Siu-ho juga merupakan tempat bersemayamnya arwah penasaran dari dua gadis kembar yang dulu mati bunuh diri secara mengenaskan disana. Alasan Yau menyelamatkan Siu-ho adalah karena dua arwah penasaran tersebut mencoba masuk ke dalam tubuh Siu-ho. Setelah kejadian itulah Siu-ho mulai melakukan perenungan terhadap kehidupan masa lalunya yang telah membawanya ke momen depresi seperti sekarang. Yau sendiri adalah seorang pemburu vampir yang kini bekerja sebagai koki di apartemen tersebut setelah pekerjaan memburu vampir menjadi sepi karena secara misterius para vampir menghilang. Tapi tanpa mereka ketahui akan segera terjadi teror mengerikan sekaligus mematikan di apartemen tersebut setelah sebuah ilmu hitam membangkitkan sesosok vampir.
Apa yang dihadirkan oleh Juno Mak dalam Rigor Mortis tidak hanya sebuah penghormatan terhadap franchise Jiangshi macam Mr. Vampire dan Encounters of the Spooky Kind tapi juga sebuah re-imagining, pengemasan baru yang lebih modern dan menyesuaikan jaman bagi film Jiangshi. Bagi anda yang sudah familiar dengan film-film macam ini pasti langsung banyak menangkap berbagai tribute yang dimasukan Juno Mak, mulai dari berbagai cara menangkal vampir yang saya sebutkan di awal tulisan (menahan nafas, menggigit jari untuk mengeluarkan darah yang digunakan menulis di kertas mantera), ciri khas vampir dan pemburu vampirnya, sampai beberapa foto lawas yang memperlihatkan para ikon Jiangshi termasuk sang "pendeta" Lam Ching-ying yang telah meninggal pada tahun 1997. Para aktor utamanya pun adalah mereka yang sudah malang melintang di franchise Jiangshi, termasuk Chin Siu-ho, Anthony Chan dan Richard Ng. Dengan segala aspek tersebut, Rigor Mortis sudah cukup memberikan rasa nostalgia yang menyenangkan bagi saya. Walaupun begitu ada juga perubahan yang dilakukan Juno Mak guna memberikan rasa tersendiri pada filmnya. Yang paling terasa adalah dihilangkannya komedi yang sangat kental pada Jiangshi jaman dahulu. Tidak hanya menghilangkan komedinya, tone film ini pun terasa lebih gelap dan depresif dengan banyaknya intensi bunuh diri pada karakter sampai romansa tragis.
Kehadiran Takashi Shimizu (Ju-On) sebagai produser juga nampaknya berpengaruh pada atmosfer kelam serta creepy pada film ini. Pemangkasan komedinya memang mengurangi kesenangan ala Jiangshi, tapi toh Juno Mak punya hal lain yang ditawarkan untuk menyuntikkan keasyikan pada film ini. Ada banyak momen gore penuh darah serta bagian tubuh terpotong disini. Banyak kematian sadis yang tidak saya bayangkan bakal muncul dlam film-film vampir muncul disini. Yang paling menyenangkan tentu saja saat Rigor Mortis masih mempertahankan keseruan klimaks pertarungan antara vampir dan manusia. Momen klimaks saat Chin Siu-ho bertarung habis-haibsan melawan vampir Richard Ng itu luar biasa seru dan tentunya keren. Keren berkat pengemasan berbagai efek CGI stylish yang menghiasi sepanjang film. Sedikit terkesan berlebihan tapi saya tidak peduli karena Juno Mak sanggup mengemasnya dengan baik dan sekali lagi: keren! Rigor Mortis pun masih mempunyai keseraman yang cukup baik. Vampir Richard Ng punya make-up mengerikan dengan muka hancurnya. Sedangkan arwah gadis kembar yang sempat muncul di sebuah adegan yang terinspirasi dari The Shining-nya Staney Kubrick juga turut menambah ancaman mengerikan disini. Klimaks seru nan stylish itu pada akhirnya berujung pada sebuah ending yang cukup membingungkan tapi sebenarnya adalah momen yang amat kelam dan tragis.

Rigor Mortis sendiri mulai dari awal, pertengahan sampai ending-nya itu merupakan gambaran nasib dari film Jiangshi saat ini. Dialog Yau yang mengatakan bahwa "vampir secara misterius menghilang" menggambarkan bahwa sekarang film Jiangshi tidak hanya tak lagi dikagumi tapi memang menghilang. Tidak ada lagi film-film menghadirkan vampir Hong Kong melompat sekarang ini, jika pun ada hanya akan berakhir sebagai sebuah film yang terlupakan dengan sedikit orang yang menonton. Hal itu jugalah yang menjadi alasan kenapa Chin Siu-ho memerankan dirinya sendiri, karena ini juga merupakan gambaran karirnya dan para ikon Jiangshi lain kecuali Sammo Hung yang tidak lagi mendapat tawaran film. Ending-nya terasa tragis dan deprsif karena segala kejadian yang hadir sepanjang film sesungguhnya tidak lebih dari "visual" yang terbersit di memori dan ingatan Siu-ho disaat tubuhnya perlahan menjadi kaku dan akhirnya meregang nyawa dalam kesendirian, kesepian, dan terlupakan. Yang ia harapkan adalah seorang pemburu vampir tiba-tiba datang menyelamatkan dirinya dan "mengabarkan" padanya, "Hei, ada vampir lagi yang muncul untuk kita lawan". Tidakkah diluar segala horror dan keseruannya Rigor Mortis adalah kisah yang tragis dan menyedihkan? Tribute yang pantas dari Juno Mak, meski minus komedi dan terdapat kekurangan pada caranya bertutur yang terkadang membingungkan.

2 komentar :

Comment Page:
Maulida Ibnaty Qonita mengatakan...

wah, terima kasih gan atas review film rigor mortis-nya. baru tau kalo dedikasi film ini dalem banget. dilihat dari dedikasinya, aku jadi inget film 'the artist'. :')

Unknown mengatakan...

wow