PASIR BERBISIK (2001)

Tidak ada komentar
Dian Sastrowardoyo begitu "beruntung" karena bisa terlibat dalam dua film yang cukup berperan besar dalam menandai kebangkitan industri perfilman Indonesia. Yang paling dikenal tentu saja saat ia berperan sebagai Cinta dalam AADC, tapi setahun sebelumnya, saat usianya baru menginjak 19 tahun Dian Sastro juga ikut ambil bagian dalam film Pasir Berbisik karya Nan Achnas (Kuldesak, The Photograph) yang berhasil meraih kesuksesan dalam berbagai festival film mancanegara. Film yang memiliki judul internasional Whispering Sands ini sukses membawa Dian Sastro menjadi Best Actress dalam Deauville Asian Film Festival serta Singapore International Film Festival. Di festival-festival lain film ini juga meraih kesuksesan termasuk tiga piala (Best New Director, Best Cinematography dan Best Sound) dalam Asia Pasific Film Festival. Film ini sendiri tidak hanya dibintangi oleh Dian Sastro, karena ada banyak nama-nama besar lainnya seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Didi Petet, penyanyi Dessy Fitri, pelawak senior Mang Udel, sampai Dik Doank yang muncul dalam sebuah peran kecil. Dengan segudang prestasi serta nama besar baik di depan maupun belakang layar, Pasir Berbisik jelas merupakan salah satu film "kelas berat" yang begitu menarik perhatian.

Daya (Dian Sastrowardoyo) adalah seorang gadis muda yang tinggal hanya berdua dengan sang ibu, Berlian (Christine Hakim) di sebuah perkampungan yang terletak di sekitar pantai. Berlian bekerja menjadi seorang penjual jamu untuk menghidupi mereka berdua setelah sang suami, Agus (Slamet Rahardjo) yang dulunya merupakan seorang dalang "menghilang" beberapa tahun lalu disaat Daya masih kecil. Pada saat itu, kondisi kampung tempat mereka tinggal juga tengah memanas setelah terjadi beberapa pembunuhan dan pembakaran rumah. Perpaduan beberapa konflik itulah yang mempengaruhi cara Berlian mendidik Daya. Daya tidak mendapatkan kebebasan untuk melakukan hal-hal yang ia mau termasuk bersosialisasi dengan beberapa orang. Hal itu membuat Daya tidak menyukai sang ibu dan menghabikan waktunya dengan terus berharap suatu hari sang ayah akan pulang dan membawanya pergi dari tempat tersebut. Seiring berjalannya waktu, kondisi makin memanas dan memaksa Berlian membawa Daya pergi dari kampung tersebut menuju sebuah tempat bernama Pasir Putih. Disanalah Daya mulai bertemu dengan banyak orang seperti Sukma (Dessy Fitri) yang dengan cepat menjadi sahabatnya beserta sang kakek (Mang Udel) yang mengajari Daya menulis dan berhitung, sampai seorang lintah bernama Suwito (Didi Petet). Di Pasir Putih jugalah Daya kembali bertemu dengan Agus yang justru membawa konflik baru lagi.
Tipikal film seorang Nan Achnas adalah apa yang sering disebut sebagai arthouse movie atau film "nyeni" yang cenderung berat entah itu cerita maupun cara bertuturnya. Sama seperti sutradara wanita lainnya Mouly Surya, film-film garapan Nan Achnas cenderung berjalan lambat, penuh simbol serta minim dialog karena lebih banyak berbicara lewat gambar-gambar. Hal yang sama berlaku juga untuk Pasir Berbisik dimana hamparan gurun pasir luas yang gersang lebih banyak hadir daripada percakapan antar pemainnya. Jika ada dialog, itupun hadir disaat memang benar-benar dibutuhkan dan dilafalkan tidak dengan meledak-ledak meskipun itu merupakan adegan yang emosional. Perasaan sepi memang coba dibangun dalam film ini dan hal itu memang sesuai dengan cerita filmnya. Namun sepi bukan berarti membosankan. Film ini punya banyak "senjata" yang membuat saya tidak pernah merasa bosan mengikuti 110 menit filmnya yang sepi dan lambat itu. Pertama jelas sinematografi indah garapan Yadi Sugandi yang memang luar biasa. Hamparan pasirnya, gubuk-gubuk reyot yang gelap itu, sampai langit dengan matahari yang bersinar terang nan terasa gersang hadir menciptakan keindahan visual yang bukan merupakan style over substance. Kenapa? Karena film ini bukan hanya jualan gambar, apalagi gambar indahnya mendukung jalinan cerita juga.
Cerita utamanya adalah tentang sosok Daya. Bagaimana seorang remaja perempuan ini harus hidup dalam kesendirian dan kesepian di tengah kehilangan sosok ayah dan sosok ibu yang terus mengekang kebebasannya. Tidak hanya Daya, tokoh Berlian juga mendapat sorotan penceritaan juga disini. Kita akan mempelajari alasan kenapa ia begitu mengekang puteri tunggalnya. Jalan cerita Pasir Berbisik akan terasa berat dan sedikit memusingkan dengan banyaknya simbol dan ambiguitaas, tapi hal itu juga yang membuatnya terasa begitu menarik. Beberapa hal hanya di-tease tanpa pernah dijelaskan secara gamblang seperti konflik apa yang terjadi di kampung, alasan kepergian Agus, alasan Berlian mengekang Daya dan mengapa ia begitu membenci kesukaan Daya terhadap tarian. Beberapa simbolisme juga muncul dimana salah satu yang paling memorable adalah topeng terbalik yang diberikan oleh seorang pria (Dik Doank) kepada Daya. Hal-hal tersebut memang bakal membuat penonton bertanya-tanya tapi bagi saya hal itulah yang menjadi salah satu daya tarik utama film ini disaat saya menjadi "dipaksa" untuk terus memberikan fokus maksimal untuk bisa menterjemahkan segala simbol maupun hal-hal tersirat di dalamnya. 

Bicara soal akting tentu saja apa yang ditampilkan para aktor dan aktris hebat ini terasa luar biasa. Dian Sastro sebagai Daya mampu memperlihatkan rasa sepi, marah dan sedih yang bercampur dan terpendam dalam diri seorang gadis remaja polos. Christine Hakim dibalik sosoknya yang banyak diam, penuh rasa waspada dan antipati terhadap segala kemauan Daya sanggup membuat saya yakin bahwa apa yang dilakukannya itu karena rasa cinta yang begitu besar dan pengaruh dari segala kejadian buruk di sekitarnya. Slamet Rahardjo sempat menghadirkan sebuah momen luar biasa saat ia mengajari Daya dan Sukma bagaimana cara menggaet atensi orang-orang. Sedangkan Didi Petet meski porsinya tidak terlalu banyak tapi begitu signifikan, termasuk sebuah pembicaraan "lirih" dengan Daya yang membuat saya merasakan emosi bercampur aduk mulai dari sedih, marah, sampai jijik. Tapi semua itu bukan saja karena akting yang bagus dari mereka semua tapi berkat karakterisasi serta pembagian porsi dalam naskah karya Nan Achnas dan Rayya Makarim yang begitu apik. Dengan naskah yang biasa, karakter seperti Agus dan Suwito bisa berakhir dangkal dan dipaksakan meski akting keduanya bagus sekalipun. Dibalut juga dengan iringan musik indah karya Theoersi Argeswara yang banyak menggunakan instumen tradisional (memberikan sedikit kesan fantasi), Pasir Berbisik merupakan salah satu film terbaik yang dimiliki perfilman Indonesia.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar