OF HORSES AND MEN (2013)

1 komentar
Seekor hewan dengan pemiliknya, bisa jadi punya ikatan yang kuat bahkan tidak jarang sang hewan merepresentasikan sosok majikannya. Film asal Islandia yang menjadi debut penyutradaraan dari Benedikt Erlingsson ini akan membawa penontonnya melihat kehidupan orang-orang di sebuah pedesaan di Islandia dengan kuda-kuda mereka. Saya tidak perlu tahu sinopsis film ini atau fakta bahwa Of Horses and Men merupakan perwakilan Islandia di ajang Oscar 2014 untuk tertarik menontonnya. Cukup dengan melihat poster filmnya itu dan saya pun antusias. Sebuah poster yang cukup gila, tapi ternyata belum segila apa yang dihadirkan oleh keseluruhan filmnya. Berlatar di sebuah desa, film ini berisikan beberapa kisah tentang beberapa warga desa dimana masing-masing kisah dibuka dengan adegan mata yang menatap sesuatu (bisa mata kuda, bisa juga mata manusia). Karena mayoritas warga desa tersebut hobi atau beternak kuda, maka jadilah setiap cerita selalu melibatkan kuda di dalamnya. Tentu saja seperti yang sudah saya bilang masing-masing cerita punya kegilaan di dalamnya. Sebuah kegilaan yang hadir di tengah kesan realisme, alur agak lambat, kesan dingin pedesaan Islandia, dan pada momen tidak terduga. 

Dengan pengemasan dan atmosfer seperti itu, tidak ada yang mengira Of Horses and Men akan dihiasi banyak komedi gelap yang brutal, dan pada akhirnya semakin menguatkan kesan shocking pada penonton. Beberapa kegilaan yang dihadirkan Benedikt Erlingsson pada filmnya ini antara lain kuda yang berhubungan seks (seperti pada poster film), banyak kekejaman, kekerasan, kematian, sampai salah satu yang paling gila adalah yang menampilkan badai salju dan membuat sang pemilik kuda harus mencari cara untuk berlindung dari udara dingin. Film ini pun jadi semakin terasa aneh berkat kesintingan tersebut, tapi pada akhirnya memang rasa kaget dan umpatan-umpatan yang keluar dari mulut saya saat menonton adalah bukti betapa menghiburnya kegilaan komedi hitam film ini. Tapi yang menarik bukan hanya komedi hitamnya saja, tapi juga observasi terhadap masing-masing karakter. Masing-masing dari mereka ada yang terasa menggelikan, menyedihkan, ternoda harga dirinya, kehilangan kepercayaan diri, terbakar cemburu, dan pada akhirnya semua itu banyak berujung pada kekejaman yang mereka lakukan. 
Tapi sayangnya observasi yang menarik pada tiap-tiap karakter tidak juga diimbangi oleh pembangunan hubungan antara masing-masing dari mereka. Secara keseluruhan ada beberapa interaksi/hubungan yang coba dibangun, tapi tidak ada satupun yang berhasil terasa maksimal. Banyaknya kisah yang coba dihadirkan dan fokus utama lebih pada pendalaman secara inividu membuat hubungan inter personal mereka jadi kurang tergali. Patut disayangkan, karena konklusi dari film ini cenderung mengarah pada hubungan mereka, sehingga film ini pun ditutup dengan sebuah konklusi yang kurang memuaskan. Segmen-segmen yang ada pun tidak semuanya tampil maksimal. Mayoritas cerita memang amat menarik, bahkan ada sebuah kisah yang amat pendek tapi terkesan menggigit dengan menampilkan pemotongan penis kuda, tapi ada satu kisah yang terasa kurang menarik, amat jauh jika dibandingkan dengan yang lain. Kisah tersebut adalah yang menampilkan Joanna, seorang wanita yang begitu ahli mengendalikan kuda. Dibandingkan yang lain, cerita Joanna terlalu ringan, terlalu cerah, dan amat minim komedi hitam, seolah-olah berasal dari dunia yang berbeda. Mungkin Erlingsson tidak ingin penonton bosan dengan segmen yang sama, tapi pada akhirnya langkah itu malah membuat kisah Joanna menjadi titik terendah film ini.
Of Horses and Men seolah terlihat begitu kejam pada kuda-kudanya, tapi yang saya rasakan justru sebaliknya, karena film ini memperlakukan kuda bukan hanya sebagai seekor hewan dan pelengkap, tapi merupakan karakter penting yang turut membantu jalannya cerita. Saya rasa itu jugalah alasan kenapa Erlingsson banyak menampilkan adegan mata kuda, untuk memperlihatkan bagaimana mereka juga sesungguhnya adalah makhluk hidup dengan perasaan, ekspresi dan cara pandang terhadap dunia yang terkadang kurang diperhatikan oleh manusia. Banyak manusia tidak bermasalah menyiksa atau menyakiti kuda (bahkan sekedar untuk membuat mereka patuh saat ditunggangi) karena manusia merasa kuda itu tidak kana menangis, tidak akan berteriak, dan tidak berpersaan. Namun Of Horses and Men secara tersirat memperlihatkan kuda yang jauh lebih dalam dari itu. Dengan hewan yang terasa berperasaan, kisah-kisah aneh yang ber-setting hanya di sebuah pedesaan, film ini pun jadi terasa seperti sebuah dongeng. 

Pedesaan Islandia yang dikelilingi gunung, sering bersalju dan memberikan kesan dingin yang luar biasa pun berhasil menjadi sebuah panggung yang sempurna bagi film ini. Dengan lokasi seperti itu, atmosfer kelam, dingin dan rasa kekejaman pun berhasil semakin diperkuat. Sinematografi garapan Bergsteinn Bjorgulfsson menangkap dengan begitu baik suasana alam tersebut. Hal itu juga semakin mendukung keputusan dari Benedikt Erlingsson untuk lebih banyak bercerita lewat gambar daripada dialog. Ekspresi lebih banyak berbicara daripada kata-kata. Tatapan mata lebih banyak bertutur daripada ungkapan dari mulut. Semuanya pun menjadi terasa lebih dalam, lebih nyata, lebih natural, tidak ada lagi kesan "dibuat-buat" atau kebohongan yang seringkali hadir dalam sebuah kata-kata. Pada bagian pertengahan film selama beberapa puluh menit subtitle yang saya gunakan untuk menonton film in tidak bekerja, tapi itu tidak membuat saya gagal memahami apa yang dimaksud oleh tiap-tiap adegan. Of Horses and Men sukses menyuguhkan keindahan yang aneh dengan berbasis pada visual. Bukankah "diam" kadang-kadang berbicara lebih jujur daripada kata-kata?

1 komentar :

  1. baru selesai nonon film ini. sutradaranya "sinting" ! :D .

    BalasHapus