TIM'S VERMEER (2013)

Tidak ada komentar
"Johanes Vermeer merupakan salah satu pelukis terbaik sepanjang masa" Begitu ucap banyak ahli dan penikmati lukisan. Saya sendiri bukan orang yang memahami atau menyukai lukisan, tapi bagi mata orang awam pun karya-karya Vermeer memang luar biasa. Lihat contoh-contoh lukisannya, seperti The Geographer, The Music Lesson atau yang paling terkenal Girl with a Pearl Earring. Dari situ dengan segera kita akan menyadari betapa tinggnya tingkat kedetailannya. Yang lebih luar biasa lagi, disaat kebanyakan lukisan bagus dari abad 17 tetap terasa 2 dimensi, lukisan Vermeer bagaikan hidup, bagaikan sebuah gambar foto berkat kehadiran aspek cahaya. Mungkinkah hanya dengan berbekal imajinasi atau pengamatan sederhana dia bisa menciptakan efek warna yang sebegitu nyata? Seorang ahli mata menyatakan tidak mungkin retina manusia bisa menangkap gambaran cahaya senyata itu. Kemudian muncul berbagai macam teori tentang cara melukis yang dipakai Vermeer. Salah satu yang paling banyak dianut adalah teori bahwa Vermeer melukis dengan bantuan kamera obscura. Hal itulah yang mendorong Tim Jenison untuk meluangkan waktunya selama kurang lebih lima tahun untuk meneliti dan melakukan eksperimen tentang Vermeer dengan tujuan mereka ulang proses dan karyanya.

Dia adalah penemu yang telah banyak membuat berbagai jenis barang mulai dari yang amat berguna sampai yang paling aneh. Dia juga seorang ahli desain grafis komputer sekaligus perusahaan besar NewTek yang memproduksi software LightWave 3D. Tim adalah seorang jenius, tapi jelas ia bukan merupakan pelukis ataupun seniman jenis apapun. Salah satu pola pikir "populer" (yang saya sendiri tidak setuju) adalah bahwa seni dan teknologi merupakan hal yang bertolak belakang dan tak bisa disatukan. Hal ini berdasar pada pernyataan seni itu menggunakan rasa, sedangkan teknologi menggunakan otak dan logika. Karena itulah saat muncul berbagai teori yang menyatakan bahwa Vermeer memakai teknologi untuk membuat lukisan, banyak pakar sampai budayawan yang melancarkan protes. Bagi mereka itu adalah penodaan terhadap seni dan peninggalan budaya. Di dunia film sendiri pendapat macam ini sempat hadir dan mencapai puncak perdebatan saat Tron menggebrak dengan teknologi CGI-nya pada 1982. Bagi juri Oscar saat itu, apa yang dilakukan Tron adalah kecurangan, dan membuat mereka enggan memasukkan film tersebut ke daftar nominasi Best Visual Effect. Sekarang? Coba sebutkan daftar nominator di kategori tersebut yang tidak memakai CGI sedikitpun.
Menurut saya pribadi, penggunaan teknologi dalam karya seni bisa sangat membantu meningkatkan kualtias asal tidak dieksploitasi secara berlebihan, dan hal itu juga yang coba dibuktikan oleh Tim. Dia melakukan riset tentang Vermeer sampai begitu dalam, membangun sebuah gudang untuk didesain supaya semirip mungkin dengan setting lukisan The Music Lesson yang akan ia lukis ulang, membuat banyak barang di ruangan itu sendiri, sampai akhirnya melakukan proses melukis dengan bantuan lensa selama lebih dari empat bulan setiap harinya. Ini sebuah dedikasi, obsesi, atau apapun itu, terserah anda mau menyebutnya apa. Satu yang pasti, hal yang ia lakukan ini begitu luar biasa. Daripada melakukan debat kusir tanpa ujung karena faktanya tidak ada dokumen resmi yang menyatakan teknik melukis Vermeer, kenapa tidak dilakukan pembuktian secara langsung? Terlepas dari benar atau tidaknya teori Tim, jelas dia sudah melakukan hal yang lebih bermanfaat bagi perkembangan seni dan teknologi daripada mereka yang terus skeptis akan adanya keterlibatan teknologi dalam karya lukis Vermeer. Saya sendiri termasuk pihak yang berhasil diyakinkan oleh Tim. Melihat proses reka ulang itu, rasanya sudah cukup banyak bukti bahwa Vermeer menggunakan metode yang kurang lebih sama dengan Tim. 

Mungkin agak mengganggu saat pada akhirnya Tim menggunakan bantuan alat yang sedikit lebih maju daripada Vermeer, seperti penyangga untuk model supaya tubuh mereka tidak bergerak. Tapi toh itu sama sekali tidak mengurangi esensi dari eksperimen tersebut. Memang sedikit (saya tekankan, SEDIKIT) mengurangi tingkat validitasnya, tapi toh apa yang dibuktikan sudah cukup banyak. Secara lebih luas, Tim's Vermeer adalah bentuk usaha melogiskan seusatu. Tentu cara mudah untuk menanggapi begitu nyatanya lukisan Vermeer adalah dengan menyatakan bahwa dia pelukis berbakat yang jenius. Well, sebegitu dangkalnya pendapat itu. Film ini memperlihatkan bagaimana sebuah pencarian kebenaran itu dilakukan. Tim sama sekali tidak pernah merendahkan atau menyebut Vermeer penipu karena penggunaan teknologi. Yang Tim lakukan bukan untuk membuktikan bahwa sang pelukis itu menipu, tapi untuk belajar dan mencari tahu suatu metode yang oleh manusia zaman modern saat ini tidak bisa dicapai (baca: terlupakan). Bagi saya, mereka yang tetap skeptik pada penggunaan teknologi Vermeer justru meremehkan segala kreatifitas dan kejeniusan sang seniman.
Tim's (left) & Vermeer's (right)
"Lukisan adalah dokumen", begitu kata beberapa ahli saat menanggapi ketiadaan dokumen yang menuliskan teknik Vermeer. Maksudnya adalah dari lukisan itu sendiri ktia bisa mengetahui banyak hal, seperti karakter sang pelukis, kondisi sosial saat itu, sampai teknik yang ia pakai. Seperti itu jugalah film ini dikemas. Saat sudah memasuki proses melukis, kita tidak banyak dipandu dengan narasi ataupun interview. Kita lebih banyak diajak menyaksikan sapuan kuas dari Tim sedikit demi sedikit mewujudkan kembali The Music Lesson, dan secara perlahan menguatkan bukti otentik akan hipotesisnya. Film ini sendiri adalah dokumen. Saat lukisan bicara tanpa teks, film ini banyak bicara tanpa dialog. 

Keduanya sama-sama mengandalkan visual sebagai bentuk komunikasi pada penikmatnya. Pada momen ini penonton diajak untuk melihat sendiri proses eksperimen Tim tanpa banyak dijejali kata-kata. Beberapa sempilan dialog memang muncul, tapi kebanyakan hanya berupa intermezzo tentang kejadian sehari-hari, sedikit permasalahan yang hadir, atau sekedar curhatan "ah, saya lelah" dari Tim. Adegan 130 hari proses melukis Tim memang salah satu yang paling esensial, tapi juga yang paling melelahkan, baik bagi Tim maupun bagi saya sebagai penonton. Proses yang berjalan lambat dan penuh detail itu memang sering melelahkan untuk disimak. Tapi seperti Tim yang akhirnya merasa semua kelelahan itu terbayar saat lukisan selesai, begitu juga saya yang terpuaskan saat melihat hasil akhirnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar