RUROUNI KENSHIN: THE LEGEND ENDS (2014)

4 komentar

Kyoto Inferno (review) merupakan sebuah "jembatan" menyenangkan sebelum klimaks yang begitu dinantikan dalam The Legend Ends. Build-up yang baik membuat saya tidak sabar untuk segera menonton film penutup trilogi Rurouni Kenshin ini. Jika anda merupakan pembaca komiknya, tentu anda sepakat bahwa salah satu momen paling dinantikan dalam Kyoto arc adalah pertarungan klimaks yang melibatkan Shishio melawan empat main hero dalam serial ini. Jadi cukup satu hal yang saya harapkan dari film ketiga ini, yakni pure epicness. Tapi sutradara Keishi Otomo nyatanya tidak langsung membuka filmnya dengan tempo cepat. Kita diajak terlebih dahulu melihat berbagai drama dengan fokus utama pada bagaimana Kenshin (Takeru Satoh) kembali berguru pada, Seijuro Hiko (Masaharu Fukuyama) yang merupakan gurunya dulu. Jujur saja bagian ini terasa kurang menarik dan menjadi awal yang gagal mengangkat tensi film ini. Terlalu banyak dialog filosofis yang tidak memberikan dampak apapun bagi pondasi drama maupun eksplorasi karakternya.

Saya sebenarnya suka pada selipan drama dalam film aksi, karena berpotensi membuatnya tidak hanya berakhir sebagai sebuah tontonan tanpa hati. Tapi sebagai chapter penutup sekaligus klimaks, dosis drama yang diberikan dalam The Legend Ends terlalu banyak, bahkan melebihi porsi adegan aksinya. Seperti yang sudah saya sebutkan dalam review Kyoto Inferno, beberapa karakter sebenarnya sudah bisa dieksplorasi dari film pertama, khususnya Aoshi. Dengan begitu saat memasuki film kedua dan ketiga karakter itu sudah punya pondasi mantap, memberikan celah lebih luas untuk mengeksplorasi hal lainnya. Kekhawatiran saya pun jadi kenyataan saat Aoshi Shinomori (which is one of the best character in Rurouni Kenshin) tetap berakhir sebagai karakter yang kurang menggigit sampai film berakhir. Hal yang sama terjadi juga pada para Juppongatana. "Keharusan" untuk mengeksplorasi Aoshi membuat kelompok villain ikonik ini sama sekali tidak menarik. Padahal mereka bukan hanya sekelompok orang berpakaian aneh tapi juga punya karakterisasi menarik. Bahkan nama-nama seperti Anji, Usui dan Kamatari memberikan pengaruh besar pada pengembangan karakter utama macam Sanosuke, Saito sampai Kaoru.
Tapi untungnya adegan aksi yang dijanjikan masih memukau, sesuatu yang juga menjadi kelebihan dua film pertamanya selain desain karakter. Tercatat hanya ada dua pertarungan besar disini. Pertama adalah Kenshin melawan Aoshi yang meski dikemas dengan apik tetap kurang menggigit karena lagi-lagi sosok Aoshi yang kurang dimaksimalkan. Disaat Kenshin dengan Hiten Mitsurugi-nya punya ciri khas menarik, atau Saito dengan gatotsu setidaknya punya kuda-kuda ikonik yang dipertahankan dalam film, Aoshi dengan kodachi plus teknik mematikan Kaiten Kenbu tidak dipertontonkan dengan sepantasnya. Well, lagi-lagi saya tetap berpendapat bahwa pertarungan Kenshin dan Aoshi akan lebih maksimal jika menjadi klimaks film pertama. Sedangkan pertarungan kedua adalah rangkaian pertarungan panjang dari pantai yang berlanjut di kapal. Pertarungan di kapal inilah yang akhirnya menjadi klimaks mengesankan. Keishi Otomo sedikit merombak klimaksnya dengan mengganti "pertarungan bergilir" antara Kenshin, Sanosuke, Saito dan Aoshi melawan Shishio menjadi sebuah "keroyokan". Dan itu merupakan keputusan yang tepat.
Butuh usaha lebih, durasi lebih dan pengemasan tempo yang super cermat dalam beralih dari cepat ke lambat begitu pula sebaliknya untuk bisa menghadirkan kesan epic seperti panel demi panel komiknya. Karena itu menyatukan pertarungan itu dan mempercepat temponya merupakan keputusan cerdas. Dengan koreografi yang luar biasa dan tebasan demi tebasan yang ditangkap secara utuh (tanpa ada shaky cam atau cut super cepat) pertempuran empat lawan satu itu menebus segala penantian saya sedari Kyoto Inferno dan paruh pertama yang lambat dari The Legend Ends. Ditambah juga dengan scoring megah plus dramatis garapan Naoki Sato yang bersatu menciptakan keseruan sekaligus ketegangan, maka sempurnalah klimaks epic film ini yang bahkan layak disebut sebagai salah satu adegan pertarungan pedang terbaik dalam film atau setidaknya salah satu klimaks terbaik dalam film adaptasi buku komik. Klimaks film ini membuktikan bahwa sebagus apapun CGI mengemas film aksi, cara konvensional minim efek (kecuali api Shishio yang memang dibutuhkan) tetaplah yang terbaik.

Jika ada kekurangan, itu adalah hal sama yang sudah saya tuliskan berkali-kali (baik dalam review ini maupun dua film sebelumnya) yaitu penokohan yang kurang pas bagi karakter macam Sanosuke, Saito dan Aoshi. Begitu pentingkah penokohan berdampak pada adegan aksi? Tengok adegan ini di manga-nya, dan anda akan tahu kenapa. Secara keseluruhan trilogi ini jelas jauh dari kata sempurna, apalagi bagi saya yang merupakan penggemar komiknya. Tapi dibandingkan adaptasi dari serial favorit saya lainnya, Rurouni Kenshin adalah yang terbaik. Setidaknya Keishi Otomo dan timnya telah sebisa mungkin menaati aturan pertama dalam mengadaptasi komik fenomenal, yaitu setia pada sumbernya entah itu dalam hal ceritanya, adegan, sampai desain karakter yang dibuat semirip mungkin. Bukankah harapan fanboy dalam adaptasi film tidak mungkin terpenuhi semuanya? Setidaknya Emi Takei masih sangat cantik walaupun porsinya sangat sedikit disini.



NB: Sebuah kebetulan yang amat sangat luar biasa, salah seorang senior saya amat mirip dengan Aoshi Shinomori (which is very very handsome!) Ini dia tampangnya:

4 komentar :

Comment Page:
Vikra Alizanovic mengatakan...

Tak kira kalimat semacam "tokoh yang memerankan Aoshi terlalu mirip senior saya" bakalan keluar... Pembaca kecewa!! :p

Rasyidharry mengatakan...

Kasih fotone Mas Ade langsung tak pampang di review ini #SERIUS

Vikra Alizanovic mengatakan...

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202340699026941&set=t.1476088070&type=3&theater

Rasyidharry mengatakan...

Yooh sesuai janji tak pasang