THE HUNDRED-FOOT JOURNEY (2014)

Tidak ada komentar
Hassan (Manish Dayal) mendapat pelajaran dari sang ibu bahwa saat memasak dia harus bisa merasakan jiwa yang terkandung dalam setiap bahannya. Terdengar aneh? Bagi saya tidak. Saya selalu percaya bahwa dalam setiap benda yang digunakan seorang seniman untuk berkarya terdapat jiwa/rasa. Perlu dicatat, saya tidak sedang membicarakan hal gaib disini. Pasti anda pernah menonton suatu fim yang terasa begitu intim dan penuh perasaan. Mungkin juga anda pernah mendengarkan melodi gitar yang petikan senarnya terdengar seperti tangisan seseorang. Semua itu hadir karena rasa dan cinta yang ditumpahkan sang artist kedalam karya mereka. Sebuah film bertemakan cinta mungkin bakal terdengar klise, tapi cinta bukan hanya sekedar romansa pria dan wanita. Ada cinta seseorang dengan keluarganya, sampai cinta seseorang dengan semua aspek dalam hidupnya. Hal itulah yang coba ditampilkan oleh sutradara Lasse Hallstrom dalam The Hundred-Foot Journey yang merupakan hasil adaptasi novel berjudul sama karya Richard C. Morais. Film ini pada akhirnya memang berhasil menampilkan berbagai hal tersebut, setidaknya dalam dua per tiga awal sebelum paruh akhirnya yang semakin ambisius dan justru terasa hilang arah.

Hassan beserta keluarganya dahulu sempat memiliki sebuah restoran di Mumbai yang cukup sukses. Tapi sebuah kebakaran merenggut tidak hanya seluruh restoran, tapi juga sang ibu. Dipimpin oleh sang kepala keluarga yang dipanggil Papa (Om Puri), mereka sekeluarga mulai mengadu nasib di Eropa untuk membuka restoran disana.. Persinggahan pertama mereka adalah London yang nyatanya berujung kegagalan. Akhirnya sampailah mereka di Prancis. Tapi saat sampai di sebuah pedesaan, rem mobil yang mereka kendarai rusak. Untunglah mereka bertemu dengan Marguerite (Charlotte Le Bon) yang membantu mereka. Marguerite sendiri ternyata adalah seorang sous chef (pangka kedua dibawah chef kepala) di sebuah restoran bernama Le Saule Pleureur milik Madame Mallory (Helen Mirren) yang terkenal "sadis". Le Saule Pleureur sendiri telah memiliki satu bintang Michelin (rating untuk restoran-restoran terbaik di seluruh dunia). Tanpa disangka, Papa justru memilih membuka restoran masakan India milik mereka tepat di depan restoran milik Madame Mallory. Akhirnya, terciptalah persaingan antara Le Saule Pleureur dengan kemewahannya dan restoran India tersebut yang mengandalkan kemampuan memasak Hassan.
Dengan tema restoran yang diusung, mungkin banyak penonton (termasuk saya) yang mengira film ini adalah food-porn dengan banyak masakan khas Prancis dan India yang tidak hanya indah tapi juga mengundang selera. Tapi nyatanya tidak. Baik itu proses memasak ataupun visualnya tidaklah berpusat pada makanan. Jika dibandingkan dengan film bertemakan makanan lain di 2014, yakni Chef, film ini jauh lebih sedikit menampilkan makanannya. Daripada menyebutnya mengecewakan, saya lebih memilih menyatakan bahwa film ini ada diluar ekspektasi saya (bukan diatas maupun dibawah). Salah satu hal yang menjadi fokus adalah bagaimana situasi saat dua kultur yang berbeda saling bertemu. Hal itu nampak paruh pertamanya yang banyak berfokus pada persaingan sengit dua restoran beda kultur. Tidak perlu sampai pada menu yang jelas berbeda, melihat bagaimana dua restoran itu dikemas pun nampak jelas perbedannya. Restoran milik Madame Mallory penuh kesan elegan, mewah, penuh manner. Sedangkan restoran India di seberang jalan yang hanya berjarak 100 kaki (hundred-foot, got it?) itu lebih "berisik" dengan musik India yang diputar keras dan berkesan gemerlap layaknya pesta pernikahan. Sederhana, tapi disitulah kekuatan paruh pertama film ini.
Persaingan kedua belah pihak tidak jarang menghadirkan situasi menggelitik seperti saat Madame Mallory memborong habis semua bahan masakan Hassan, yang dibalas oleh Papa dengan melakukan hal yang sama. Karakter Madame Mallory yang judes sekaligus sadis diperankan dengan sempurna oleh Helen Miren. Ada kegetiran mendalam yang menguatkan karakterisasinya, tapi disaat bersamaan sosoknya itu juga bisa menciptakan guyonan, apalagi saat berinteraksi dengan Papa. Om Puri pun sama saja. Ada kesedihan yang ia tampilkan dengan baik, tapi daya tarik utama adalah semangatnya yang berapi-api untuk memulai "perang" dengan Madame Mallory. Pertukaran dialog keduanya pun selalu memancing tawa, khususnya saat tensi diantara mereka tengah meninggi. Terlalu menarik perhatiannya kedua karakter ini membuat Hassan sebagai tokoh utama justru tertutupi. Baik kisahnya untuk menjadi chef sampai romansa yang terjalin dengan Marguerite jadi kurang menggigit, karena saya selalu merindukan pertengkaran Papa dan Madame Mallory. Tapi paruh pertamanya ini masih amat menyenangkan. Komedi yang menggelitik serta drama yang hangat membuatnya begitu menyenangkan. Saya selalu merasa dra-medi Prancis atau setidaknya yang kental nuansa Prancis selalu hangat.

Tapi kisahnya yang ambisius justru mengurangi kehangatan serta daya tarik film ini. Berbanding terbalik dengan Chef yang berkisah tentang koki restoran kelas satu yang memilih memulai dari nol, film ini menggunakan formula from zero-to-hero standard. Tentu hasil akhirnya sudah bisa kita ketahui, tapi kata "hero" yang coba dicapai oleh film ini nyatanya lebih dari sekedar memenangkan peperangan melawan restoran dengan satu bintang Michelin. Kita akan diajak melihat perjalanan Hassan sampai akhirnya ia mencapai puncak dari segala impiannya...dan itu sama sekali tidak menarik. Saat narasinya semakin besar, semakin hilang pula kehangatan dan keintiman film ini. Tidak ada lagi canda tawa yang hadir karena persaingan sengit namun lucu yang menyenangkan itu. Dari sebuah drama-komedi sederhana yang hanya berskala 100 kaki, secara mendadak kita diajak melompat amat jauh. Masalahnya, saya tidak pernah benar-benar dibuat terikat dengan sosok Hassan, dan itu membuat sepertiga akhir film ini terasa lebih dingin. Untungnya lagi-lagi tensi diselamatkan oleh Helen Mirren dan Om Puri yang masih menyajikan interaksi menggelitik nan hangat meski kali ini dengan konteks yang berbeda. Tapi diluar bagian akhir yang mengecewakan, The Hundred-Foot Journey secara keseluruhan masihlah tontonan yang hangat dan menghibur. Bukan tentang makanan, tapi tentang kultur, mimpi, cinta dan keluarga. Bagi saya semua itu justru lebih menarik

Tidak ada komentar :

Posting Komentar