R100 (2013)

1 komentar
Di Jepang, "R15" berarti sebuah film hanya diperuntukkan bagi usia 15 tahun keatas, sedangkan "R18" tentu saja punya arti sebuah film hanya boleh ditonton oleh usia 18 tahun ke atas. Berkiblat dari situ, bisa disimpulkan bahwa "R100" adalah jenis film yang hanya boleh ditonton oleh mereka yang berusia minimal 100 tahun. Anda tahu bahwa kegilaan sudah menanti saat menonton film yang menggolongkan dirinya kedalam jenis tersebut, tapi karya terbaru Hitoshi Matsumoto ini diluar dugaan jauh lebih gila dari perkiraan saya. Tema yang dijual adalah sado masochism (S&M). Pada kondisi disaat masyarakat tengah diserbu fenomena Fifty Shades of Grey yang mengedepankan BDSM, saya pun memilih film ini sebagai tontonan. Premis di Wikipedia cukup menarik: Takafumi Katayama (Nao Omori) seorang salesman menandatangani kontrak berdurasi setahun dengan klub S&M misterius bernama "Bondage". Kontrak yang tidak bisa dibatalkan itu akan menempatkan Katayama dalam kondisi dimana seorang dominatrix bakal menyerangnya secara tiba-tiba. Premis unik, dan ini adalah film Jepang. Tentu saja yang saya harapkan adalah sisi absurd tingkat dewa.

Memang benar filmnya absurd. Setiap harinya Katayama bakal didatangi dominatrix berbeda dengan keahlian yang bermacam-macam pula. Berbagai penyiksaan mulai dari dipukul, ditendang, dicambuk, dan sebagainya akan ia alami. Berbagai rasa sakit itulah yang semakin merangsang dan memuaskan Katayama. Kepuasaannya (baca: orgasme) digambarkan lewat visualisasi aneh dimana mata Katayama menghintam, senyumnya melebar, dan kepalanya membesar. Keunikan yang pada awalnya terasa menarik, tapi sedikit kehilangan pesona setelah diulang berkali-kali dan terasa repetitif. Mungkin Katayama mudah dianggap sebagai "orang mesum", tapi jelas ia menyayangi keluarganya. Setiap hari ia selalu menengok sang istri yang tengah koma di rumah sakit. Membawakan bunga, mengajaknya bicara meski tak ada jawaban sepatah katapun. Malam hari ia selalu pulang kerumah, membawakan makanan bagi puteranya yang masih kecil, bahkan tidak lupa merayakan ulang tahun sang putera bersama ayah mertua.
Deskripsi kehidupan pribadi Katayama di atas adalah usaha Matsutomo memberikan sentuhan drama pada filmya. Dia berusaha menggambarkan Katayama sebagai pria yang penuh kesedihan, dan melarikan diri dari semua itu dengan melampiaskan fetish-nya. Ditambah tatapan mata nanar dari Nao Omori, semakin kuatlah hawa kesedihan dan gloomy dalam hidup sang tokoh utama. Tapi untuk film yang mendeklarasikan kegilaannya lewat sebutan R100, bukankah semua itu tidak nampak terlalu gila? Tentu saja kehadiran organisasi "Bondage" cukup aneh, tapi tidak segila itu. Sentuhan unik bagi S&M tapi terkesan repetitif dan kurang eksploitatif. Jadi apakah film ini merupakan ekspektasi yang gagal terpenuhi? Tunggu dulu! Setelah diawal terasa seperti twisted tale tentang seksualitas berbalut kisah moral dan keluarga, tiba-tiba saja R100 "lepas kendali". Bagaikan membuka pintu kandang dan membiarkan hewan di dalamnya berlari keluar, keliaran dan kegilaan turut lepas disaat Matsutomo melepas segel "waras" dari filmnya. 

Dimulai dengan pengenalan dominatrix yang semakin aneh mulai dari Ratu Peniru Suara, Ratu Meludah, dan berpuncak di Ratu Penelan, semakin lama keanehan film ini semakin bertambah sampai ke tahapan sureal yang sulit dimengerti. Judul filmnya pun semakin masuk akal saat Matsutomo menjadikan R100 sebagai film dalam film. Sebuah meta jokes yang menceritakan bahwa R100 adalah film terakhir buatan sutradara berusia 100 tahun yang sedang ditayangkan pada badan rating. Apa yang terjadi pada penonton sama seperti yang saya rasakan. Kebingungan mencerna maksud adegan-adegannya, dan dibuat terdiam, bengong, tenggelam dalam kebingungan ditemani sebatang rokok untuk menenangkan diri. Saat ditanya maksud pembuatan film yang aneh itu, jawaban yang hadir adalah "menurut sang sutradara hanya orang berusia 100 tahun lah yang akan mengerti filmnya". Satu, ini adalah ejekan "keras" Matsutomo pada badan rating. Dua, Matsutomo sedang mentertawakan penonton yang dibuat kebingungan oleh filmya. Saat penonton berseru "WHAT THE FUCK??!!" Saya yakin Matsutomo akan tertawa kegirangan sambil orgasme.
Dengan segala kegilaan yang ada, saya terkejut dan cukup kecewa saat menemukan klimaksnya justru biasa saja. Setelah kemunculan dominatrix dengan berbagai keahlian unik dan menarik, klimaks yang menampilkan sosok CEO (Lindsay Kay Hayward - pegulat wanita tertinggi di dunia) justru tidak lebih dari ledakan demi ledakan yang ditutup dengan multiple massive orgasm yang hadir malu-malu. Cukup menggelikan, tapi jelas bukan puncak kegilaan seperti yang seharusnya. Tapi tenang saja, sebagai konklusinya Matsutomo sudah menyiapkan ending absurd yang akan membuat penonton terngang dan tenggelam dalam pusaran kebingungan. 

Mungkin terkesan nonsense, tapi sesungguhnya R100 adalah drama tentang kehidupan, penderitaa, dan kebahagiaan beserta berbagai satir tentang film itu sendiri. Hanya saja Matsutomo tidak ingin puitis dalam mengemas semua itu. Komedinya memuaskan dan tergarap dengan baik berkat kegilaan yang semaunya sendiri (that scene with Saliva Queen dancing around Katayama is the funniest). Saat menonton film sureal penuh metafora, saya seringkali mengambil waktu sejenak setelah atau saat menonton untuk berpikir tentang makna suatu adegan. Tapi dalam kasus R100 saya tidak melakukan itu. Masih ada sedikit momen yang gagal saya pahami tapi biarlah. Mungkin saat berusia 100 tahun kelak saya akan mengerti artinya.

1 komentar :

  1. baru saja nonton film ini dan saya cukup terlena dengan kegilaannya. meskipun banyak adegan yang tidak bisa di cerna seperti apa pentingnya membuat dialog "gempa" dalam menggambarkan keadaan jepang.. dan masih banyak lagi.

    BalasHapus