TOKYO TRIBE (2014)

Tidak ada komentar
Sion Sono adalah sutradara yang spesial. Dia selalu mampu menghasilkan film yang berdiri diantara batas kebodohan dan kejeniusan. Mulai dari thriller-suicidal macam Suicide Club dan prekuel-nya Noriko's Dinner Table, thriller psikologis di Cold Fish,  horror sureal dalam Strange Circus, sampai unexplainable batshit crazy berjudul Love Exposure, semuanya gila, aneh, abstrak, penuh eksploitasi gore plus seksualitas, beberapa jauh dari kesan serius. Memang ada beberapa karya sang sutradara yang tergolong "normal", tapi Sion Sono tetap akan lebih dikenal karena kegilaannya. Saat pamer kegilaan, Sono tidak pernah menganggap filmnya terlalu serius. Lebih memilih bersenang-senang lewat karya yang sadar diri. Tapi brainless-nya Sion Sono berbeda dengan Nishimura yang total bodoh, karena selalu ada sisi jenius dalam karyanya, apalagi dengan sentuhan isu sosial yang kuat. I love his films more than Takashi Miike's. Sama-sama produktif, tapi Sono lebih stabil dalam kualitas karena kuantitasnya pun tidak berlebihan. Sampai datang masa sekarang, saat dalam dua tahun sang sutradara berencana merilis lebih dari lima film, termasuk Tokyo Tribe.

Mengadaptasi manga Tokyo Tribe 2, Sono mencoba genre baru yaitu musikal. Sedari awal kita sudah disuguhi momen musikal hip-hop yang dikemas dalam one-shot memukau, memperlihatkan sudut kota Tokyo yang penuh lampu gemerlap. Tapi sekilas kita bisa menebak bahwa Tokyo disini tidak seperti yang kita tahu. Masih gemerlap, tapi jauh lebih keras. Seolah mendukung kesan hip-hop style yang diusung, Tokyo adalah kota yang kejam, penuh narkoba, penuh pelacur, dan yang paling penting penuh oleh gangster yang berkuasa di beberapa bagian wilayah. Para gangster ini berkuasa, bahkan polisi tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Hal ini terlihat lewat sebuah adegan saat seorang polisi wanita yang berniat menggagalkan transaksi narkoba justru jadi bahan pelecehan seksual di tengah keramaian. Disisi lain, rekan sang polisi tidak berani meminta back-up apalagi menolong secara langsung. Dari satu adegan itu saya tahu film ini adalah satu lagi produk gila dari sineas gila Jepang yang dipimpin Sono dan Miike.
Kekerasan dan sensualitas adalah dua hal yang dipuja oleh tipikal film semacam itu. Darah banyak tumpah oleh lesatan peluru dan tebasan katana, meski kadarnya tidak sebanyak film Sono sebelumnya, Why Don't You Play in Hell? Saya pun cukup terkejut saat mendapati Tokyo Tribe cukup "lunak" dalam mengumbar kekerasan. Sedangkan sensualitas dieksploitasi lewat karakter wanitanya. Mereka semua berwajah cantik dan berbadan bagus lengkap dengan pakaian seksi. Masih belum cukup, gestru menggoda selalu hadir, lenguhan muncul hanya karena sedikit sentuhan, sampai sudut pengambilan gambar dan koreografi yang sebisa mungkin memperlihatkan celana dalam mereka. Tapi ini film brainless asal Jepang, apa lagi yang kamu harapkan? Semua itu masih ditambah insting visual Sono yang masih tetap kuat. Warna-warni cerah, desain karakter unik, sampai beberapa set sureal dengan furnitur manusia sebagai salah satu yang paling menonjol adalah buktinya. Dengan semua itu Tokyo Tribe seolah menjadi jaminan kepuasan. Tapi ternyata tidak.
Setelah opening memukau itu, Sono mengajak penonton berkenalan dengan satu per satu gang yang menguasai Tokyo. Tentu saja masing-masing dari mereka dipresentasikan lewat adegan musikal kental nuansa "gansgta". Cukup asik, tapi tidak ada yang spesial. Mereka memperkenalkan diri sebagai yang terhebat dan paling berkuasa sambil Sono sibuk men-tease bahwa akan terjadi perang epic diantara mereka sebagai klimaks film. Saya masih antusias. Tapi kemudian setelah perkenalan yang seolah tanpa ujung ini, kisahnya semakin bergerak tidak karuan. Sang sutradara terlihat penuh ambisi dalam mengemas ceritanya, tapi ia sendiri seolah tidak tahu bagaimana merangkai semuanya, diluar naskah yang memang berantakan. Saya tidak akan berharap naskah serius dari Sono, tapi jelas berharap sesuatu yang jenius. Cerita-cerita tulisannya seolah tidak pernah berbobot, tapi sesungguhnya punya kedalaman kompleks yang menarik diikuti, entah itu melalui satir, kompleksitas karakter, sampai plot penuh twist. Lewat Tokyo Tribe, Sono berusaha merangkai alur koheren di tengah ketidak seriusannya bertutur. Cerita bergerak kesana kemari tak beraturan, karakter bermunculan dan bertingkah tanpa motif jelas, hingga saya pun seringkali tersesat, gagal mencerna apa plot film ini. 

Hingga akhirnya saya sadar film ini tidak punya plot. Apa yang dianggap oleh Sono sebagai cerita disini tidak lebih dari petikan masalah demi masalah yang tidak berkorelasi tapi coba disambung secara paksa menjadi satu. Hasilnya kekacauan luar biasa dalam artian buruk. Bahkan adegan pertarungan antar gang yang harusnya epic ikut kacau karena saya tidak tahu kenapa si "A" yang seharusnya rekan si "B" jadi saling bertarung, dan seterusnya. Ini tidak jauh berbeda dengan Transformers: Revenge of the Fallen-nya Michael Bay. Segala kebodohan seperti kesan absurd, karakter komikal, akting berlebihan, kekonyolan tidak pada tempatnya, dan keanehan lain yang biasanya jadi kekuatan film Sono, pada akhirnya justru terasa mengganggu. Biasanya saya berhasil tertawa oleh sisi absurd seorang Sion Sono, tapi kali ini saya justru malu sendiri. It's painful to watch. Rasanya seperti melihat seorang teman yang berusaha keras melakukan sesuatu di tengah keramaian yang sebenarnya ia sangat buruk dalam hal itu. Konten musikal hip-hop yang coba diangkat pun semakin tidak esensial dan menimbulkan pertanyaan kenapa Sono membuat hal ini. Padahal dari beberapa filmnya, Sono justru punya selera musik cenderung kearah musik klasik karya Handel, seperti penggunaan "Lascia ch'io pianga" dalam film ini atau "Sarabande"di Why Don't You Play in Hell? Kali ini Sion Sono tidak membuat film jelek yang jenius dan menyenangkan, karena Tokyo Tribe murni film jelek. Semakin mengecewakan dan menyedihkan karena Sion Sono merupakan salah satu sutradara favorit saya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar