AVENGERS: AGE OF ULTRON (2015)

2 komentar
Merupakan pekerjaan yang sulit kalau bukan mustahil untuk membuat follow-up yang melebihi The Avengers. Semaksimal apapun usahanya, suatu sekuel pasti tidak akan "sesegar" film pendahulunya. Ditambah ekspektasi amat tinggi dari penonton, membuat sekuel yang lebih bagus dari suatu masterpiece semakin terasa tidak mungkin. Christopher Nolan telah merasakan itu. Kali ini giliran Joss Whedon berhadapan dengan tantangan tersebut. Dia sudah mewujudkan "kemustahilan" saat berhasil menggabungkan banyak superhero dalam satu film. Age of Ultron memperlihatkan Avengers yang sudah menyatu sebagai sebuah tim, berbeda dengan di film pertama saat baru terbentuk. Hal itu sudah diperlihatkan oleh action sequence pembuka saat mereka menyerang markas Baron Strucker (Thomas Kretschmann). Pembuka yang dikemas apik oleh Whedon, memanfaatkan gerak kamera dinamis memperlihatkan masing-masing superhero bekerja sama di pertempuran. Mengingatkan pada klimaks film pertama.

Sejak lama Whedon menjanjikan sekuel yang tidak hanya lebih besar namun juga lebih gelap. Bahkan saat ditanya satu kata yang paling sesuai menggambarkan film ini, ia menjawab "death". Whedon menepati janti tersebut. Untuk mewujudkan film yang lebih gelap beberapa cara ditempuh. Selipan humor kuantitasnya dikurangi meski tidak dihilangkan. Ciri khas naskah tulisan Whedon masih terasa. Interaksi antar karakter tetap beberapa kali memancing tawa. Tidak seefektif film pertama, tapi masih segar, masih begitu hidup. Karakter (tidak hanya Tony Stark) melontarkan one-line-joke di tengah pertempuran jadi pemandangan biasa. Berbekal kepintaran Whedon serta mayoritas karakter yang sudah terbentuk dalam film-film sebelunya, baris lelucon tidak merubah mereka menjadi karakter sitcom. Whedon masih tahu batas. Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson), Ultron (James Spader) maupun Vision (Paul Bettany) punya momen komedik masing-masing yang tidak terasa dipaksakan sehingga out-of-character
Age of Ultron juga terasa lebih gelap karena kisahnya banyak mengeksplorasi ketakutan. Ultron tercipta karena ketakutan Tony Stark bahwa suatu saat nanti ada musuh yang tidak bisa ditangani oleh Avengers. Semakin kuat tema "ketakutan" berkat kehadiran Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dengan kemampuannya memanipulasi pikiran untuk menghadirkan mimpi terburuk seseorang. Dengan tema itu, jika berani nekat Whedon bisa saja membuat film ini menjadi horror bertemakan superhero. Whedon jelas menyadari potensi tersebut. Beberapa adegan kental suasana horror. Mulai dari dream sequence masing-masing Avengers, sekilas penampakan mayat seorang karakter yang tewas bersimbah darah, adegan potong tangan yang menjadi "rutinitas" phase 2 MCU sebagai referensi terhadap Empire Strikes Back, sampai kehadiran awal Scarlet Witch yang lebih terasa seperti hantu wanita daripada superhero/villain standar adaptasi komik. Keberhasilan itu membuat Age of Ultron sanggup menjadi sajian MCU yang lebih kelam, tanpa melupakan unsur hiburan. 

But here comes the problems. Termasuk Ultron, total ada 10 karakter yang harus berbagi spotlight. Jumlah yang bahkan melebihi film X-Men sekalipun. Terlebih lagi beberapa dari mereka seperti Quicksilver, Scarlet Witch, Vision dan Ultron baru diperkenalkan dalam film ini sehingga membutuhkan pengenalan. Bahkan untuk karakter lama sekalipun terdapat sub-plot tambahan semisal ketakutan Tony Stark plus pertentangannya dengan anggota tim sebagai jembatan menuju Captain America: Civil War, hubungan Bruce Banner dan Black Widow, hingga eksplorasi Hawkeye sebagai bentuk "melunasi" tersia-siakannya dia pada film pertama. Ada begitu banyak karakter, ada begitu banyak hal terjadi. Beberapa arc sesungguhnya berhasil. Hawkeye jadi karakter yang lebih menarik saat kehidupan pribadinya diperlihatkan, atau saat ia "berkeluh kesah" tentang dirinya sebagai manusia biasa yang terjebak di tengah pertempuran para dewa. Kisah cinta Bruce dan Natasha yang makin diangkat memberikan keunikan sekaligus romansa terbaik dalam sejarah MCU selain Steve Rogers dan Peggy Carter.
Tapi tidak semua berjalan mulus. Efek shared universe begitu terasa disini. Saat James Gunn "selamat" karena Guardians of the Galaxy adalah stand alone, maka Age of Ultron layaknya klimaks sebuah fase. Harus merangkum apa yang telah terjadi, memperkenalkan hal baru, sampai memberikan tease pada apa yang akan hadir ke depannya (Infinity Wars). Ya, kali ini Joss Whedon kesulitan menangani hal tersebut. Age of Ultron memang bukan sekedar pengisi slot, tapi keharusan terikat akan event-event MCU melucuti potensinya. Cerita pun jadi amat bertumpuk. Sebagai contoh kisah si kembar Pietro dan Wanda yang terburu-buru dieksekusi. Alhasil, peralihan sisi yang mereka alami tidak memberikan dampak lebih. Saya berharap sebuah turning point menggetarkan saat villain berganti menjadi pahlawan, tapi itu tidak terjadi. Kegagalan yang juga berujung pada kurangnya dampak emosional pada klimaks. 

Tapi kekecewaan terbesar datang dari sosok Ultron. Digadang-gadang sebagai villain bagus MCU setelah Loki, Ultron hanya diatas rata-rata namun tidak mengesankan. Kompleksitas karakter yang salah mengartikan perdamaian dan kehancuran bagai hanya tempelan saja. Apa yang sampai pada penonton hanya "Ultron ingin menghancurkan dunia" layaknya penjahat pada umumnya. Tidak lebih, tidak ada pula kompleksitas yang hadir akibat kebencian Ultron (anak) pada Tony Stark (ayah). Tentu lebih baik dari sosok villain Marvel kebanyakan, tapi layaknya Winter Soldier, Ultron punya potensi berada di ranah yang lebih kompleks, lebih abu-abu. Whedon berusaha membuat Ultron lebih quirky, lebih aneh dengan lontaran-lontaran jokes yang nyatanya kurang efektif. James Spader bukanlah Tom Hiddlestone. Spader justru lebih berpotensi menjadi villain yang lebih kelam, lebih kejam daripada "joker" layaknya Loki. Melucuti potensi itu membuat Ultron terasa less menacing dari yang selama ini digadang-gadang oleh materi promosinya.
Menjadi tidak maksimal, tapi Joss Whedon sudah melakukan hal spesial di sini, atau setidaknya lebih baik dari sutradara-sutradara lain yang kerepotan menangani karakter dalam jumlah besar (ex: Sam Raimi, Brett Ratner, Marc Webb). Tidak mungkin mendapat hasil lebih baik dari ini dengan total karakter utama menyentuh dua digit. Setidaknya masing-masing dari mereka punya kesempatan bersinar meski hanya beberapa menit. Diantara mereka, Scarlet Witch/Wanda Maximoff adalah yang paling saya sukai. Seperti deskripsi Maria Hill, "she's weird". Kemunculan awalnya misterius dan creepy. Meski pada akhirnya beralih sisi menjadi hero, karakternya masih terasa twisted. Potensi yang hadir dari karakterisasi serta kekuatan terpendam Wanda inilah yang bisa menjadikannya seperti Hulk dalam film-film ke depan, dalam artian sosok Avengers yang sulit dikontrol bahkan bisa menjadi ancaman layaknya di komik. 

Adegan aksi masih dikemas begitu baik oleh Whedon. Pergerakan kamera dinamis, tiap ledakan dan hantaman tidaklah asal namun diperhitungkan matang demi koreografi memikat. Tidak kosong. Whedon juga masih jago menjadikan tiap-tiap Avengers nampak keren saat tengah beraksi, tanpa harus berlebihan dan annoying. Semua itu adalah bukti bahwa Whedon tidak hanya paham tapi juga mencintai tiap-tiap tokoh yang ada. Mereka tampak keren bukan karena suatu keharusan, tapi karena Whedon ingin yang terbaik bagi karakternya, dan dia tahu bagaimana caranya. Tapi seperti yang saya sebut di atas, suasana fresh dalam film pertama tidak akan muncul di sekuelnya. Masih memukau, masih bombastis, tapi melihat para superhero ini beraksi dalam satu layar tidak lagi membuat bulu kuduk berdiri atau bahkan air mata menetes. Kita kembali melihat para Avengers bersatu menghadapi pasukan musuh, yang masih menghibur tapi tidak lagi luar biasa. Masih ditambah klimaks yang tidak se-epic apa yang hadir dalam trailer-nya. Mungkin butuh Thanos untuk memunculkan thrill itu lagi.

Age of Ultron bukan epic massive. Bukan pula blockbuster bintang lima seperti yang saya harapkan. Fans akan terhibur meski penonton awam mungkin tidak mengerti beberapa referensi serta sempat bosan oleh selipan drama yang kental di pertengahan.Tapi dengan karakter dan cerita sebanyak itu, fakta bahwa film ini tidak berantakan bahkan sangat menghibur adalah pencapaian mengesankan sekaligus bukti kejeniusan Joss Whedon.

2 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

Karena beberapa hal saya lebih menyukai film ini dari pada filn Captain america civil war dikarenakan cerita yg lumayan teratur mudah di ikuti dan sisi action yg lebih banyak...

Rasyidharry mengatakan...

Nih film asyik kok, yang bikin kecewa Ultron nggak se-threatening yang dijanjikan (another comical villain) dan ceritanya kebanyakan build up ke 'Infinity War' juga. Padahal trailer-nya bikin nangis hahaha