GANGNAM BLUES (2015)

1 komentar
Saya belum menonton A Dirty Carnival yang dianggap sebagai salah satu film gangster terbaik dari Korea Selatan, jadi saya masih benar-benar buta terhadap gaya penyutradaraan Yoo Ha yang berstatus "critical acclaimed director". Tapi jika ia bertutur seperti dalam Gangnam Blues ini, kemungkinan besar film tersebut tidak akan saya sukai. Padahal naskahnya yang ia tulis sendiri begitu kaya, kompleks, ambisius. Mengambil setting era 70-an, masa dimana tingkat korupsi politik Korea Selatan mencapai puncaknya. Beberapa daerah kecil mulai berkembang menjadi pangsa bisnis potensial, termasuk Gangnam. Di tengah perebutan harta dan kekuasaan itu, Jong-dae (Lee Min-ho) dan Yong-ki (Kim Rae-won) yang hanya gelandangan ibarat tikus kecil tidak berguna. Suatu hari rumah reyot tempat mereka tinggal dihancurkan secara paksa. Perlawanan dari keduanya justru berujung pada keterlibatan mereka dengan sebuah organisasi kriminal.

Aroma dari ambisi Yoo Ha begitu menyengat sepanjang film. Ambisi yang di atas naskah begitu memukau tapi pada eksekusinya menyulitkan ia sendiri sebagai sutradara. Kisah korupsi di tingkat elit politik yang turut melibatkan para gangster saja sejatinya sudah cukup rumit. Plot penuh intrik hingga dialog penuh kompleksitas rencana licik yang ditampilkan disini memang kaya. Jika diibaratkan investigasi, naskah Yoo Ha menggali sampai ke dasar paling dalam. Dengan kisah itu saja, Gangnam Blues sudah punya potensi menjadi film gansgter berbobot. Tapi muncul ambisi besar yang mengacaukan segalanya. Mari kita hitung plot lain yang hadir disini. Persahabatan kental menjurus persaudaraan antara Jong-dae dan Yong-ki punya fokus cukup besar. Kisah ini jelas dipakai sebagai pemberi bumbu emosi drama. Bagaimana keduanya sama-sama merangkak dari gelandangan menjadi gangster dari dua pihak berbeda menghadirkan dinamika yang (seharusnya) menarik.
Lalu ada hubungan Jong-dae dengan Kang Gil-soo (Jun Jin-young), mantan anggota gangster yang menampung Jong-dae. Hubungan keduanya coba dibentuk selayaknya guru dan murid. Jong-dae menyimpan rasa sayang serta hormat pada Gil-soo begitu pula sebaliknya meski pada akhirnya kesulitan hidup memaksa pertentangan diantara mereka. Bukan fokus utama, tapi jelas penting karena banyak aspek dari hubungan ini menjadi motivasi utama tiap pergerakan Jong-dae. Tapi sekalipun saya tidak pernah bisa ikut merasakan respect yang tumbuh diantara mereka. Kenapa? Karena mayoritas momen terbangunnya hubungan dilewati. Tiba-tiba kita sudah diajak melompat tiga tahun ke depan. Ikatan emosional yang semestinya hadir pun tak berbekas. Terakhir ada subplot paling sekunder, yaitu percintaan Jong-dae dengan puteri Gil-soo, Seon-hye (Kim Seolhyun). Tapi yang terasa akhirnya masih sama. Hambar sekaligus datar. Ditambah akting buruk Seolhyun yang sepanjang film sibuk berteriak "oppa" dan "appa".

Tidak bisa disangkal segala aspek dalam naskah itu punya potensi besar, karena secara penulisan kita bisa meraba kedalaman yang dihadirkan. Semuanya jatuh di cara pengemasan. Saya sendiri lebih suka suatu film yang tidak "menyuapi" penonton, membiarkan mereka mencari sendiri maksud serta kaitan antar adegan. Tapi yang dilakukan Yoo Ha berbeda. Dia bukan sekedar menyuruh penonton "makan sendiri" tapi juga "menyembunyikan makanan" tersebut. Kebingungan senantiasa menghantui saya selama 135 menit film ini. Karakter-karakter sekunder yang entah siapa, punya motivasi apa, berasal dari pihak mana, sedang melakukan apa jadi pertanyaan yang rutin hadir. Saya seperti sedang ditinggalkan oleh Yoo Ha yang berlari kencang di tengah hutan tanpa meninggalkan jejak. Saya tersesat, kebingungan, lelah. Belum sempat saya memahami suatu adegan yang tidak jelas sedang terjadi apa, film ini langsung berpindah ke adegan lain yang berkesan sama. Begitu seterusnya.
Di tengah plot yang rumit serta tone gelap, Yoo Ha seolah takut filmnya kurang komersil. Karena itu materi film yang bisa saja mendekati durasi The Godfather untuk mendapat kualitas maksimal ini dipangkas menjadi 135 menit. Seolah masih kurang, dia memaksakan Gangnam Blues untuk selalu berjalan dalam tempo cepat. Tiap adegan bergerak cepat, begitu pula perpindahan antar adegan. Hal itulah yang menjadi faktor utama penyebab kebingungan-kebingungan saya di atas. Belum lagi, scoring Jo Yeong-wook yang hampir tidak pernah absen sepanjang film. Sama sekali bukan berarti musiknya buruk, tapi suasana intens yang terus digeber oleh musik tanpa henti tersebut menunjukkan secara jelas kesan terburu-buru. Usaha membuat film semakin menjual adalah penggunaan Lee Min-ho dan Kim Seolhyun. Tapi berbeda dengan anggota girlband AOA tersebut, Lee Min-ho membuktikan ia bukan cuma modal tampang. Ada kedalaman berupa kepedihan berhasil ia munculkan. Kepedihan yang muncul dari dilema serta patah hati berkelanjutan dia hadirkan dengan baik, membuat transofrmasi karakter Jong-dae menjadi lebih gelap berjalan mulus. 

Sayang sekali kekurangan-kekurangan itu membuat tiap sendi emosi dari ceritanya tidak terasa. Padahal film ini punya ending yang kuat. Sangat kuat dan bisa sangat emosional. Ironisnya setelah awal sampai klimaks yang terburu-buru, Yoo Ha justru berlama-lama pada konklusi, seolah bingung bagaimana film harus diakhiri. Semakin rusaklah ending powerful tersebut. Salah satu hal yang menyelamatkan film ini adalah production value-nya. Setiap set dikemas apik, khususnya yang bersinggungan dengan action. Yoo Ha memang tetap berhasil membuat filmnya stylish termasuk sebuah adegan pembantaian yang mengingatkan pada klimaks The Godfather. Tengok saja pertempuran di bawah hujan seusai pemakaman itu. Saya juga suka dengan kebrutalan dan berbagai adegan seksual yang tidak malu-malu. Mendukung atmosfer kelam dan keras yang coba dibangun.

Verdict: Gangnam Blues terasa bagaikan super extended recap dari sebuah episode televisi yang berusaha memberi informasi pada penonton secepat dan sesingkat mungkin, tapi sama sekali tidak padat. Hilang segala potensi cerita kompleks dan kelamnya.

1 komentar :

Comment Page:
bayu aditya mengatakan...

ooh man,, knpa bkn elu aje yg jdi sutradara nya....

klo elu yg jdi sutra ny pasti tmbah bgus tu film ...