EASY RIDER (1969)

Tidak ada komentar
 Originally published on MOKINO:
http://mokino.co/features/detail/193/easy-rider-1969/
Mari sejenak menengok perfilman kita. Tema kultur, budaya, adat sering jadi fokus utama khususnya beberapa tahun terakhir. Banyak pembuat film berlomba menciptakan suatu karya yang menjadi wajah kebudayaan tanah air. Mengatas namakan diri mereka "cinta Indonesia" dan membuat film semacam itu guna memperlihatkan rupa negeri ini pada bangsa asing. Bahkan film-film sejenis ini sering diagungkan karena dianggap "culturally significant". Tapi wajah atau kultur yang dipertontonkan seringkali hanya bagian indahnya saja. Hal itu dilakukan (katanya) dengan tujuan mendidik. Seolah banyak dari mereka takut untuk menyajikan sesuatu yang benar-benar signifikan jika hal itu buruk rupa. Easy Rider sebagai debut penyutradaraan Dennis Hopper ini adalah contoh keberanian bertutur yang apa adanya. Apa adanya wajah, kondisi, serta kultur Amerika pada akhir 60-an sampai awal 70-an terhampar jelas disini.

Pada era tersebut budaya hippie, komunal, hingga penggunaan drugs mulai berkembang. Berbagai kultur yang menciptakan konflik tersendiri di kalangan masyarakatnya. Saya memang tidak hidup pada zaman tersebut, tapi penggambaran bahwa saat itu adalah masa yang "keras" dalam film ini cukup meyakinkan saya bahwa Dennis Hopper menuturkan semuanya secara jujur. Ada nuansa perlawanan yang kuat disini. Perlawanan untuk memperjuangkan kebebasan serta melawan ketidak adilan. Berpijak pada hasrat untuk hidup bebas itulah yang melatar belakangi perjalanan Wyatt (Peter Fonda) dan Billy (Dennis Hopper). Setelah mendapat uang banyak hasil menyelundupkan narkoba dari Meksiko, dengan menaiki chopper keduanya melakukan perjalanan menuju Louisiana untuk menghadiri festival "Mardi Grass". Setelah itu mereka ingin pensiun dan hidup tenang dengan bermodalkan uang yang mereka dapat. Sederhana.

Penuh kebebasan perjalanan mereka. Terasa betul keinginan meninggalkan segala beban hidup di belakang. Bahkan sebelum perjalanan, Wyatt membuang arloji emasnya. Selama perjalanan keduanya hanya bermodalkan motor, uang yang disimpan dalam tangki bensin, pakaian di badan, serta tentunya marijuana. They just wanna be free. Tapi perjalanan itu bukan hanya tentang mereka, tapi tentang Amerika. Sepanjang jalan penonton dibawa melihat rupa Amerika saat itu, khususnya daerah pinggiran kota yang bahkan belum tahu arti "L.A." ataupun "dude". Filmnya mengajak kita melakukan observasi, dari tampak luar seperti kondisi pemukiman orang kulit hitam, petani, dan hippies yang hidup komunal, sampai yang lebih dalam yakni kultur dan cara mereka menjalani hidup. Kebanyakan dari mereka hidup jauh dari kesan mewah. Bahkan sebuah komunitas sulit untuk makan karena ladang yang kering. Tapi mereka bahagia karena mereka bebas. Kebahagiaan yang hadir karena segala kesederhanaan dari orang dengan selera sederhana.
Pada awalnya semua terasa damai. Bahkan saya ikut dibuat merasakan suasana damai itu hanya dengan melihat Wyatt dan Billy melintasi jalanan penuh padang tandus serta pegunungan. Filmnya sanggup mentransfer rasa bahagia yang hadir oleh hal sederhana pada penonton. Kondisi mulai memansa saat mereka berdua plus seorang pengacara pemabuk bernama George (Jack Nicholson) yang ikut di tengah perjalanan sampai di Louisiana. Hanya berniat makan santai di sebuah restoran, ketiganya mendapat respon tak mengenakkan dari warga setempat. Gadis-gadis memang memuja mereka, tapi para pria termasuk Sheriff melontarkan kalimat-kalimat penuh nada rasisme serta homophobic. Kita mulai melihat bagaimana para hippie ini dipandang sebagai sampah penganggu oleh banyak orang saat itu. Sebelum ini pun mereka sempat ditolak menginap di sebuah motel. Mereka yang mapan menganggap hippie sebagai golongan rendah, tapi seperti yang diucapkan George, mereka hanya takut.
Takut akan apa? Akan pola pikir hidup bebas yang diusung para hippie. Disinilah unsur perlawanan yang dibawa naskah tulisan Dennis Hopper, Peter Fonda dan Terry Southern mencapai puncaknya. Hidup di Amerika yang mengatas namakan dirinya sebagai negara bebas dimana orang-orangnya menyuarakan kebebasan, tapi mereka justru takut pada hippies yang benar-benar menerapkan kebebasan itu. Tapi Hopper, Fonda dan Southern sadar tentang realita yang ada bahwa para "anti-kebebasan" itu adalah orang mapan dengan segala kekuasaan serta kekuatan. Mereka tidak mau muluk-muluk menyuarakan perlawanan dengan memberikan kejayaan pada kaum hippies. Itu hanya membuat filmnya tidak realistis bahkan overly-dramatic. Karena itu perubahan tone menjadi lebih gelap bahkan ending-nya yang tragis pun jadi pilihan tepat. 

Easy Rider menggunakan teknik editing yang unik dengan banyak jump cut. Ini bukan tanpa substansi. Teknik tersebut bertujuan menggambarkan sudut pandang serta isi otak karakternya yang berada di bawah pengaruh marijuana. Hal ini mencapai puncaknya saat Wyatt dan Billy bersama dua orang pelacur menggunakan LSD sebelum berhubungan seks di akhir film. Nuansa psychedelic yang sureal disaat tangisan, tawa, kehidupan, kematian, seks, hingga barisan doa Katholik bercampur aduk menjadi satu begitu kuat pada adegan tersebut. Terasa aneh, kadang mengerikan, dan pastinya penuh kekacauan. Easy Rider memang begitu piawai dalam menggerakkan mood penonton supaya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan karakternya. Penggunaan soundtrack berisikan lagu-lagu ballad rock hingga folk juga turut berperan dalam keberhasilan tersebut.

Departemen akting juga menjadi kekuatan besar disini. Peter Fonda dan Dennis Hopper adalah dynamic duo yang menjadi tiang penyangga kokoh. Wyatt dan Billy adalah dua karakter yang cukup bertolak belakang. Wyatt dengan atribut bendera Amerika menjadi sarana sempurna bagi Peter Fonda mengeksplorasi kharisma penuh kesan cool yang ia miliki. Wyatt seperti julukannya adalah "Captain America". Sedangkan Billy yang eksentrik bagaikan perlampang para Native American. Berkebalikan dengan Fonda, karakter Billy menjadi ajang Dennis Hopper tenggelam dalam marijuana penuh imajinasi aneh, dan itu terpancar kuat dalam sosoknya. Kemudian Jack Nicholson sebagai George bagai punya daya gravitasi kuat yang membuat saya tersedot dalam tiap dialognya meski dengan pengucapa lirih dan diseret. Inilah film dimana Hollywood mulai menyadari bakat besar dalam diri sang aktor. Bersama-sama mereka bertiga menyajikan komposisi menarik dalam tiap obrolan yang tidak hanya penuh asap marijuana tapi juga improvisasi berkarakter.

Verdict: Menyampaikan pesan dengan cara menampar penonton lewat realita yang dipenuhi luka. Disampaikan secara jujur apa adanya, Easy Rider adalah film yang tidak hanya mewakili generasi suatu era beserta kulturnya, tapi juga berpotensi menghadirkan pergerakan untuk memberikan perlawanan, meski banyaknya adegan di jalan tanpa terjadi apapun bisa membuat beberapa penonton bosan.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar