KOMPILASI PEMENANG XXI SHORT FILM FESTIVAL 2015

2 komentar
Berikut ini adalah review singkat saya untuk 10 pemenang "XXI Short Film Festival 2015" yang kompilasinya baru saja diputar tanggal 20 Mei ini di Yogyakarta. Kapan lagi bisa menonton film-film pendek di layar lebar bukan? Apalagi semuanya hasil karya sineas lokal yang diharapkan bisa memberikan masa depan cerah bagi dunia perfilman Indonesia. Tidak semuanya memuaskan memang, tapi dibandingkan berbagai acara lain yang memutar kompilasi film pendek di Yogyakarta akhir-akhir ini, kompilasi dari XXI ini jelas terasa spesial mulai dari kualitas sampai keberagaman genre yang diusung.

A WEEK WITH HERU
Sutradara: Made Dimas Wirawan (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri Media
Pembuka yang menaikkan mood. Seperti judulnya, film ini membawa penonton pada satu minggu dalam hidup karakter Heru yang dibagi dalam tujuh segmen, dimana tiap segmen menggambarkan kejadian per-hari. Tapi semua itu tidak lewat cara serius. A Week with Heru ibarat campuran antara Happy Tree Friends versi lebih "lembut" dengan komedi ala Sketsa. Kelucuan hadir lewat twist absurd penuh kebodohan karakternya. Bergerak cepat, mengakhiri setiap segmen tepat pada saat punch line komedi terbukti sukses menghadirkan tawa tanpa henti. Aneh, gila, bodoh, tapi sangat menghibur.


O5:55
Sutradara: Tiara Kristiningtyas (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Fiksi Pilihan Juri Media
Sekitar 10 menit awal durasi film memperlihatkan keseharian warga Bantul. Kesan damai dan tentram hadir lewat kesederhanaan mereka. Sebagai sajian eksperimental 10 menit awal itu amat menarik. Saya suka sajian realis yang layaknya dokumentasi hidup sehari-hari. Tapi sisa 2 menit terakhir yang memperlihatkan wajah serta tujuan asli film ini justru merusak semuanya. Gemuruh serta narasi hadir tepat setelah tangisan seorang bayi. Mungkin tujuannya untuk membuat penonton merasakan ironi dari tragedi, disaat bencana bisa datang tiba-tiba, menghancurkan kedamaian yang ada. Penonton diharapkan bisa terhenyak mendapati fakta tragis setelah menghabiskan 10 menit menikmati ketentraman. Tapi bagi saya konklusinya seperti bentuk kemalasan. Rasanya hampa. Konsep unik dan baru memang tidak selalu berhasil.


HARI YANG LAIN UNTUK BAKKA' SENDANA
Sutradara: N. Priharwanto (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri Media
Gambaran kultur sabung ayam yang ada di Toraja ini efektif memberikan tanya, "apakah kultur bisa dibenarkan jika itu menyakiti makhluk hidup?" Memang menyakitkan melihat ayam-ayam saling bertarung, terluka hingga bercucuran darah, bahkan dipotong kakinya. Untuk pemaparan hal itu filmnya berhasil. Tapi dalam hal lain seperti fakta bahwa kemungkinan sabung yang hadir bisa jadi merupakan kali terakhir akibat ancaman penggerebekan polisi, sampai peran sosok Sappe sang pemilik Bakka' Sendana dalam narasi hanya terasa sebagai tempelan yang tidak signifikan. Durasi 7 menit tampak begitu kurang untuk menggali segala aspek yang diniati sang sutradara.


DJAKARTA-00
Sutradara: Galang Ekaputra Larope (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Terbaik
Sebuah kritikan eksplisit terhadap kondisi Jakarta yang penuh kemacetan dan rawan banjir. Setting-nya adalah Jakarta pada masa post-apocalyptic (disebut Djakarta-00) dimana kota dibangun diatas reruntuhan kota lama yang tenggelam dalam air. Visualnya memikat, meski penggambaran beberapa aspek terlalu komedik daripada murni satir seperti tumpukan mobil hasil kemacetan yang menggunung. Sebagai satir, dunia yang diwujudkan terlalu eksplisit, kurang elegan. Karakter Gani sang pelukis hipkorit yang menggambar harapan tapi kehilangan harapan dan Antya yang apatis sebenarnya menarik. Sayang voice acting yang lemah membuat dinamika interaksi keduanya gagal menyampaikan emosi kuat.


ONOMASTIKA
Sutradara: Loeloe Hendra (Yogyakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Fiksi
Akhirnya hadir juga drama penuh makna yang hadir lewat kesederhanaan bertutur. Seorang anak tanpa nama dan tidak bersekolah tinggal bersama kakeknya yang memiliki banyak nama setelah kedua orang tuanya menghilang. Nama adalah jati diri seseorang, dan siapa diri kita hanya kita yang tahu, kita yang menentukan. Onomastika menyajikan pertanyaan tentang jati diri lewat sudut pandang anak-anak. Perjalanannya terasa kuat berkat akting bagus dari sang aktor cilik. Kita bisa merasakan adanya pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini ia pendam tentang "nama". Sederhana, tidak dramatis tapi thoughtful.



THE DEMITS
Sutradara: Ruben Adriano (Bandung)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Animasi
Dari judulnya sudah bisa ditebak animasi ini adalah komedi dengan para hantu (dedemit) sebagai objek lelucon. Karakter utamanya adalah Demi yang mendapati dirinya mati dalam posisi memalukan. Kondisi semakin gawat bagi Demi saat Dinda, wanita yang ia sukai akan datang ke rumahnya. Saat itulah muncul tiga hantu tetangga mendatangi Demi. Murni hiburan, murni komedi menyenangkan yang mengolok-olok dunia hantu yang selama ini identik dengan kesan seram. Sama seperti A Week with heru, film ini adalah kekonyolan ringan yang konsisten menghadirkan tawa dari awal hingga akhir.


IBLIS JALANAN
Sutradara: Salma Farizi (Jakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Dokumenter
Sederhana saja dokumenter ini, yaitu menghadirkan wawancara dengan dua pembalap Tong Setan yang mengulik sedikit kehidupan pribadi sampai resiko-resiko yang harus siap dihadapi saat beratraksi di atas motor. Eksplorasinya memang tidak terlalu dalam dimana penonton belum akan sampai tahap memahami dua karakter secara intim apalagi emosional. Namun Iblis Jalanan cukup menjadi sarana "mengintip" kehidupan dibalik layar para pembalap. Sayang, adegan pertunjukkan maut dalam tong setan sendiri tidak dihadirkan dengan menarik, meski iringan lagu berjudul sama milik Bangkutaman jelas jadi pembangun suasana yang sempurna.


PRET
Sutradara: Firman Widyasmara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kata "pret" memang sering kita layangkan saat melihat para calon wakil rakyat berebut kursi pemerintahan. Janji-janji mereka memang layaknya suara "pret" yang dihasilkan oleh kentut dari pantat. Hanya berbunyi nyaring, tapi tidak ada isinya bahkan seringkali berbau busuk. Sindiran keras yang memang hadir "lewat cara bertutur dan teknik visual asal" (dalam artian positif) seperti judulnya sendiri. Disajikan langsung pada sasaran, juga menggelitik karena mengajak penonton bersenang-senang mencela para "pantat" tapi bukan sebuah sindiran yang cerdas pula.


DIGDAYA ING BEBAYA
Sutradara: BW Purba Negara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kenapa banyak warga yang tetap nekat tinggal di lereng Merapi meski hidup mereka terancam bahaya setelah beberapa letusan khususnya yang paling dahsyat dan memakan banyak korban jiwa pada 2010 lalu? Apa itu hanya bentuk kebodohan dan keras kepala tanpa dasar? Atau ada alasan lain? Digdaya ing Bebaya adalah dokumenter yang sebenarnya begitu sederhana, memperlihatkan tiga orang wanita tua yang tetap tinggal di lereng Merapi tengah mencari tanaman obat di hutan. Satu per satu dari mereka menuturkan kejadian traumatis tersebut sambil menyampaikan alasan mengapa memilih tetap tinggal. Dipadu dengan suasana sunyi, ini adalah dokumenter yang sanggup mengajakpenonton melakukan merenungi dan memahami secara lebih dalam alasan para warga tersebut. 


LEMANTUN
Sutradara: Wregas Bhanuteja (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Favorit Penonton, Film Pendek Fiksi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association), Film Pendek Fiksi Terbaik
Bercerita tentang seorang ibu yang membagikan warisan berupa lima buah lemari pada kelima anaknya, Lemantun memang yang terbaik dari total 10 film dalam kompilasi ini. Sebuah drama keluarga hangat yang menyoroti hubungan antar anggota keluarga, kasih sayang, dan kenangan masa lalu yang tersimpan dalam memori mereka. Apakah kita akan melupakan kenangan tersebut? Membuangnya? Melupakan kasih sayang dan kebersamaan untuk kepentingan sendiri? Atau justru kita bakal tetap menyimpan semuanya sebagai salah satu kepingan hidup yang akan kita jaga? Semua terserah kita. Tapi Lemantun jelas presentasi indah tentang hangatnya kasih sayang dalam keluarga meski itu hadir lewat hal-hal kecil dan sederhana.

2 komentar :

  1. wah beruntungnya Anda punya kesempatan nonton dan bikin quick review

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung ditonton aja pas filmnya mampir di bioskop :)

      Hapus