TOMORROWLAND (2015)

Tidak ada komentar
Film ini punya ambisi kuat untuk menjadi besar. Tidak saja dilihat dari bujetnya yang mencapai $190 juta ($280 juta jika ditambah biaya marketing), tapi juga materi promosi yang dipenuhi rahasia. Tomorrowland nampak seperti secret project yang siap menjadi salah satu blockbuster paling spektakuler tahun ini. Setelah menonton filmnya saya merasa ambisi tersebut juga kental terdapat dalam ceritanya. Naskah tulisan Damon Lindleof dan Brad Bird memasukkan beragam pokok bahasan seperti harapan, impian hingga berbagai kritik sosial. Berpadu dengan biaya mahal, tujuan film ini jelas: menciptakan sebuah tontonan yang tidak hanya megah serta indah dari segi visual tapi juga emosi. Filmnya dibuka dengan adegan Frank Walker (George Clooney) bicara kearah kamera sambil sesekali disela oleh suara Casey (Britt Robertson). Topik pembicaraan menunjukkan adegan ini sejatinya merupakan konklusi film, yang juga secara tidak langsung memberi tahu bahwa Tomorrowland akan berakhir bahagia.
Sebuah film yang dibuka dengan adegan seperti itu pastilah berfokus pada proses menuju ke ending daripada konklusinya yang sudah bisa ditebak. Tomorrowland juga seperti itu. Daripada mengajak penonton menebak-nebak akhir dari segala konflik, Brad Bird membawa kita menelusuri perjalanan karakter-karakternya menemukan makna harapan serta impian. Casey memang seorang gadis yang selalu memiliki harapan dan berpikir positif. Sifat yang sama juga dimiliki oleh Frank, setidaknya saat ia kecil dan mati-matian membuat sebuah jet-pack yang mengingatkan saya pada film The Rocketeer. Ditambah kejeniusan mereka, hal itulah yang membuat seorang gadis keci misterius bernama Athena (Raffey Cassidy) memberi sebuah pin pada keduanya. Bukan pin biasa, karena disaat memegang benda tersebut mereka bisa tiba-tiba berpindah ke sebuah tempat misterius yang diberi nama "Tomorrowland". 
Jadi seperti apa sesungguhnya "Tomorrowland" yang misterius ini? Tomorrowland baik sebagai judul film maupun nama tempat daam filmnya sama-sama menebar misteri pada penonton. Kita dibuat menanti-nanti keajaiban seperti apa yang akan hadir sebelum akhirnya dibuat kecewa karena baik tempat itu ataupun filmnya sendiri bukan hal yang spesial meski sama-sama dibuat dengan niatan baik. Kesan ironis terasa begitu kuat saat menonton film ini. Ceritanya berulang kali mengusung pesan untuk selalu berpikir positif, karena dengan itu setidaknya harapan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik bisa bertambah meski hanya sepersekian persen. Tapi hasil akhir filmnya sendiri membuktikan bahwa impian besar maupun berpikir positif saja tidak cukup. Jangan dulu membicarakan kualitas yang pasti akan berbeda-beda menurut tiap orang. Secara pendapatan, domestic opening yang hanya $41.7 juta merupakan suatu kegagalan. 

Ambisi untuk menyajikan jalinan kisah uplifting yang akan menggugah penontonnya lewat perjalanan penuh emosi positif pun pada akhirnya terasa datar. Tomorrowland terus menerus mengajak penonton menerima pesan yang terkandung untuk berpikir positif tanpa sekalipun berhasil membawa kita secara langsung merasakan emosi yang coba disampaikan. Film ini ibaratnya seorang guru yang menyampaikan materi pelajaran pada murid (baca: penonton) tapi hanya menjejalkan teori demi teori tanpa pernah melakukan praktek langsung. Para murid pun pada akhirnya hanya sebatas tahu, tapi tidak benar-benar memahami secara mendalam. Jangan salah, Brad Bird sesungguhnya telah berhasil memberikan petualangan yang cukup menyenangkan lewat film ini. Pengemasan dunia yang megah serta trio karakter utama yang mudah disukai khususnya Casey sang gadis jenius tapi sering bertingkah tolol (what?) merupakan "teman" perjalanan menyenangkan bagi penonton. Tapi dengan segala ambisi itu Tomorrowland seharusnya lebih dari sekedar film ringan yang menyenangkan. 
Tidak hanya kegagalan menyajikan emotional ride, film ini juga terbentur oleh ambisi lain berupa konsep-konsep tinggi yang sama sekali tidak berhasil direalisasikan. Penonton bakal berjumpa dengan banyak hal, mulai dari konsep dimensi paralel penuh rahasia-rahasia terselubung hingga mesin berteknologi canggih yang sanggup melakukan hal-hal tak terbayangkan. Tapi apa daya, Brad Bird nampak kewalahan "meladeni" hasrat besar seorang Damon Lindelof dalam naskahnya. Jika anda familiar dengan serial Lost yang juga ditulis Lindelof, pastinya anda juga akan familiar dengan high concept penuh unsur-unsur di dalamnya yang tidak kesemuanya dapat ditampilkan secara maksimal. Berbagai macam ide besar itu masih ditambah dengan keinginan menciptakan narasi penuh perasaan. Sebuah niatan yang bagus sesungguhnya, tapi terlalu berat untuk bisa ditangani oleh Brad Bird. Alhasil penuturan plot seringkali keteteran, terasa acak-acakan. 

Karakter-karakternya memang jadi salah satu penyelamat. Tidak ada akting luar biasa disini, tapi masing-masing pemain sanggup tampil dalam porsi yang cukup untuk membuat karakter mereka mudah disukai penonton. George Clooney cukup bermodalkan kharisma kuat berhasil membuat Frank sebagai pondasi. Tanpa kharisma Clooney, bisa saja filmnya turut melemah. Sedangkan Raffey Cassidy punya ekspresi datar yang sempurna sebagai droid canggih yang menyiratkan adanya emosi layaknya manusia dalam hati. Patut disayangkan kegagalan film ini memunculkan emosi kuat membuat sub-plot hubungan antara Frank dan Athena terlucuti potensinya. Padahal klimaks film diakhiri dengan konklusi yang menyoroti mereka daripada Casey. Britt Robertson sebagai Cassey sendiri sanggup menutupi kekurangannya dalam berekspresi (sering terasa seperti aktris sinetron) dengan penghantaran komedi memikat. Casey pun jadi mudah disukai, karena penonton (khususnya pria) mana yang tidak menyukai karakter gadis cantik tapi sering bertingkah lucu cenderung bodoh?

Verdict: Sebagai sebuah film tentang mimpi dan imajinasi dengan banyak konsep ide, Tomorrowland terlalu flat, terlalu ringan seperti animasi hiburan untuk anak-anak.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar