TESTAMENT OF YOUTH (2014)

Tidak ada komentar
Kandungan cerita dalam Testament of Youth mempunyai segalanya untuk menjadi sebuah memoir perang emosional. Naskah Juliette Towhidi yang merupakan adaptasi memoir berjudul sama karya Vera Brittain menjangkau begitu banyak sisi, mulai dari romansa, persahabatan, hingga kisah kemanusiaan. Sebuah drama mengenai Perang Dunia I terbagi menjadi dua: tragedi dan kebahagiaan ajaib. Memilih yang manapun sama-sama menuju kearah sajian dramatis nan menyentuh. Sutradara James Kent juga tampak begitu menghormati memoir Vera Brittain, itu bisa serta merta kita rasakan. Dia memperlakukan tiap karakter dengan penuh perasaan, mengemas interaksi diantara mereka layaknya kenangan berharga. Semakin terasa indah disaat sinematograger Rob Hardy menggunakan filter warna yang lembut, membiarkan alam lengkap dengan kilauan cahaya matahari seolah melambai perlahan pada kita.

James Kent berusaha tampil puitis lewat visual cantik dan narasi yang seringkali berupa rangkaian sajak puisi tulisan Vera Brittain (Alicia Vikander) ataupun kekasihnya yang berada di medan perang, Roland (Kit Harington). Saya tidak mempermasalahkan pilihan tersebut, lagipula saat harus memindahkan setting ke rumah sakit, Kent bersedia menanggalkan keindahan itu untuk diganti dengan horor tak menyenangkan berupa tumpukan mayat. Mungkin mereka yang telah meregang nyawa itu jauh lebih beruntung daripada para kompatriotnya yang harus menderita rasa sakit begitu besar, entah karena lubang bekas luka tembak atau ada bagian tubuh yang hancur. James Kent paham betul cara membangun suasana lewat gambar dan kapan saat suasana tersebut harus diganti. Masa tanpa perang dan romansa Vera dan Roland disajikan lewat warna lembut yang cerah, sebaliknya masa perang dipenuhi warna gelap yang tajam. Maksudnya adalah untuk memberikan komparasi ekstrim antara situasi yang bertolak belakang tersebut.
Tapi dengan semua itu, Testament of Youth tetap berakhir sebagai penyia-nyiaan kekuatan materi dasar bagi saya. Selain cerita dan karakter, ada satu hal mendasar yang teramat penting untuk ditampilkan supaya penonton bisa ikut terbawa perasaannya. Hal penting itu adalah waktu atau momen. Kita perlu tahu kapan suatu hal terjadi untuk bisa terikat dalam kejadian terebut Tanpa adanya setting waktu yang definitif, penonton akan kesulitan merasakan substansi suatu drama. Film ini gagal mengemas hal tersebut. Saya tidak tahu pasti sudah berapa lama Verda dan Roland berkenalan, lalu berapa lama mereka berpisah di medan perang, kapan jarak waktu antara momentum satu dan lainnya, begitu seterusnya. Saya tersesat pada dimensi waktu film ini. Mungkin hal ini dikarenakan transformasi yang tidak mulus dari baris kalimat dalam buku menjadi narasi visual. 

Cukup dengan satu atau dua kalimat yang menyuratkan "kapan", narasi dalam memoir bisa dijembatani. Tapi film tidak demikian. Harus ada jembatan yang lebih nampak. Biasanya diakali dengan penggunaan sebaris tulisan. Cara lainnya adalah yang digunakan Richard Linklater dalam Boyhood (review). Tidak ada jembatan antar waktu, tapi melihat perubahan fisik karakternya kita tahu pasti kapan saat waktu hanya berlalu sesaat, kapan yang dalam hitungan tahun. Tanpa adanya pengetahuan mengenai dimensi tersebut, saya pun tidak merasakan sisi emosional dalam film ini. Bagaimana bisa hadir rasa simpati jika saya tidak mendapat petunjuk sudah berapa lama Vera dan Roland berpisah? Apa yang saya tahu akhirnya terbatas pada yang saya lihat. Keduanya berkenalan, lalu jatuh cinta namun harus berpisah setelah beberapa hari. Kemudian bertemu lagi dalam kondisi Vera diterima di Oxford, tujuan yang sama dengan Roland. Namun meletusnya Perang Dunia I memisahkan keduanya disaat Roland terjun ke medan perang. Vera yang merasa tidak tenang akhirnya memilih menjadi perawat sukarelawan, mengesampingkan impiannya untuk belajar di Oxford. 
Screentime romansa Vera dan Roland amatlah sedikit. Bahkan setelah keduanya berpisah, penonton hanya diajak melihat Vera, sedangkan Roland otomatis menghilang. Lalu pada bagian mana saya harus merasa peduli pada hubungan mereka berdua? Tentu kita melihat bagaimana Vera merasa tidak tenang karena mencemaskan Roland, tapi itu saja tidak cukup. Sebelumnya harus sudah ada pondasi kuat untuk hubungan mereka berdua. Tapi layaknya adat penuh sopan santun pada berbagai period drama yang bagi saya dingin dan kaku, pembangunan romansa keduanya pun terasa seperti itu. Mereka saling bertukar puisi, saling berbicara, saling tersenyum, tapi tidak ada kehangatan yang membuat saya percaya kekuatan cinta mereka memang begitu besar. Setidaknya Vera adalah sosok yang menarik. Pada awal film kita melihatnya sebagai wanita keras kepala yang tidak segan menetang sang ayah demi dapat berkuliah di Oxford. 

Kemudian perang datang membawa duka, tragedi dan banyak aroma kematian. Selalu membawa penonton dekat dengan Vera, observasi terhadapnya pun terasa lengkap. Perubahan perlahan yang ia alami dari sebelum hingga pasca peperangan tertangkap jelas. Bagaikan gradasi warna yang berubah secara halus, terasa natural pula perubahan yang dialami Vera. Alicia Vikander sanggup memanggul beban yang cukup berat sebagai Vera. Kehadirannya memancarkan pesona kemandirian seorang wanita yang teguh di luar namun dalam hatinya terjadi pertikaian internal yang kompleks. Paruh akhir saat perang telah usai dan Vera sempat mengalami breakdown adalah pertunjukkan terbaik sang aktris. Kehampaan yang ia munculkan berhasil membuat saya bertanya dalam hati, "lalu apa yang tersisa dalam kehidupannya?" Paruh akhir memang momen terbaik film ini. Emosi yang telah memuncak ditambah kompleksitas persepsi pada peperangan muncul disini. Begitu menyegarkan dan terasa lebih kaya, tapi sebuah aspek positif yang terlambat hadir.

Verdict: Nyaris sempurna dalam membangun suasana lewat sinematografi, tapi membuang percuma segala potensi kekuatan ceritanya. Keindahan kacau dan minim emosi maksimal yang seharusnya sering terasa.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar