THE AGE OF ADALINE (2015)

1 komentar
Film dengan konsep seperti The Age of Adaline sebenarnya bukan merupakan hal yang benar-benar baru saat ini. Kisah tentang seseorang yang tidak bisa bertambah tua pernah dieksplorasi secara lebih mendalam dan filosofis oleh The Man from Earth, sedangkan selipan romansanya mengingatkan pada The Curious Case of Benjamin Button. Kisahnya mengangkat kehidupan Adaline Bowman (Blake Lively) yang lahir pada tahun 1908. Pada usia 29 tahun, ia mengalami kecelakaan dan tenggelam di sungai yang membeku. Suhu dingin dalam sungai ditambah sambaran petir yang menyusul kemudian "menghidupkan kembali" Adaline. Tapi karena dua hal tersebut ia tidak lagi bertambah tua untuk selamanya. Karena kondisinya itu, dia sempat diburu oleh FBI. Adaline pun memutuskan untuk terus berpindah tempat tinggal serta identitas setiap 10 tahun demi menghilangkan kecurigaan. Bukan hal mudah untuk dilakukan, apalagi Adaline harus meninggalkan puterinya, Flemming (Ellen Burstyn) yang terus bertambah tua, meski keduanya tetap meluangkan waktu untuk bertemu sesekali.

Sebagai eksplorasi terhadap keabadian usia Adaline, film ini sebenarnya tidak terlalu memiliki kedalaman. Dengan kondisi semacam itu pastilah banyak konflik rumit yang harus ia lewati. Tapi tidak banyak benturan-benturan yang digali oleh naskahnya. Sebaliknya, untuk seseorang dengan kondisi dan cara menjalani hidup yang abnormal, kehidupan Adaline nampak terlalu nyaman. Dia tidak menemui kesulitan untuk bertemu dengan Flemming yang notabene adalah satu-satunya kerabat dekat yang ia miliki. Konflik paling besar hanyalah disaat ia harus terus kabur untuk menghindari kejaran pihak-pihak seperti FBI. Namun seperti yang diungkapkan Flemming, mereka yang mengejar Adaline telah lama mati, sehingga ancaman pun tidak lagi ada. Esensi cerita mengenai manusia sebagai makhluk mortal pun tidak dipaparkan lebih dalam. Usaha mengemas unsur fantasi yang ada secara lebih scientific lewat berbagai penjelasan ilmiah mengenai kondisi Adaline bukannya memperkuat tapi justru melemahkan cerita disaat sentuhan sains itu pun tidak terasa logis.
Untungnya, seiring durasi berjalan The Age of Adaline lebih banyak berfokus pada romansa dilematis yang harus dijalani karakternya. Sebagai drama kehidupan film ini memang terasa lemah, tapi sebagai pemaparan romantika, "daya bunuhnya" jauh lebih kuat. Selalu hidup berpindah demi merahasiakan identitas, menghalangi Adaline dalam menjalin hubungan percintaan. Baginya, cinta jadi tidak bermakna saat seseorang tidak bisa menghabiskan masa tua bersama pasangannya. Pada era 60-an Adaline pun diceritakan pernah menjalin hubungan dengan seorang pria tapi ia memilih pergi saat mengetahui pria tersebut berniat melamarnya. Setelah sekian lama Adaline kembali jatuh cinta, kali ini pada Ellis (Michiel Huisman) yang ia temui pada sebuah pesta perayaan tahun baru. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk jatuh cinta. Tentu hubungan itu tidak berjalan mulus karena Adaline masih terjebak dalam dilema antara kejujuran perasaan dengan sumpahnya untuk terus pergi dari satu kehidupan menuju kehidupan yang baru.
Dari sini daya pikat filmnya mulai terasa. Meski tidak memberikan eksplorasi lebih jauh, unsur fantasi yang ada telah menjauhkan film ini dari romansa-romansa klise yang sudah banyak bertebaran. Tapi kekuatan sebenarnya dari kisah cintanya berasal dari kedua tokoh utama. Adaline dan Ellis sekilas adalah pasangan yang cocok. Sepasang wanita cantik dan pria tampan merupakan kombinasi sempurna untuk mencuri hati para penonton. Ellis tidak diberikan karakterisasi mendalam, tapi sosoknya jelas memberikan kesan seorang pria baik, dan itu sudah cukup. Sedangkan Adaline menjadi tempat bagi Blake Lively (yang terlihat mirip Cate Blanchett) untuk memberikan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Pengalaman hidup selama ratusan tahun membuatnya menjadi seorang wanita yang cerdas dan tangguh. Sang aktirs mampu menghadirkan kedua aspek tersebut. Tapi yang paling memikat adalah saat unsur kedewasaan sukses disuntikkan Blake Lively kedalam sosok wanita muda yang ia perankan. Tentu dengan kondisinya, usia psikologis Adaline akan tampak lebih tua dibandingkan usia kronologis yang nampak dari penampilan fisiknya. Akting ditambah dukungan make-up dan kostum berhasil mewujudkan kesan tersebut. 

Satu lagi sajian memikat dari departemen akting adalah Harrison Ford. Menanggalkan sosok pria tangguh, Ford bertransformasi sebagai pria tua yang kembali rapuh saat dihadapkan dengan kenangan masa lalu yang masih terus membekaskan luka dalam hatinya. Sebenarnya pengenalan karakter William yang diperankan oleh Ford terasa klise. Dimaksudkan sebagai twist, tapi sudah bisa "tercium" sebelum sepenuhnya dipaparkan. Tapi berkat akting sang aktor, cerita klise itu justru berhasil menambah sentuhan emosi bagi ceritanya. Ekspresinya yang penuh kerapuhan, serta bagaimana ia menceritakan refleksi masa lalu menyiratkan rasa sakit yang bisa ikut penonton rasakan. Disaat karakter Adaline dengan keabadian dihadapkan pada masa depan yang tanpa batas, William sebaliknya, dia masih terjebak dalam kenangan masa lalu. The Age of Adaline memberikan konklusi yang klise, tapi berkat kepedulian yang dirasakan pada masing-masing karakter, saya dengan senang hati menerima itu dan tidak menganggapnya sebagai satu hal yang dipaksakan. 

Verdict: Sebagai observasi kehidupan, The Age of Adaline tidak memberikan kompleksitas yang menjadi potensinya. Tapi dalam tataran romansa, film ini menghadirkan dinamika emosi kuat khususnya berkat penampilan simpatik dari Blake Lively dan Harrison Ford. I love this epic fantasy-romance tale and I love Adaline Bowman too.

1 komentar :