ANT-MAN (2015)

1 komentar
Guardians of the Galaxy adalah resiko besar yang diambil Marvel, tapi Ant-Man dengan ukuran tubuh sekecil semut punya resiko jauh lebih besar. Proyek yang pada awalnya menjanjikan karena keterlibatan Edgar Wright berubah jadi meragukan setelah sang sutradara pergi dengan alasan perbedaan visi dengan pihak Marvel. Mudah untuk ditebak bahwa perbedaan itu berasal dari keinginan Marvel untuk mengaitkan tiap-tiap film mereka, dan bagi sutradara independen seperti Wright, sebuah stand alone movie tentunya lebih mendukung kebebasannya bereksplorasi. Sebagai pengganti Wright, direkrutlah Peyton Reed (Yes Man). Sedangkan Adam McKay yang menulis naskah dua film Anchorman dan Paul Rudd menulis ulang naskah yang sebelumnya disusun oleh Wright bersama Joe Cornish. Apa yang dipikirkan Marvel saat menunjuk nama-nama tersebut? Edgar Wright memang sutradara komedi, tapi Reed dan McKay punya gaya komedi yang jauh berbeda, kalau tidak boleh dibilang lebih "tasteless".

Sama seperti namanya, Ant-Man adalah superhero dengan kemampuan mengecilkan tubuh seukuran semut dan bisa berkomunikasi dengan serangga tersebut. Sebuah nama dan kemampuan yang terdengar konyol, bahkan tanpa harus membandingkannya dengan baju besi Tony Stark atau Mjolnir milik Thor. Tanpa kejeniusan Edgar Wright dalam membangun "lelucon sadar diri", film ini bisa berakhir konyol pula (in a bad way). Tapi begitu dimulai, Ant-Man tidak pernah berhenti mengejutkan saya dari awal hingga akhir, dalam segala aspek yang dimilikinya. 

Siapa sangka film ini dimulai dengan lambat, mengajak penonton berkenalan pada tiap-tiap karakternya secara perlahan? Dibuka dengan perpecahan antara Hank Pym (Michael Douglas) dengan S.H.I.E.L.D yang berusaha mencuri formula penemuannya pada 1989, Ant-Man kemudian melompat ke masa kini. Scott Lang (Paul Rudd) baru saja usai menjalani hukuman penjara yang harus ia jalani setelah melakukan pencurian di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Aksi Scott membobol sistem keamanan yang nampaknya mustahil ditembus itu menarik perhatian Hank Pym. Sang ilmuwan lalu meminta bantuan Scott dengan kemampuannya tersebut guna mencuri baju Yellowjacket dari mantan muridnya, Darren Cross (Corey Stoll) sebelum baju tersebut digunakan untuk kejahatan. Untuk melakukan pekerjaan tersebut, Scott harus mengenakan kostum yang memberikannya kekuatan sebagai Ant-Man. 
Awal yang lambat tanpa adegan aksi eksplosif layaknya film-film Marvel lain memberikan waktu bagi penonton untuk bisa menyukai Scott Lang selaku karakter utama. Pembawaan likeable Paul Rudd mampu membuat saya meyakini bahwa dirinya adalah seorang pria baik dalam situasi menghimpit memberikan kekuatan bagi drama "hubungan ayah-anak"-nya. Film ini melakukan pendekatan serupa layaknya Iron Man pertama pada Tony Stark dimana butuh waktu beberapa lama sebelum Scott mengenakan kostum Ant-Man. Pilihan yang beresiko, apalagi mengingat minimnya adegan aksi pada paruh pertama film. Untuk melakukan itu butuh karakter menarik atau cerita kuat. Eksplorasi Ant-Man akan kedua hal tersebut tidaklah terlalu kuat, namun masih cukup memberikan tenaga berbuah hiburan menyenangkan sehingga saya tidak sedikitpun bosan sebelum petualangan utamanya hadir. Karakter Hope (Evangeline Lily) mungkin tidak digali mendalam, tapi sosoknya menghadirkan satu lagi karakter wanita tangguh dalam film Marvel yang mungkin bakal lebih terasa efeknya pada film-film mendatang.


Kemudian filmnya sampai pada sajian utamanya saat Scott Lang mulai menyusut, membentuk pasukan semut dalam jumlah besar, terbang kesana kemari bersama semut yang ia beri nama Ant-Thony, lalu melawan sosok-sosok dengan ukuran jauh lebih besar termasuk salah seorang anggota Avengers yang muncul sebagai kejutan (meski sebuah klip televisi sudah memberikan spoiler akan kemunculannya). Akhirnya daripada terasa "cupu", Ant-Man yang mungil justru terkesan badass saat beraksi menghajar lawan-lawannya. Disinilah ungkapan "size doesn't matter" benar-benar dibuktikan. Ukuran sang superhero boleh saja kecil. Begitu pula skala film yang hanya bermain-main di ranah heist movie tentang usaha menyusup ke suatu gedung untuk melakukan pencurian, tapi daripada terasa anti-klimaks, film ini memberikan perspektif baru dalam penyajian film aksi superhero. Efek CGI bukan lagi untuk mengeksploitasi ledakan, tapi demi mengemas viualisasi "dunia mini" sebaik mungkin. Bukan pesawat raksasa atau angkasa luas yang menjadi arena, melainkan sela-sela karpet, rumput, sampai lintasan mainan kereta.
Dengan semua pemandangan itu, mudah bagi Ant-Man untuk menjadi sajian paling aneh dari Marvel. Tanpa mengecilkan keberhasilan seorang Peyton Reed, bagi penonton yang sudah familiar pasti akan merasakan bahwa pengaruh Edgar Wright masih amat kuat khususnya dalam sisi komedik. Lihat saja klimaksnya saat berbagai benda sampai hewan mendadak berubah ukuran. Namun paling terasa adalah saat pada beberapa momen kita melihat jump cut ala-Wright yang secara rutin menghiasi "Cornetto Trilogy" miliknya. Peyton Reed mampu mengemas semua itu dengan cukup baik, dimana hal itu layaknya sebuah "penghormatan" bagi Edgar Wright. Tapi Ant-Man yang dipenuhi nama-nama besar komedi baik di depan maupun balik layar harusnya mampu tampil lebih menggelitik. Ironisnya, kekurangan ini pun diakibatkan oleh pengaruh Wright. Seperti yang saya tuliskan di atas, biar bagaimanapun gaya melucu Wright dan Reed amat berbeda. Meski naskahnya sudah ditulis ulang oleh McKay dan Rudd, tidak semuanya bisa disesuaikan dengan gaya Reed. Sang sutradara nampak masih kurang familiar dengan beberapa gaya komedi filmnya sendiri.

Satu lagi keberhasilan Ant-Man datang dari sebuah faktor yang seringkali mengurangi kualitas sebuah film Marvel secara keseluruhan (ex: Iron Man 2 & Avengers: Age of Ultron), yakni membuat stand alone sambil secara bersamaan mengembangkan Marvel Cinematic Universe. Ant-Man merupakan salah satu film Marvel yang paling sukses melakukan hal tersebut. Pertama, ceritanya mampu terasa terkait dengan film Marvel lain tanpa merusak pondasi utama. Beberapa easter eggs tidak hanya berhasil memberikan hiburan bagi para fans (termasuk tease tentang keberadaan Spider-Man), tapi juga menciptakan bentangan cerita lebih luas bagi MCU. Kedua, seperti Guardians of the Galaxy yang membawa dunia Marvel ke ranah cosmic, film ini pun berhasil mengajak kita melihat "dunia lain". Tidak perlu jauh-jauh ke luar angkasa, karena dunia tersebut masih berada di Bumi, hanya saja seringkali luput dari perhatian kita. 

Verdict: Satu lagi perjudian yang berhasil dari Marvel Studios. Ant-Man adalah sajian mereka yang paling aneh dan beresiko tapi berakhir menyenangkan sekaligus menyegarkan. Berhasil untuk berdiri sendiri maupun sebagai jembatan penghubung dengan film-film lain. 

1 komentar :

  1. keren and bad ass,jujur sebelum film ini dirilis saya mempunyai feeling yg bad ttg film ini,namun setelah saya menontonnya film ini super bgt,kocaknya,aksinya dan keterlibatanya dgn Avengers atau film" MCU lainya.seperti salah satu dialog Hank Pym yg berkata "para Avengers mungkin sedang sibuk meratakan kota dan bangunan" membuat saya yakin klau sosok Hank bukanlah sosok yg begitu menyukai Avengers dkk.dan juga pastinya post-creditnya yg ke dua yg membuat saya tertarik.pokoknya film ini keren dah!!!

    BalasHapus