MENCARI HILAL (2015)

5 komentar
Masalah terbesar dalam film Indonesia bertemakan religi adalah kesan menggurui yang mati-matian dimasukkan oleh pembuatnya lewat pesan-pesan moral. Bisa saja film tersebut berakhir bagus, tapi tidak akan menjadi penting. Bagi saya, sebuah film layak disebut "penting" saat mampu mengangkat suatu kisah yang relevan dengan isu sosial pada suatu tempat. Bicara soal agama, isu terbesar yang hingga saat ini masih marak memunculkan polemik adalah perbedaan dan toleransi. Dalam kondisi semacam itu, sajian yang menggurui akan percuma, apalagi disaat kisahnya terlalu memihak (bahkan mengagungkan tanpa cela) pada suatu paham atau suatu tokoh. Ditambah lagi banyak filmmaker mengatasnamakan karya sejenis sebagai tontonan "pembangun moral bangsa". Perfilman religi negeri ini perlu film yang tidak memihak dan sanggup menyajikan pesannya secara halus sehingga penonton dengan ikhlas bersedia mencerna apa yang ingin disampaikan. 

Tapi siapa sangka film yang saya nantikan itu akan lahir dari tangan seorang Ismail Basbeth. Kenapa tidak saya sangka? Mari tengok karyanya sebelum ini seperti film pendek Shelter sampai debut film panjangnya, Another Trip to the Moon (review). Kata-kata seperti "eksperimental", "meditatif", atau "arthouse" akan bermunculan, tapi pastinya tidak akan mengira sineas ini membuat film religi. Mencari Hilal yang naskahnya ditulis bertiga oleh Ismail Basbeth, Salman Aristo dan Bagus Bramanti punya sosok sentral bernama Mahmud (Deddy Sutomo), seorang pria 60 tahun yang memegang teguh prinsip Islam dalam menjalani hidupnya. Mahmud selalu menegakkan prinsipnya itu pada kondisi apapun termasuk dalam berdagang meski ia harus menerima cercaan dari pedagang-pedagang lain. Tidak segan pula Mahmud menegur umat muslim yang dianggapnya tidak menjalankan kaidah Islam walau lagi-lagi respon negatif lebih sering diterima. 
Tapi dengan keteguhan hati dan pemahaman agama yang kuat, Mahmud tetap bukanlah sosok sempurna. Hubungannya dengan sang putera, Heli (Oka Antara) sudah lama renggang, apalagi sejak Heli yang seorang aktivis tidak pernah lagi pulang ke rumah. Ditambah lagi, Heli bukanlah orang yang taat agama. Dia tidak menjalankan solat, tidak pula berpuasa. Heli sendiri memendam kemarahan pada sang ayah yang baginya telah menelantarkan keluarga demi ibadah dan syiar agama. Mencari Hilal memulai pencariannya, bergerak sebagai road movie disaat Mahmud merasa terganggu oleh berita bahwa pemerintah mengeluarkan dana 9 miliar untuk sidang Isbat. Dari situ ia teringat kebiasaan lamanya saat masih di pesantren dulu: melakukan perjalanan untuk melihat hilal. Dengan kondisi kesehatan yang makin memburuk, Mahmud akhirnya ditemani oleh Heli yang terpaksa ikut demi mendapatkan paspor dari kakaknya, Halida (Erythrina Baskoro). 

Pada film religi yang (jika boleh disebut) mainstream, karakterisasi Mahmud dan Heli bisa menjadi sekedar hitam dan putih. Mahmud bisa menjadi sosok kiai penuh kebaikan tanpa cela, lalu perjalanan ini bakal perlahan merubah Heli menjadi pemuda yang taat beribadah. Tapi di tangan Ismail Basbeth, keduanya sama-sama memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Mereka menyimpan pertanyaan masing-masing, terdapat kegundahan yang menjadi ganjalan untuk menerima satu sama lain. Destinasi awal perjalanan memang adalah mencari lokasi untuk melihat hilal, namun pada akhirnya mereka menemukan lebih dari itu. Esensi dari road movie semacam ini adalah pengalaman-pengalaman yang ditemui oleh karakternya. Pengalaman itu akan memberikan pelajaran bahkan atas sesuatu yang pada awalnya tidak berusaha mereka cari, sama seperti Mahmud dan Heli yang seringkali tersesat, tidak tahu arah dalam pencarian mereka.
Beberapa konflik berkaitan dengan isu sensitif disatukan benang merah bernama "perbedaan" yang ditemui karakternya dimanfaatkan oleh Ismail Basbeth untuk menyuarakan pesan film ini. Tapi pesan itu disampaikan tidak seperti seorang pemuka agama yang sedang berkhotbah. Sebagai penonton saya diposisikan secara netral. Fakta bahwa kedua tokoh utamanya mewakili sisi yang bertolak belakang semakin memperkuat kenetralan itu. Baik Mahmud dan Heli tidak ada yang lebih dominan. Mereka punya porsi sama dalam menanggapi tiap permasalahan, memberikan dua perspektif berbeda kepada penonton. Kesan netral itu penting, karena dengan begitu saya tidak pernah merasa dipaksa untuk memihak. Basbeth memaparkan konflik, menyampaikan isi pikirannya tapi tetap membiarkan penonton memunculkan aspirasinya sendiri. Saya tidak merasa terhakimi karena cara berututur tersebut, dan justru karena itulah pesannya dapat tersampaikan secara mulus. 

Tidak pernah juga saya mendapati film ini berlebihan mendramatisir cerita. Walau begitu dinamika emosinya kuat. Sama seperti caranya menyampaikan pesan, cara Mencari Hilal menyulut emosi juga dilakukan secara alamiah. Tidak ada paksaan supaya penonton merasa sedih, terharu atau marah. Momen-momen emosional hadir karena memang sudah sepantasnya itu terjadi sebagai sebuah respon natural karakter atas sebuah situasi, bukan manipulasi mendadak untuk "mempercantik" alur. Justru kesederhanaan itu menjadi kecantikan yang mengikat saya pada filmnya. Bicara soal "cantik", Mencari Hilal punya sinematografi memikat yang lagi-lagi berpijak pada kesederhanaan. Tidak perlu pemilihan warna unik atau golden hour berlebih. Keindahan gambarnya mengutamakan rasa, mendukung atmosfer dimana tiap frame merupakan perpaduan sempurna antara aktor dengan semesta sebagai panggung perjalanan mereka.

Kekuatan akting turut menjadi pondasi dengan chemistry kuat antara Deddy Sutomo dengan Oka Antara. Secara individu jelas Deddy Sutomo lebih menonjol. Kita bisa merasakan tiap keresahan dan bagaimana ia menderita saat mendapati konflik religiusitas. Tapi terlebih lagi adalah bagaimana tatapan matanya terhadap sang anak yang penuh kasih sayang tak terungkapkan. Oka Antara mulai mampu mencuri perhatian saat karakternya mulai memunculkan secercah rasa iba pada sang ayah. Jika anda pernah mengalami pertentangan dengan seorang ayah maka rasa tersebut bakal tersalurkan begitu kuat. Pada akhirnya semua terasa mengharukan disaat pencarian keduanya terhadap Hilal justru berujung pada penemuan yang lebih personal. Mereka menemukan satu sama lain. Senyuman berhiaskan air mata pun hadir melihat Oka Antara dan Erythrina Baskoro saling bersandingan di akhir.

Verdict: Mencari Hilal bertutur layaknya bagaimana seharusnya suatu agama/kepercayaan merasuk dalam diri manusia: sederhana tapi kuat, dan yang paling penting sama sekali tidak memaksa kita untuk menerimanya. Indah sekaligus tulus.

5 komentar :

Comment Page:
Ardian Sukma mengatakan...

sudah nonton Tanda Tanya-nya Hanung?

Nadia Amie mengatakan...

Sudah

Rasyidharry mengatakan...

Udah, dan lebih "cocok" sama Mencari Hilal :)

Raid Mahdi mengatakan...

nonton dimana bang? ane nonton rip dari Trans7, tapi kayaknya banyak scene bagus ter-cut :'(

Rasyidharry mengatakan...

Dulu nonton di bioskop. Memang, kalau di TV banyak adegan kena sensor karena dianggap terlalu "sensitif"